Aku masih saja menemukanmu di keseharianku. Di depan halte menuju kampusku, juga di perjalanan menuju bangunan tua itu. Di tengah hiruk-pikuk kota, juga di setiap rintik yang membasahi senja.
Aku masih saja menemukanmu di keseharianku. Masih saja memeluk hangat rindu yang kerap menyapa disela kesibukanku. Masih saja berharap agar waktu tak secepat itu berlalu. Masih saja berharap untuk kau mau mengekalkan utuh rasaku.
Aku masih saja menemukanmu di keseharianku. Masih saja menjadikan lagu itu sebagai salah satu bagian dari ritual sebelum tidurku.
Ya, semua itu masih saja terjadi padaku. Bahkan hingga malam tahun lalu. Keakuan rasa yang tersisa disudut hatiku. Jantung yang mendiami ragaku tetap saja berdetak lebih kencang, lebih keras hingga mengalahkan ramainya suara dunia pada detik pergantian malam tahun baru ketika kulihat namamu di layar ponselku.
Aku takkan menyangkal bahwa rinduku masih beralamatkan untukmu, satu.
Namun aku harus bisa seperti engkau.
Meski ku tahu ini berat bagiku, aku harus berusaha membuang jauh-jauh rasa itu. Menghilangkannya seperti engkau menghilangkan adaku dikehidupanmu dulu.
Cukuplah engkau sebagai sebaik-baiknya pelajaran bagiku.
Akan kupastikan aku takkan mengulangi kesalahanku yang lalu.
Demi kebahagiaan yang sedang dirancang Tuhan untukku.
Aku benar, mengikhlaskan kepergianmu.
Aku harus memperbaiki diriku. Maukah kau membantuku? Tolong hargai keputusan yang mungkin terlambat untuk kuaju. Setidaknya, berusahalah untuk tidak menghancurkan tekadku.
Hiduplah lebih baik. Berbahagialah.
Lupakan aku. Sekali lagi, untuk selamanya.
*swiped left*
Semoga kita senantiasa baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Feelings.
PoetryMari mengingat, mengenang kembali; memeluk dan menyumpahi janji; menjatuhkan hati di antara luka yang abadi; menangisi sosok yang telah lama pergi.... untuk kemudian mengikhlaskan rasa dan menabahkan diri. Untuk apapun yang telah terjadi, kudo'akan...
