Ini adalah bulan paling gila yang pernah aku alami - kedua setelah satu bulan sebelum pagelaran akhir yang kulakukan untuk mendapat gelar sarjanaku. Waktu itu aku bahkan tidak ingat apakah aku makan atau belum. Tapi kalau tidur, ya tetap tidur, karena kalau tidak, jahitanku ngawur semua. Tapi ya, nggak bisa tidur sebanyak hari normal. Paling dua-tiga jam, itupun udah mewah banget.
Kali ini, paling tidak ada Leon yang selalu mengingatkanku untuk makan, dan Terry yang selalu memaksaku tidur tepat waktu. Tapi tetap saja, sadar tidak sadar, berat badanku menyusut banyak. Terry sampai mengomel setiap dia memelukku saat tidur. Katanya seperti memeluk gelondongan kayu. Keras semua. Kurang ajar memang mulut sapi itu. Masa kembarannya yang cantik ini disamakan dengan kayu.
Saat akhirnya tiga minggu berlalu dan hari fitting pun tiba, aku baru bisa menghembuskan nafas lega, karena dua gaun pengantin dan satu gaun bridesmaid sudah beres. Aku tidak membuat gaun bridesmaid, tapi aku didaulat untuk menyesuaikan ukurannya dengan Oliv. Tambahan pekerjaan, tapi nggak susah sama sekali, jadi ya sudahlah.
Saat ini aku berada di studio, menunggu Kak Mitha dan Oliv datang ke studio, sambil ngemil kacang atom dan minum kopi. Tak lama kemudian, Oliv dan Kak Mitha datang berdua.
"Hai, Kak Nina," sapa Oliv penuh semangat. "Aku duluan yang fitting ya, soalnya aku ada pemotretan habis ini di Kemang."
"Lho? Kak Mitha gimana? Kamu tinggal?" tanyaku.
"Iya. Nanti Bang Hari jemput ke sini. Dia lagi otw, abis meeting."
"Oh. Ya udah, langsung deh. Kak, duduk dulu aja. Bentar ya," kataku sambil beranjak dari bangkuku, lalu mengajak Oliv ke ruang ganti. Tidak ada perubahan berarti pada tubuh Oliv, dan gaunnya jatuh dengan sempurna di tubuhnya yang memang terlihat bagus dengan pakaian apapun. Oliv berputar di depan cermin dengan senyum puas.
"Udah pas ya, nggak ada masalah," kataku, dan Oliv mengangguk. Setelah aku membantunya mengganti kembali pakaiannya, kami kembali kepada Kak Mitha, dan aku menemani kak Mitha untuk mencoba gaun pengantinnya, sementara Oliv sudah pamit pulang duluan, setelah memberi pesan kalau Tante Anas melarang Bang Hari dan kak Mitha berduaan saja di satu ruangan tertutup. Walaupun aku bingung dengan pesannya, toh udah telat banget. Kan udah jadi anak, ngapain dilarang-larang lagi. Tapi ya sudahlah, emak-emak nggak usah dilawan.
Tiga minggu dan perut kak Mitha sudah mulai sedikit membuncit. Dan anehnya tubuh kak Mitha malah mengurus. Aku mengusap daguku sambil melihat kak Mitha. Bagian bahunya longgar, bagian dadanya longgar. Kurusan dikit lagi, gaunnya langsung melorot. Nyangkutnya cuma di perut doang.
"Kayaknya h-1 kak Mitha harus datang lagi. Kak Mitha nggak bisa makan ya? Kok kurusan begini? Longgar semua ini, Kak."
Kak Mitha meringis penuh rasa bersalah.
"Morning sickness-ku parah. Waktu masih tinggal bareng Hari, biasanya dipelukin jadi enak. Tapi sekarang susah. Nggak mungkin juga minta Hari tiap hari pagi-pagi ke rumah pelukin aku kan?"
"Kak Mitha sekarang tinggal di rumah kan ya? Kenapa Bang Hari nggak ikut tinggal di rumah?"
"Nggak diizinin sama Mami. Katanya nanti malem-malem Hari bakal nyelinap ke kamarku."
Aku tertawa dan kak Mitha ikut tertawa. Aku membayangkan Bang Hari mengendap-endap ke kamar kak Mitha, lalu dijewer tante Anas pas ketahuan. Pasti lucu.
"Ya udah, sekarang kita coba gaun untuk resepsinya ya. Kemaren belum coba kan?" Kak Mitha mengangguk, lalu aku membantunya mencoba gaun untuk resepsi. Tadinya aku membuat gaun ini seperti gaun disney princess yang berlapis-lapis dan cukup berat, tapi sekarang kukurangi agar tidak terlalu berat karena akan dipakai untuk mingle juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nina and the Lion [TERBIT]
ChickLitCerita sudah dihapus sebagian untuk kepentingan penerbitan meet Karenina, gadis 23 tahun dengan penampilan seperti anak remaja dan nggak bisa pasang sekat antara otak sama mulut. meet Leonardo, pemuda 23 tahun dengan penampilan seperti penculik ana...
![Nina and the Lion [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/127315767-64-k307442.jpg)