Panas matahari kini terpancar, pandangan Lita kesana kemari mencari keberadaan kedua sahabatnya yang menghilang. Hingga matanya melihat dua orang tersebut sedang menatap ke lapangan dan saat mengikuti pandangan mereka Lita sadar bahwa itu adalah Doni dan dua sahabatnya yang bernama Aryo dan Dendi, tangannya menepuk pundak Tata yang langsung kaget.
"Gue kira Pak Budi, kaget gue."
Ucapan Tata sangat heboh dan terdengar bel berbunyi menandakan istirahat pertama.
"Ke kantin?"
"Tumben. gak bawa bekal?"
"Kesiangan."
...
"Lo juga sih mau aja di ajak si Aryo nginep udah tahu dia itu kebo, jadi di hukum lagi kan."
Cerca Yumi yang kini disamping Doni sedang mengelap keringat di dahinya yang bercucuran.
"Udah kali Yum kalo gak gue yang inisiatif lo gak mungkin bisa ngobrol lagi kayak gini."
Aryo tidak terima Yumi menyalahkan dirinya.
Memang dia juga yang mengajak menginap dirumahnya yang kebetulan di rumah hanya ada dirinya sendiri, Doni Dendi juga tidak menolak malah setuju.
Dan karena kekeboannya tak lupa acara bergadangnya sampe jam dua dini hari tadi karena main PS, tadi pagi mereka baru sampai di sekolah jam 8 dan hal itu di ketahui oleh guru BP yang paling dihindari oleh siswa di sekolah ini yang tak lain adalah Pak Budi yang selalu membawa penggaris ditangannya.
BRAKKK
"Lo apaan sih Ta ganggu makan gue aja kalo mau, beli!" ucapan Dendi tidak dihiraukan oleh Tata yang kini menatap Doni lekat.
"Kira-kira babang Andre apa kabar ya disana?" Suara yang lirih terdengar oleh Lita yang kini menatap Tata penasaran.
"Andre?" Beo Lita keningnya menyerngit bingung.
"Dia temen mereka satu kelas juga, tapi bedanya si abang itu paling sadar dibanding mereka. Kalo ada si abang mereka gak mungkin dihukum pasti mereka bakalan ada di jalan yang lurus gak melenceng kaya gini."
Yumi tersenyum puas setelah mengatakan kalimat barusan dan di balas tatapan sebal oleh Doni.
"Gini yah Ta sebagai teman yang baik gue saranin lo untuk move on dari Andre, karena sebelum pindah dia pernah bilang suka sama orang lain." Mata Tata langsung memincing tajam pada Aryo.
"Dari pada nunggu yang gak jelas mending lo sama si Dendi dan gue sama Lita. Yak gak Lit."
Matanya dibuat semenarik mungkin dan hal tersebut membuat mereka yang ada di meja tersebut berlaga ingin muntah dan Lita pun hanya tersenyum kikuk.
"Jangan mau sama dia Lit, si Aryo itu playboy bukan cap gayung lagi malah cap upil dragon." Sontak kami satu meja tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat dari Yumi yang sangat ngakak.
"Udah-udah nanti dia ngamuk." Lita hanya terkekeh mendengarnya.
@_@
Semua anak kelas Lipan sudah duduk di kursi masing-masing dan terdengar suara langkah kaki beralaskan hils 7cm, hingga sebuah pintu terbuka lebar dan guru pengajar pelajaran Biologi yang masih terbilang muda dan fashionable, di sekolah ini pun baru memasuki tahun ke empat dan jangan salahkan kejudesannya yang mematikan dengan mata yang tajam di tambah dengan ailiner seperti kucing membuatnya tambah stylish.
Matanya menjelajah memerhatikan sekeliling hingga tatapannya berhenti di meja paling belakang yang asalnya hanya ada satu orang kini menjadi dua orang.
"Ibu dengar ada murid baru di kelas ini, perkenalkan diri dulu di tempat!"
Suaranya yang terdengar tajam membuat Lita menciut dan langsung berdiri dan memperkenalkan diri.
"Nama saya Jelita." Setelah mengatakan nama depannya Lita kembali duduk dan guru biologi bernama Penti itu pun berdiri dan mengambil spidol dan di ketuk-ketukan di telapak tangannya.
"Kamu mungkin sudah mendengar sejarah saya selama mengajar disini, saya peringatkan untuk kamu jangan pernah sepelekan pelajaran saya. Jika kamu ada satu kehadiran saja tanpa keterangan jangan salahkan saya jika di rapot kamu nanti kosong. Saya tidak main-main dengan ucapan saya, paham kamu?"
Pertanyaan dan pernyataan itu jelas di tujukan untuk Lita membuatnya mengangguk dengan mata menatap serius pada Bu Penti itu.
"Peringatan saya bukan untuk Jelita saja tapi untuk kalian semua, paham!"
Serentak beberapa orang yang sebelumnya menghadap ke belakang untuk melihat reaksi Lita langsung menghadapkan dirinya kedepan dan mengatakan kata "PAHAM" dengan keras.
Bu Penti mengangguk-ngangguk dan langsung membuka penutup spidolnya namun saat akan menuliskan sesuatu di papan tulis ponselnya berdering, langsung mengambil ponselnya dan keluar untuk menerima telpon.
Tata yang sedari tadi memperhatikan Lita pun mvnghadap ke belakang lagi dan berbicara pada Lita.
"jangan ambil hati ya, Ibu itu emang watak nya kaya gitu tegas disiplin dan on time jangan heran apalagi dia cuman ngajar kelas sebelas di kelas kita doang tamat riwayat lah." Lagi-lagi Tata sangat melodrama.
"Biasa aja lu, pake ati banget ngomong nya. Intinya kalo Bu Penti ngajar jangan sampe ketauan tidur, makan, minum, apalagi ngobrol. Soalnya dia bakalan kejam ngasih hukumannya dan jangan sampe kita ketiban hukumannya."
Tambah Yumi yang dari tadi melihat keluar disana terlihat Bu Penti sedang berbicara serius.
"Emang udah pernah ada kejadiannya?" Tanya Lita heran dan penasaran, membuat Tata langsung memisuh dan menepuk tangan Yumi dan dibalas Yumi dengan tatapan mautnya.
"Kejadiannya udah lama pas tahun pertama dia disini ada yang dihukum sampe ngerangkum buku paket yang harus dikumpulkan besoknya. Padahal yang ngobrol itu murid pintar di kelas itu karena temen di belakangnya nanya materi yang gak di mengerti yang otomatis murid itu madep belakang dan ngasih tahu penjelasannya, nah sama Bu Penti langsung di kasih hukuman. Kasusnya bukan hanya itu aja masih ad-"
Cerocosan Tata terhenti saat Bu Penti kembali masuk dan membereskan buku-bukunya. Terlihat oleh mata Lita mereka langsung mengepalkan tangannya memberi tanda akan berakhir merdeka 'ternyata sama seperti kelas sebelumnya sama persis'
Tiba-tiba Yumi berbisik "Tata informan dari berbagai sumber jadi dia tau banyak hal sampe sejarah sekolah ini."
Lita berdecak kagum pada Tata sang ratu kepo dan si maniak couple mouse, yang tak lain adalah tokoh kartun Micky & Minnie Mouse.
Sepertinya Bu Penti sangat memerhatikan anak didiknya karena saat Lita kembali menoleh ke depan terlihat Bu Penti yang sedang menatap kearahnya dengan tatapan tajam.
"Maaf semuanya, Ibu tidak bisa mengerjakan kewajiban ibu di kelas ini sampai selesai. Barusan ibu mendapat telpon dan harus segera mengikuti rapat di sekolah lain. Tugas untuk kalian isi Lks bab 3, sekian terimakasih."
Lantas beberapa saat setelah Bu Penti keluar, Tegar mengintip dari jendela disampingnya dan memberi aba-aba dengan kepalan tangannya.
Saat Bu Penti sudah menuruni tangga, kepalan tangan Tegar mengacung dua kali menandakan sudah aman dan satu kelas langsung mericuh dan hal itu tidak di lewatkan oleh Lita yang langsung membereskan buku-buku miliknya dan ikut bersorak.
"Tumben lo gak murung biasanya kalo ada pelajaran kosong apalagi pelajaran lintas minat?"
Tanya Yumi pada Lita yang kini melihat jam dinding yang di pajang di dinding belakang menunjukan waktu untuk istirahat masih lama dan itu adalah surga dunia bagi Lita.
"Gak semuanya gue bisa dan mampu untuk di lakuin, ada beberapa hal yang di luar kemampuan gue termasuk pelajaran yang banyak akan teori."
Ucap Lita yang di acungi dua jempol oleh Yumi dan Tata menjadi empat jempol untuknya.
"mantav banget jawaban lo Lit, denger tuh Yum kita ini manusia biasa. Buktinya Lita it-"
Tata berhenti mengoceh saat Yumi meraup wajah Tata dan mendumel.
"ah elu jadi ceramah lagi kan."
KAMU SEDANG MEMBACA
POURQUOI?
Novela JuvenilJika kamu akan mengatakan suka bahkan cinta... Maaf saja kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. Hidupku sudah bahagia tanpa adanya cinta... Yang ada hanya percuma saja.
