Love is blind so you couldn't see me
You Belong With Me ((secret message)) --Taylor Swift
***
Memetik gitar dengan lampu temaram adalah habit bagiku. Lagu-lagu Taylor Swift sudah pasti menjadi pilihanku untuk disenandungkan, ya, karena aku cinta pada American sweetheart satu itu. Gitar putih yang sedari tadi kupegang segera kupetik dan pelan aku mulai bersenandung.
And darling, you had turned my bed into a sacred oasis
People started talking, putting us through our paces
I knew there was no one in the world who could take it
I had a bad feeling
"Berisik! Suara lo jelek," suara keras dari seseorang yang berdiri di jendela seberang menghentikan petikan gitar dan senandungku.
Sial. Si tengil yang satu ini mengganggu saja.
"Idih. Nyinyir tanda tak mampu," balasku padanya.
Kulihat dia melompat dari jendelanya. Lalu berdiri di balkon kamarnya sambil memandang ke arahku.
"Baru bisa main gitar, udah sombong. Inget Bi, lo enggak bisa dapat gitar itu, kalau bukan gue yang yakinin Ayah lo bahwa lo bisa bagi waktu dengan baik."
Aku mendelik kesal. Sial. Tentu saja dia memang benar. Kalau bukan karena jasa si tengil itu aku tidak akan bisa mendapatkan gitar putih ini.
"Bahasan lo itu mulu, jangan-jangan lo enggak ikhlas ya, bantuin gue yakinin Ayah?" Balasku tidak mau kalah.
"Kalau gue gak ikhlas emang lo mau bayar apa?"
"Nih, gue kasih lagu spesial. Kapan lagi kan lo denger kembaran Taylor Swift nyanyi?"
I stay up too late
Got nothing in my brain,
That's what people say, mmm
That's what people say, mmm
Aku dan El larut dalam alunan gitar dan senandung kami. Hal yang sejak dulu biasa kami lakukan ketika tidak ada kerjaan. Ya, El adalah sahabat baikku sejak bayi. Orang tua kami bersahabat sejak SMA dan secara tidak sengaja setelah menikah mereka bertetangga. Jadilah aku dan si tengil El bersahabat sampai sekarang.
Sesaat setelah menyelesaikan lagu 'Shake it Off', tawa renyah kami bertubrukan dengan udara dingin malam hari.
"Sumpah, suara lo tetep aja jelek," kata El sambil tersenyum mengejek ketika dia sudah berhenti tertawa dan malah sibuk memandang langit.
Aku melipat tangan di depan dada, "Masnya gengsi, ya, memuji suaraku?"
El malah tertawa.
Dan dengan bodohnya aku ikut tersenyum melihat El tertawa. Aku suka melihat si tengil itu tertawa, lesung pipitnya akan terlihat sangat jelas ketika dia tertawa.
Ah~ atau mungkin aku suka semua tentang si tengil itu?
Demi kerang ajaib, seumur hidup, aku baru merasakan jatuh cinta satu kali. Dan itu pada sahabatku sendiri, si tengil Darel Prasetya. Sialnya, dia bukan tipe cowok yang bisa peka dengan perhatian yang sering kuberikan. Singkatnya, dia tidak pernah tahu bahwa aku jatuh cinta padanya.
"Bi, lo gak berniat untuk punya pacar?"
Kedua alisku bertautan, heran, kenapa tiba-tiba saja si tengil itu menanyakan pacar padaku. Seingatku selama kami berteman dia tidak pernah mau mencampuri urusan hatiku. Buktinya dia tidak pernah tahu kalau aku suka padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Mind
Aktuelle LiteraturThe Short story In My Mind Kumpulan cerpen dan puisi atau curhatan yang sekedar singgah di kepala. Karena jika ditahan sendiri rasanya tak menyenangkan jadi kuputuskan untuk membaginya.
