8. Kandidat Ratu

6.7K 545 53
                                        

Meskipun, Mingyun, gadis itu tidak mengerti. Kenapa Raja Shi memintanya untuk tidak menunjukkan sepasang matanya, namun gadis itu memilih untuk menuruti perkataan Raja Shi dengan mengenakan penutup mata selalu. Untuk menghindari ketidak nyamanan, Raja Shi meminta para dayang menyiapkan berbagai jenis penutup mata dari kain, dan tentu saja haruslah yang terbaik.

"Yang Mulia..Yang Mulia..", Suara seorang perempuan terdengar. Mingyun yang tengah duduk dan memilih beberapa penutup kain untuk matanya memiringkan kepala, menatap kearah pintu masuk kamarnya dan juga sekaligus kamar milik dari Raja Shi. "Maaf, Nona anda siapa?", Tanya Mingyun binggung namun masih terdapat sebuah kesopanan di dalam kalimatnya.

Gadis itu bisa diperkirakan seumuran dengan Mingyun, tapi siapa yang tau, jika dia adalah salah satu dari para singa-singa ini, mungkin saja umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Mengingat, mereka bukanlah mahkluk biasa, tentu saja umur tidak bisa di ungkapkan dengan angka. Tapi dari seberapa lama mereka bermeditasi dan melatih ilmu, baik itu bela diri, ilmu gaib dan sebagainya.

"Kau ini---", Gadis itu meneliti Mingyun dari atas hingga bawah. Sepasang matanya tertuju pada mata Mingyun yang tertutupi kain berwarna merah muda yang sedikit dalam, ada kernyitan heran di keningnya. Beberapa detik mereka berdua saling adu tatap, hingga Penasehat Ma masuk dan berdehem. "Maafkan, Kelancangan Putri saya ini. Yang Mulia Mingyun..",

Gadis yang di sebut-sebut adalah putri dari penasehat Ma itu berdecak kesal, dia mendengus tepat kearah Mingyun. "Apanya yang Yang Mulia, Ayah?! Mereka bahkan belum melakukan upacara pernikahan, lagipula, Yang Mulia Shi telah berjanji akan menikahiku. Jadi sudah tentu aku yang akan menikahinya duluan, baru dia..boleh menikah dan menjadi selir Raja Shi..", Dengusnya menunjuk tidak suka pada Mingyun yang hanya diam saja.

Selir? Itu artinya, aku akan menjadi istri kedua? Setelah apa yang di lakukan Raja Shi padaku? Mencuri ciuman pertamaku, membuat kontrak tanpa sepengetahuanku, melamarku di depan Kaisar Da yang merebut tahta ayahandaku? Dan sekarang, dia berencana menjadikanku sebagai selirnya???

"Tidak!", Pekik Mingyun tiba-tiba. Kedua orang di hadapannya tersentak dan memandanginya dengan kaku, Mingyun yang menyadari hal itu langsung meminta maaf kemudian memalingkan wajahnya kembali berfokus pada beberapa penutup mata dari kain. "Aku tidak suka ini semua, buang..",

Penasehat Ma bisa melihat dengan jelas, jika gadis yang memakai penutup mata kain berwarna merah muda yang berwarna pekat dan dalam itu tengah marah, kesal dan sedih, dan lebih cenderung 'cemburu'. Tapi apa daya, dia hanya bisa menghela napasnya. Bagaimanapun, apa yang di katakan putrinya adalah benar. Raja Shi pernah berjanji akan menikahi putrinya,

"Penasehat Ma, aku lelah dan ingin istirahat..", Gumam Minyun menatap kosong dari balik penutup matanya. Bibirnya mengatup erat dengan sedikit timbulan-timbulan aneh akibat Mingyun mengigit bagian bawah bibirnya. Penasehat Ma hanya bisa menyetujui dan membiarkan gadis itu untuk menenangkan dirinya sejenak,

Setelah kepergian penasehat Ma juga putrinya, Mingyun berbaring di atas ranjang memunggungi pintu masuk sekaligus keluar, dalam posisi meringkuk, sesekali terdengar isakan yang tertahan. Namun tidak ada yang berani bertanya ataupun sekedar menengok, mereka tidak bisa sembarangan dengan wanita yang merupakan milik Raja mereka sendiri.

Mingyun yang malang, gadis itu menahan suara tangis untuk tidak keluar dari mulutnya dengan mengigiti tangannya sendiri. Air mata menetes dan mengalir bagaikan sungai, membasahi separuh wajahnya, bantalan sertai sprei ranjang yang di tidurinya. Selir, menjadi selir hanyalah itu yang ada di dalam pikirannya, dan terus menerus berputar, jika dia memikirkan tentang Raja Shi dia akan teringat dengan ciuman pertamanya, kontrak yang di katakan Penasehat Ma, lamaran pria itu pada Kaisar Da.

Dan kini, dia harus mendengar jika kemungkinan dirinya akan menjadi 'selir' saja. Bukan berarti menjadi selir tidak baik, namun tentu saja, bagi seorang perempuan menjadi satu-satunya adalah yang paling di harapkan. Ayahandanya saja tidak memiliki selir, lalu kenapa pria yang telah membawanya pergi dari istana Da harus memilikinya sebagai seorang selir?

