Durasi 9 - Dia?

618 245 15
                                        

TYPO DAN EBI YANG TAK SEMPURNA MUNGKIN BANYAK BERTEBARAN DI SINI. JADI, MOHON KITA SALING BELAJAR😊 ADD BUTUH TANGGAPAN DAN SARAN KALIAN.


Enjoy this Story
Selamat Membaca
-
-


Sejurus kemudian, Raini melihat sepasang kaki berbalut sneaker tiba-tiba melangkah dari depan kelas menuju ke arahnya. Raini gemetar. Pemandangan yang sangat aneh. Saat semua kaki tengah teronggok diam di kolong meja, sepasang kaki itu justru tegas melangkah. Semakin dekat, lebih dekat, sangat dekat, dekat sekali, sudah dekat, dekat.

Sepasang kaki tersebut berhenti di samping meja Raini. Lima detik kemudian lutut kaki itu perlahan menekuk ke bawah, sembari membawa tubuh si pemiliknya kian terlihat dari kolong meja. Dan akhirnya, wajah tersebut terlihat oleh Raini.

"Apa yang sedang kamu lakukan di bawah sini?"

"Hiyahhh!!" Raini berseru menjerit, kaget tak terbilang. Tak sengaja kepalanya terantuk kuat laci meja. Bunyinya amat keras, hingga terdengar oleh siapa pun di dalam kelas.

Wajah itu?

"Kamu baik-baik saja?"

Raini sudah sempurna duduk di kursinya, sedikit menghindar dari orang yang mendekatinya. Wajahnya panik. Terkejut. "Lo?! Ngapain lo di sini?!"

Yang kelas tadinya lengang, langsung berubah ramai dalam waktu singkat. Tak hanya puluhan kepala, arah tubuh teman-teman Raini pun beranjak mengarah padanya. Membuat Raini jadi pusat perhatian di antara ketakjuban. Yang mereka herankan adalah, saat Raini menyebut 'lo' pada guru baru Penjaskes mereka.

Jelas, guru baru yang menggantikan guru Penjaskes lama itu adalah si cowok hoodie yang dua hari terakhir bertemu dengan Raini dalam situasi yang tidak diinginkan. Tapi tak ada teman-teman Raini yang mengetahui hal itu kecuali Kelvin, sepupu Raini.

Seperti apa reaksi Kelvin jika tahu kalau si cowok hoodie ternyata menjabat sebagai guru baru di sekolahnya?

"Kepalamu baik-baik saja?"

Raini sangat yakin cowok yang ada di depannya adalah si cowok hoodie. Cowok yang tingkahnya absurd dan agak menyeramkan. Tapi mengapa cara dia melihat dan berbicara tiba-tiba berbeda?

Terkesan lebih hangat dan ramah. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, ketus dan dingin.

Raini berusaha menjauhkan diri darinya. Memaksa tubuhnya ke belakang hingga mendorong Mella. Raini tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia hanya ingin mengerti sendiri tanpa perlu bertanya apa pun pada si cowok hoodie.

"Hei, saya bertanya padamu. Apa kamu baik-baik saja? Ada yang terasa sakit dengan kepalamu?"

Sekali lagi Raini memilih diam. Menjawab pun tidak berguna. Cowok di depannya terlihat seperti berpura-pura tidak mengenalnya dan bahkan sikapnya terkesan dibuat-buat. Apa dia lupa dengan peristiwa-peristiwa kemarin?

"Baiklah. Mungkin harus saya sendiri yang mengeceknya."

"Hei?!" Raini berseru keras. Melihat cowok hoodie maju mendekatinya, Raini mengangkat tangannya, menghalangi. "Ngapain lo dekat-dekat? Gue nggak minta lo dekat-dekat ya!"

Teman-teman Raini berseru kaget. Tak menyangka melihat sikap Raini yang di luar kewajaran sehari-harinya. Jarang sekali dan bahkan tidak pernah dia melawan pada guru. Pak Kepsek di depan kelas pun sampai menatap tajam ke arahnya. Beliau mulai menandai wajah Raini di memori kepalanya.

𝐃𝐄𝐆𝐑𝐀Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang