Komentar dari kalian adalah ilmu untuk kita semua.
Ada typo? Layangkan komentar, guys!
Enjoy this Story
-
-
"Iya. Jadi tadi gue diajak Awvan jalan-jalan keliling kota, mumpung sekolah pulang cepat kan. Gue terima aja deh. Eh, dianya nggak mau udah, malah ketagihan, guenya yang bosan. Karena kebetulan dia bawa motor lewat depan jalan komplek, gue lompat deh tu dari motornya, langsung buru-buru lari sebelum dia ngejar gue. Untung aja dia nggak tau rumah gue di sini. Kalau iya, mungkin dia bakal nekat ngejar gue sampe ke sini. Hadeh, dasar tuh anak, kadang modus pdkt-nya malah nyeremin tau."
Raini tampak tak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap ungkapan Voila barusan. Tertawa? Takjub? Terkejut? Entahlah, intinya Raini kepalang pusing dengan tingkah teman-temannya yang segala rupa.
Kelvin di motornya mendengus sebal melihat obrolan mereka. Jika dua orang cewek sudah bertemu, citchat, sudahlah, meletuplah kegiatan membuihkan mulut, alias bercakap-cakap sampai mampus. Konon lagi dalam bentuk genk, berasa menonton acara talk show tanpa gangguan jeda iklan.
Malas, Kelvin kembali menyalakan mesin motornya yang sudah padam kedua kalinya. Tak ada yang ingin disampaikan lagi, Kelvin segera pamit pergi pada Raini.
"Gue balik dulu ya, Rai. See you next morning."
"See you!" balas Raini hampir melupakan keberadaan Kelvin karena Voila terus berbicara padanya.
***
Puh ..
Raini mengeluh ketika masuk ke dalam rumah. Bungkusan plastik yang ditentengnya ia letakkan di meja ruang tamu. Sampai beberapa jam ke depan, ia lupa sudah meletakkannya di sana.
Ketika malam tiba, saat tidak ada kegiatan menarik yang bisa dia lakukan, bergelung dengan selimut membungkus diri, barulah Raini teringat dengan bungkusan yang diberikan oleh cowok hoodie itu.
Lantas, ia turun ke bawah, menuju lantai satu. Bergegas ke ruang tamu, berharap menemukan bungkusan itu masih ada di sana tetapi nyatanya sudah hilang tak berbekas.
Sedikit mendongkol, Raini kemudian berlabuh ke ruang keluarga, bertemu dengan Mami yang sedang asyik menonton acara dangdutan di TV. Ia hendak menanyakan ke mana perginya bungkusan itu pada Mami. Biasanya, ibu-ibu lah yang paling sensitif dengan segala sesuatu yang ada di rumah, termasuk benda-benda sekecil apa pun.
"Mi."
"Iya? Ada apa, Rai?" Mami menyahut, tatapannya masih terpaku pada TV.
"Mami ada lihat bungkusan plastik di depan, nggak?"
"Bungkusan yang mana yah?" Mami sedikit menolehkan wajahnya, tapi mata tetap tertuju pada acara TV yang masih berlangsung.
"Itu lho, bungkusan warna hitam yang ada di meja ruang tamu. Tadi siang Raini taro situ."
"Oh, bungkusan itu. Mami pikir itu sampah, Rai, jadi Mami buang deh."
"Dibuang?" Raini terkejut. "Astaga! Kok dibuang sih, Mi? Kenapa nggak tanya dulu sama Raini?"
"Mana Mami tahu itu punyanya kamu."
"Terus Mami buang ke mana?"
"Tempat sampah di depan rumah lah, kayak biasa."
"Aduh .." Raini bergumam kesal, lantas beranjak pergi dengan bersungut-sungut.
"Mau ke mana kamu, Rai? Jangan bilang bungkusan itu mau kamu ambil lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐃𝐄𝐆𝐑𝐀
Ficção Adolescente(𝐒𝐄𝐆𝐄𝐑𝐀 𝐃𝐈𝐁𝐔𝐀𝐓 𝐔𝐋𝐀𝐍𝐆) (𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒) Setelah mengalami kecopetan ponsel, itu sudah lebih dari cukup membuat kehidupan Raini berangsur konyol dan penuh kejutan. Kelvin adalah sepupunya sekaligus teman sepermainannya. Mereka berdua se...