Sungguh, Mingyun tidak habis pikir. Terlebih lagi, Raja Shi bahkan belum menikahi putri Penasehat Ma. Lalu dia sekarang akan menjadikannya selir, begitu? Ini sungguh mengelikan, untuk sesaat, Mingyun berpikir apa mungkin Raja Shi punya nafsu yang besar sehingga memerlukan dua atau mungkin saja lebih dari dua untuk melayaninya? Atau jika menurut buku tentang tata istana yang pernah dibacanya, selir-selir itu hanyalah sebatas untuk memberikan banyak keturunan bagi seorang Kaisar/Raja saja.

Namun, menurut Mingyun. Semua itu hanyalah sumber dari peperangan antar suadara, kehancuran untuk kerajaan itu sendiri. Mingyun berpikir logis, bahkan tanpa sadar meledek para selir juga Permaisuri dalam kisah-kisah dibuku yang biasa ataupun dulu pernah dibacanya. Dengan berpikir, apa mereka tidak sadar? Kaisar ataupun Raja hanya berbicara omong kosong, dengan mengatakan 'Aku mencintaimu' lalu menjadikannya selir, kemudian ketika datang lagi 'barang' baru, Kaisar ataupun Raja akan kembali mengulangi kalimat yang sama dan berhasil memikat hati para perempuan yang memasuki istana.

Kalau dipikir lagi, Mingyun ingat. Kemarin, ketika dia berada di paviliun. Raja Shi datang dan memeluknya dari belakang, seolah keduanya sudah lama tidak bertemu satu sama lain. Bahkan membuat alasan, dengan tidak mau melihat kedua matanya. Dan dengan bodohnya, dia sekarang mengikuti keinginan bejat pria itu? "Kau seperti salah satu pelacur Raja saja, Mingyun..", Gumamnya masih tersendat-sendat akibat menahan air mata yang masih mengalir membasahi wajah cantiknya.

"Kenapa kau berkata begitu, Mingyun..?", Gumam seseorang dari belakang Mingyun dengan nada pelan dan setengah berbisik, tangan kanannya menyelusup melewati rongga di bagian antara bantalan dan bahu juga leher Mingyun, menakup dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya yang besar. Tangan kirinya meraih dan melingkar erat di perut Mingyun, sesekali telapak tangannya akan mengusap dan mengelusi bagian perutnya. "Apa Tianyi mengatakan sesuatu padamu, Penasehat Ma bilang padaku jika dia kembali..",

Ya, dia kembali untuk menjadi istrimu! Batin Mingyun, tidak tau jika pria itu bisa membaca pikirannya saat ini. Raja Shi memajukan wajahnya, mengerakkannya pada bagian di antara leher dan bahu sebelah kiri Mingyun. Gadis itu sedikit mengejang, "Mingyun..", Lirihnya dengan suara yang terdengar lebih seperti sebuah desahan. Permukaan bibirnya menyentuh kulit leher Mingyun yang polos dan putih, seputih salju di luar istana Bing.

"Kenapa..kenapa dari sekian banyak orang, kenapa harus dia, Mingyun. Meski kau dan dia adalah sedarah sedaging, tapi kenapa tidak mata yang lain. Ini menyakitkanku, hatiku berdenyut perih, kemarahan selalu memuncak di otakku ketika melihat sepasang matanya.", Raja Shi bergumam.

Mingyun mencoba mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan, ditambah kini Raja Shi menjilati permukaan kulit lehernya. Seperti hewan peliharaan yang akan menjilati majikannya untuk mencari perhatian, "Yang..Mulia..", Desah Mingyun tidak sadar. Gadis itu mengeliat ketika tangan kiri Raja Shi berpindah, menarik tali pengikat hanfunya.

Tanpa basa-basi, Raja Shi yang sepertinya telah termakan oleh nafsu birahinya, mulai merambatkan tangannya kedalam hanfu Mingyun yang telah melonggar akibat tali pengikatnya yang terlepas tidak terikat lagi. Jari-jari tangannya yang memiliki kuku-kuku panjang melintas di permukaan kulit perutnya, bermain dengan pusar Mingyun, semakin naik, perlahan hingga Mingyun kembali mendesah dan mengerang ketika salah satu jari Raja Shi menyentuh benjolan kecil pada salah satu buah dadanya.

"Mingyun, biarkan..biarkan desahan dan eranganmu keluar. Jangan menahannya, Mingyun..", Bisik Raja Shi di telinga Mingyun yang memerah.

Gadis itu semakin mengeliat ketika dengan sibuk Raja Shi memainkan satu persatu buah dadanya, sementara tangan kanannya masih menutupi mata Mingyun, yang mana tidak di tutupi dengan kain penutup mengingat dia hendak istirahat. "Mingyun, Aku mohon. Apapun yang terjadi, jangan buka matamu. Aku mohon..",

Mingyun mengangguk, kembali mendesah ketika dengan lihai Raja Shi memonopoli seluruh tubuhnya. "Lakukan sesukamu, Yang Mulia..",

Tbc.

😆 Lama ngak update hehe, maaf ya pendek 😭😝

[COMPLETE] Lion King's HeartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang