“Donghyuk, Pinjam spidol dong!” Pio meyenggol bahu Donghyuk yang terlihat sedang mengerjakan sesuatu di bukunya.
Donghyuk menoleh sesaat sebelum akhirnya merogoh kotak pensilnya dan mengeluarkan spidol hitamnya dan menyerahkannya pada Pio. Tanpa berkata apa-apa cowok bermata sipit itu kembali menekuni soal-soal yang ada di bukunya itu. Melihat itu Pio nyureng. Sumpah ini lalaki kalo lagi berhadapan sama buku sudah seperti kebanyakan minum akua. Terlalu focus.
“Makasihhh Dongie!” ujar Pio yang tidak ditanggapi oleh donghyuk. Pio pun menepuk pelan pundak Donghyuk sehingga cowok itu menoleh, dan menatapnya aneh.
“Sama samaa~ Pio cantik!” Donghyuk hanya mengerutkan dahi, bingung, kenapa dia membalas terimakasihnya sendiri. Dasar cewek aneh.
“Lo harusnya jawab kayak gitu, Dong, kalo ada yang bilang makasih.” Tambah Pio, geregetan dengan sikap cuek cowok di depannya.
“hmm, iya, sama-sama,” jawab Donghyuk sebelum matanya kembali terpusat pada soal-soal fisika yang sedang dikerjakannya. Pio pun tersenyum dan kembali ke kursinya. Tepat di sebelah kanan kursinya Donghyuk.
“Pi, lo kenapa sih ngegangguin Donghyuk mulu? Udah tau dia kan begitu. Buku mulu yang dia pandang. Ngga bakalan di gubris deh keberadaan lo.” Bisik Lila yang duduk di sebelah kanan Pio.
Pio tersenyum dan melirik temannya itu sembari tangannya sibuk menulis beberapa catatan di lembar buku tulisnya, “siapa yang ngegangguin? Orang gua Cuma mau ngajak ngobrol kok.”
“dih, orang kayak gitu lo ajak ngobrol. Ngga bakalan ditanggepin. Kalo gue sih ya, lebih mending ngobrol sama siri, masih ada sautannya. Lah ini, lo kudu transform jadi buku mtk dulu biar di notice.”
“gila kali lu ya,” Pio terkekeh mendengar penjelasan Lila. “ngobrol kok sama siri, dasar jomblo.”
“serius gue. Lo baru pindah beberapa hari sih. Bayangin aja, lo yang baru pindah kesini beberapa hari aja temennya udah bejibun. Nah dia yang udah berbulan-bulan disini temennya Cuma si Jinhwan.”
“Ya, makanya lo temenin dong.” Balas Pio.
“ngga ah! Kutu buku. Yang ada gua dicuekin gegara dia terlalu asik sama bukunya.”
Pio terdiam dan memikirkan sesuatu. Lila yang melihat temannya hanya diam pun beralih ke buku fisika yang ada di depannya. Guru fisika mereka hari ini tidak bisa datang dan hanya memberikan tugas dari buku yang harus dikumpulkan sore nanti.
“Kalo gitu, gue aja yang nemenin dia!” ujar Pio tiba-tiba.
Lila yang mendengar itu menoleh, “Nemenin? Siapa?”
“Donghyuk lah.”
“Kan udah gue bilang, ngga bakal ditanggepin sama dia. Lu Cuma bakalan dianggap obat nyamuk doang.”
“Ya namanya juga usaha.”
*pas istirahat*
“Donghyuk! Kantin yuk!” ajak Pio.
Donghyuk yang sedang mencatat sesuatu di bukunya pun menoleh. Untuk beberapa saat ia hanya menatap gadis yang sedang tersenyum lebar itu dengan pandangan bingung.
“Ngga,”
“Ayo dong. Emangnya lu ngga laper? Gue jajanin deh!” Pio masih berusaha untuk mendekatkan diri dengan Donghyuk. Pio memang bertekat untuk berteman dengan semua orang. Khususnya Donghyuk. Dia merasa bahwa Donghyuk itu sebenarnya bisa jadi sahabat yang baik.
“Ngga laper,” Jawab Donghyuk singkat, fokus nya masih pada buku catatannya.
“Kalo gitu lu temenin gue aja? Ya? Plisss gue ngga ada temen nih.” Pinta Pio.
