empat belas

65.5K 6.4K 121
                                        

Aku sudah pernah bongkar pasang cerita Nina-Leon entah berapa kali. Udah pernah ku-endingkan di wp juga. Tapi sekarang aku stuck 😭😭

Aku kayak lupa aku mau ngapain. Aku sedih 😫

Jadi kalau lama banget baru update, maapkan saya.... 😢😢

----------------------------

Aku masih berada di kamarnya, lebih tepatnya di atas ranjangnya Leon. Dia duduk menyender di kepala ranjang, sementara aku duduk menyender padanya, dan tangannya melingkari pinggangku.

Kami tidak ngapa-ngapain, beneran. Hanya ciuman dan peluk-peluk. Walaupun sejujurnya aku udah ngerasa gimana gitu, tapi dia tetap mampu menahan dirinya, dan aku merasa dia super cute.

Aku memainkan jemari tangannya dan mengusap lembut tato yang ada di jarinya, sementara kami mengobrol ringan.

Lalu telepon di kamarnya berbunyi. Aku mengernyit, baru sadar kalau ada telepon di kamarnya. Tanpa melepas pelukannya, Theo memencet tombol untuk mengangkat telepon dan suara Oliv membahana di ruangan ini.

"Ya?"

"Bang, makan malam. Jangan keasikan ena-ena sama kak Nina. Walaupun kamar abang kedap suara, tapi kalau ketauan bang Terry, abis kamu Bang. Abang kunci pintu kan?"

"Mulut nggak sekolah," gerutu Leon pelan, dan aku tertawa.

"Bentar, kita turun sekarang," kata Leon, lalu memencet salah satu tombol untuk memutuskan telepon. Aku berbalik dan mengecup pipinya lembut.

"Yuk, turun," katanya, dan aku mengangguk.

Aku bangkit dari ranjangnya, dan dia menyusulku.

"Kamarmu ada telepon?"

"Iya, setiap kamar ada. Biar gampang manggilnya. Derita rumah kebesaran."

Aku tertawa.

"Ribet banget ya punya rumah gede."

"Yup."

Leon menyisir rambutku dengan jemarinya, dan merapikan poniku, lalu mengecup ujung hidungku lembut.

"Yuk."

Leon mengamit tanganku, mengaitkan jemarinya dengan jemariku, lalu menggandengku turun ke ruang makan.

***

Di sinilah aku, duduk bersama semua anggota keluarga Barata di meja makan. Aku duduk diapit Leon dan Tante Anas. Di seberangku duduk Mbak Mitha yang diapit Bang Hari dan Oliv, sementara Om Jimmy duduk di ujung meja, di antara Tante Anas dan Oliv.

"Jadi gimana ceritanya kalian bisa jadian?" tembak Bang Hari tiba-tiba, bahkan sebelum aku menyuap sendok pertamaku.

"Ya gitu deh, Bang. Leon nembak, aku iya-in, jadian deh," jawabku.

"Dia nembak kamu? Ngomong apa si kaku ini?"

"Nggak usah dijawab, Nin. Pertanyaan nggak penting," kata Leon tiba-tiba. Bang Hari bukannya tersinggung, malah nyengir.

Nina and the Lion [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang