Tidak terasa sudah hampir sebulan aku berteman dengan Leon.
Berteman dengannya sangat menyenangkan. Serius. Dia mulai bisa bicara banyak denganku, tidak seirit dulu. Dia juga sangat sweet. Sejak malam nasi goreng gila itu, dia jadi rutin mengajakku makan malam dan mengantarku pulang. Saat dia tidak menjemputku, malamnya dia akan meneleponku hanya untuk memastikan aku sampai di rumah dengan selamat. Terry sampai terbahak-bahak saat aku cerita padanya. Katanya aku dan Leon kayak pacaran. Tapi pelototanku selalu berhasil membuat Terry diam.
Teman rasa pacar. Hah!!
Kalau tidak ingat si Leon ini cinta sama seorang cewek yang sampai sekarang aku nggak mau tahu siapa orangnya, mungkin aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri. Seriusan.
Sekarang saja rasanya tidak rela kalau nantinya dia punya pacar, terus dia sibuk sama pacarnya. Nanti aku gimana?
Lho, kenapa aku jadi kedengaran kayak istri tua yang nggak rela dimadu? Grr.
Aku meregangkan badanku dan berniat ke taman tempat nongkrongku di bridal ini. Aku mengambil ponsel, rokok, dan pemantik dari tas dan berjalan menuju taman.
Aku baru sadar, satu kotak rokok ini tidak habis-habis sejak dua minggu yang lalu, padahal biasanya aku menghabiskan satu kotak seminggu. Aku bukan perokok berat, tapi tetap saja, ini pencapaian besar. Semua gara-gara pria itu.
Aku duduk dengan santai menikmati semilir angin, berdua dengan rokokku, dan ponselku memutarkan lagu random dari playlistku.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukan ini. Merokok sendirian, menikmati hijaunya daun dan angin yang berhembus.
"Karenina?"
Sial. Baru juga mulai menikmati, Ibu Bos nongol.
Bu Maria mendekatiku, dan aku buru-buru mematikan rokokku yang masih separuh. Separuh!! Aku nangis.
Tapi mau tidak mau, soalnya Bu Maria kan tidak muda lagi. Nanti kalau dia jadi perokok pasif terus mati gara-gara aku, gimana?
"Lagi jenuh?"
"Sedikit, Bu. Cari angin bentar," jawabku sambil nyengir. Bu Maria manggut-manggut.
"Iya, jangan dipaksakan kalau lagi suntuk. Nanti hasilnya malah tidak maksimal," kata Bu Maria. Aku mengangguk setuju.
"Perkembangannya sudah sampai mana?"
Aku menjelaskan perkembangan pembuatan gaunku, yang didengarkan dengan seksama oleh Bu Maria dan sesekali beliau memberikan tanggapan dan masukan untukku.
Cukup lama kami mengobrol di sana, dan Bu Maria menyelesaikan obrolan kami begitu melihat jam tangannya.
"Sudah jam makan siang. Ibu pergi dulu, sudah janji makan siang dengan suami."
"Iya, Bu. Salam untuk Pak Arya."
"Terimakasih. Kamu juga makan siang sana."
Bu Maria berdiri dan berjalan ke arah pintu, namun di pintu dia berhenti.
"Lho? Leon kan? Ada apa ke sini?"
Aku mengejang kaget, berharap aku salah dengar, tapi sayangnya harapanku tidak terkabul. Suara itu, suaranya Leon.
"Tante Maria. Aku mau bertemu Nina."
"Nina? Oh, Karen? Silakan," kata Bu Maria. Raut wajahnya terlihat terkejut, namun beliau menyingkir dari pintu, memberi jalan kepada Leon. Begitu Leon melangkah keluar, Bu Maria tersenyum dan masuk kembali ke bridal, meninggalkan kami berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nina and the Lion [TERBIT]
ChickLitCerita sudah dihapus sebagian untuk kepentingan penerbitan meet Karenina, gadis 23 tahun dengan penampilan seperti anak remaja dan nggak bisa pasang sekat antara otak sama mulut. meet Leonardo, pemuda 23 tahun dengan penampilan seperti penculik ana...
![Nina and the Lion [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/127315767-64-k307442.jpg)