"Aku nggak nyangka, mantan tunangan kamu mulutnya rese," kataku akhirnya, saat kami sudah berada di mobil.
Leon menyetir mobilnya meninggalkan pelataran parkir mall dan membawanya melintasi jalan raya.
"Itu bukannya karena kamu yang pancing?"
"Heh!!" Leon tertawa sementara aku menggerutu. Tangannya meremas tanganku pelan dan mengecupnya. Aku langsung tidak jadi bete.
"Dia perempuan baik. Ibunya teman ibuku, dan dia teman Oliv."
"Dia suka sama kamu."
Leon diam, membuatku menatapnya penuh rasa selidik.
"Kamu udah tau kalo dia suka sama kamu?"
"Oliv yang bilang."
"Kirain kamu peka."
"Aku nggak peduli. Aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia."
"Aku nggak suka."
"Nggak suka apa?"
"Aku nggak suka ada perempuan yang suka sama kamu."
Aku melihat seulas senyum tipis menghiasi wajah Leon.
"Aku milikmu, Nina."
Dia sukses membungkamku. Aku langsung diam, tanpa tau harus bicara apa.
Rasanya saat ini aku ingin membawanya pulang dan menyekapnya di kamarku selama-lamanya. Oke, aku lebay.
Dia menghentikan mobilnya di depan pagar rumahku, namun dia belum membuka kunci mobil. Leon membuka seatbeltnya dan seatbeltku, lalu tangannya mengusap wajahku.
"Satu ciuman untuk mengakhiri kencan hari ini?"
"Oke," jawabku dengan wajah sumringah, dan tanpa menunggunya, aku maju dan menempelkan bibirku di bibirnya. Aku selalu menyukai aroma mint dari nafasnya, dan gesekan rambut halus di wajahnya memberikan sensasi geli untukku. Bibirnya yang lembut membuka dan mengulum bibirku perlahan, dan kami menikmati setiap momennya.
Saat kami menjauh dengan nafas agak terengah, Leon mengecup keningku dengan lembut.
"Yuk turun."
Leon membuka pintu, dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu bagiku. Dia membantuku turun, tanpa segan-segan memeluk pinggangku dan mengirimkan gelenyar ke seluruh tubuhku. Dengan hati-hati dia menuntunku ke depan pintu rumahku, lalu sebelum membuka pintu rumah, dia mengusap rambutku dengan lembut.
"Good night, Nina."
"Good night, Leon."
***
Aku melepas kacamata bundarku dan memijat keningku perlahan. Baru tadi pagi aku diberi tahu oleh Bu Maria kalau ada perubahan rencana. Pernikahan yang seharusnya akan diadakan sekitar empat bulan lagi, akan dimajukan jadi bulan depan. Coba tebak apa alasannya? Serius, itu satu-satunya yang terlintas di pikiranku saat diberi tahu pernikahannya akan dipercepat. Apa lagi kalau bukan keburu bunting? Bang Hari tuh ya, bener-bener deh.
Masalahnya, semua desain gaunnya menyempit di bagian pinggang, dan pagi ini, tante Anas dan Mitha akan datang ke sini untuk diskusi lagi.
Jadi, saat ini aku sedang memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa kulakukan untuk gaun pengantin dan kebayanya sambil merokok di taman, ditemani Aline yang sedang menyantap gorengan sambil minum kopi. Aline tidak seperti Puji yang anti-rokok, tapi dia tetap saja mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung jika asap rokokku tanpa sengaja mengenainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nina and the Lion [TERBIT]
ChickLitCerita sudah dihapus sebagian untuk kepentingan penerbitan meet Karenina, gadis 23 tahun dengan penampilan seperti anak remaja dan nggak bisa pasang sekat antara otak sama mulut. meet Leonardo, pemuda 23 tahun dengan penampilan seperti penculik ana...
![Nina and the Lion [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/127315767-64-k307442.jpg)