Jika orang-orang biasa mungkin sudah akan mati membeku di hutan Bing di atas pengunungan yang terletak di sekitaran kerajaan Da, tapi kini disana dua orang tengah saling beradu pandang dengan tubuh yang berbaring di atas tumpukan salju. Satu orang pria dan satu orang gadis cantik yang terlihat tersipu, atau mungkin kedinginan akibat suhu yang sangat rendah disana.
"Kau sangat cantik, Mingyun..", Goda Raja Shi, pria yang berbaring di atas jalanan yang terkubur oleh lapisan-lapisan salju.
Gadis yang ada di atasnya itu hanya bisa mengedipkan mata dan memalingkannya kearah lain, hanya demi menghindari tatapan intens Raja Shi. Hembusan angin yang sepoi-sepoi diam-diam menyapu rambut hitam arang miliknya, "Ya-- Yang Mulia, Jangan begini. Sebaiknya kita kembali ke istana Bing secepatnya..",
Raja Shi tersenyum aneh, telapak tangannya yang besar meraih dan meluruskan arah pandang Mingyun yang terlihat menghindari tatapan Raja Shi sendiri. Telapak tangan besar itu terasa hangat, meskipun suhu disekitar sangat dingin dan tidak mungkin tangan seseorang akan tetap hangat meski berada di kedinginan seperti yang ada di atas gunung Bing ini.
Dengan lembut Raja Shi mengusap bagian rahang dan pipi Mingyun, senyumannya sama sekali belum menghilang bahkan ketika Mingyun justru berusaha untuk kembali memalingkan wajahnya. "Secepatnya? Kenapa begitu? Kau tidak mau berduaan disini denganku??", Goda pria itu tersenyum aneh lagi pada Mingyun.
"I-- Itu..", Lirih gadis itu memutar bola matanya ke kiri dan kanan menghindari pandangan Raja Shi.
"Ti-- Tidak baik membuat semua orang menunggu..", Ujarnya kemudian berusaha beranjak bangun dan melepaskan diri dari pria dibawahnya itu. Tapi sepertinya, Raja Shi sama sekali tidak ingin melepaskan gadis itu begitu saja.
Dengan sedikit kuat, Raja Shi menarik agar Mingyun kembali dan tetap pada posisinya. "Membuat mereka menunggu apa, Mingyun..?", Goda Raja Shi lagi dan langsung mendapat tatapan kesal dari Mingyun. Mungkin gadis itu lelah dengan kelakukan Raja Shi yang selalu kekanak-kanakkan dan memaksa,
"Tentu saja kita berdua, Yang Mulia..", Ketus Mingyun pasrah berada di atas tubuh Raja Shi yang besar dan kokoh. Harus dirinya akui, Raja Shi memang pria yang hampir mencapai sempurna untuk dijadikan sandaran, dia adalah seorang raja, punya kekuasaan, tubuhnya seperti panglima besar terkenal pada zamannya, ditambah pria itu bukanlah manusia biasa.
Jika Mingyun bukanlah Mingyun, mungkin dia tidak akan pernah bisa menolak pesona dari Raja Shi saat ini dan mungkin dengan senang hati menyerahkan jiwa dan juga raganya pada pria itu sekarang juga. "Oh, Aku mengerti. Membuat mereka menunggu calon ratu istana Bing, bukan begitu..Mingyun?",
Mingyun tersipu, sementara Raja Shi tertawa dalam hati melihat tingkah lucu dan juga mengemaskan dari gadis yang ada di atas tubuhnya saat ini. "Baiklah, Tapi sebentar lagi. Aku ingin melihatmu lebih lama lagi..", Ujar pria itu kembali meluruskan arah pandang Mingyin kearahnya.
Telapak tangannya tidak lagi mengusap rahang Mingyun, melainkan menjalar ke atas menyentuh pipi dan senyuman Raja Shi sama sekali tidak memudar hingga ketika mata birunya menatap kedalam mata Mingyun, senyuman itu sirna.
Dengan sedikit kuat Raja Shi mendorong Mingyun turun dari atas tubuhnya, pria itu beranjak bangun dan berjalan dengan cepat meninggalkan Mingyun begitu saja.
"Ya-- Yang Mulia???", Panggil Mingyun setengah berlari mengejar Raja Shi yang semakin jauh berjalan di depannya.
Entah apa yang terjadi dengan pria itu, bahkan ketika Mingyun berhasil mencapainya, dia sama sekali tidak mengatakan apapun dan hanya diam dan berjalan melangkahi setapak demi setapak jalan yang telah tertimbuni oleh salju putih yang tebal.
Langkah mereka terhenti ketika sampai di depan gerbang utama istana Bing, dimana mereka disambut oleh dua orang prajurit putih yang langsung membukakan gerbang membiarkan keduanya memasukki istana Bing.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia..", Ujar Pria yang Mingyun kenali yakni penasehat Ma.
Raja Shi hanya menatapnya lurus sebelum akhirnya melangkah melewati Penasehat Ma begitu saja, membuat pria berpakaian biru tua itu mengernyit heran.
"Selamat datang ke istana Bing, Ratu Kami..", Tukas Penasehat Ma kali ini tidak ingin mengambil pusing terlalu banyak dengan sikap aneh Raja Shi dan justru tersenyum melihat gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya.
Mingyun tersipu, menundukkan kepalanya yang dihiasi sebuah tusuk konde berwarna merah. "Ka-- Kami masih belum menikah, Tuan Ma..", Lirihnya gelisah dengan sebutan Penasehat Ma padanya.
Pria itu terkekeh, "Oh ya, tapi kalian sudah melakukan perjanjian bukan?", tanyanya pada Mingyun yang mengeryit heran kini. Dari tatapannya Penasehat Ma dapat menafsirkan bahwa Mingyun tidak mengerti maksud perkataannya barusan, "Maksudku, Ciuman itu..", Ujarnya lagi menjelaskan dan sontak membuat Mingyun menutup mulutnya mengunakan tangan.
"A-- Apa??? Jadi ciuman itu adalah perjanjian?", Tanyanya tidak percaya dan dengan mata terbelalak. Penasehat Ma mengangguk yakin, senyuman tipis tercipta jelas di wajah tampannya. Meski tidak setampan Raja Shi, menurut Mingyun sendiri.
Yang benar saja, dia yang menciumku secara paksa dan ternyata itu adalah bukti perjanjian?
"Jadi, Ratu..", Ujar Penasehat Ma seraya memukul-mukulkan kipasnya yang terlipat pada telapak tangannya. "Apa yang bisa saya lakukan untuk anda saat ini..? Katakan saja, apa anda ingin mandi, makan, minum atau langsung ke kamar pengantin..?", Godanya membuat Mingyun langsung menatapnya dengan kedua bola mata melotot.
Pria itu tertawa, dan disaat yang bersamaan Raja Shi keluar dari sebuah pintu tanpa pintu sebenarnya hanya ditutupi dengan tirai-tirai yang terbuat dari es, tangan kekarnya meraih dan menarik Mingyun mengikutinya ke balik pintu bertirai es itu.
'Ah, Yang Mulia sudah tidak sabaran ternyata..'
"Yang Mulia..???",
Raja Shi tidak mendengarkan atau memang sengaja diam saja, karna Mingyun yakin suaranya sudah lebih dari cukup kencang hanya sekedar untuk bisa sampai di kedua telinga Raja Shi.
"Yang--",
Bruk..
Raja Shi menubrukkan tubuh Mingyun ke tembok es yang seharusnya dingin, namun sama sekali tidak terasa dingin bagi Mingyun sendiri meskipun pakaian yang dikenakannya cukup tipis dan hanya terdiri dari dua lapis pakaian.
"Kenapa..kenapa kau bisa punya mata itu?!", Seru Raja Shi bertanya pada Mingyun yang masih syok dengan sikap Raja Shi yang berkesan tiba-tiba dengan menubruk tubuhnya ke tembok disamping mereka.
"Jawab aku!",
Mingyun menjadi gagap, suaranya seperti terkunci dan tidak bisa keluar dari mulutnya. Tatapan tajam dan mengerikan Raja Shi mungkin penyebabnya, meski Mingyun sendiri ragu dengan pikirannya.
"A-- Aku..",
"Ada apa, Yang Mulia???", Penasehat Ma berlarian memasukki ruangan dimana dirinya melihat Raja Shi tengah menekan Mingyun ke tembok es dan gadis itu sama sekali tidak kedinginan.
"Penasehat Ma, tidak, Bukan apa-apa. Mingyun, Maaf. Aku akan meminta pelayan melayanimu, aku ada urusan. Nanti baru kutemui kamu lagi..", Ujar Raja Shi mencoba untuk mengendalikan dirinya sendiri. Tatapannya sedikit melemah, membuat Mingyun sedikit lega dan hanya bisa mengangguk menyetujui dan ikut bersama para dayang disana.
***
"Anda tidak apa-apa, Yang Mulia??", Tanya Penasehat Ma khawatir melihat Raja Shi yang menjadi terlihat berbeda.
Pria itu mengeleng, "Maaf, Penasehat Ma. Aku hanya melihat sesuatu yang sudah lama tidak kulihat..", Ujarnya memegangi kepalanya dengan tangan yang menyangga pada meja es yang berbentuk bulat.
"Sesuatu yang sudah lama anda tidak lihat, Yang Mulia?",
"Ya, sesuatu yang tidak akan pernah bisa ku lupakan..",
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
[COMPLETE] Lion King's Heart
Fantasi[Bukan Novel Terjemahan] 'Jika kau pergi aku akan mati, jika aku mati maka kau bukanlah lagi milikku' Jadilah hatiku, hati dari sang raja singa ini..
![[COMPLETE] Lion King's Heart](https://img.wattpad.com/cover/128416200-64-k823931.jpg)