abu abu

71 19 6
                                        

Malam itu semuanya sudah bersiap di pinggir jalan, Ong dengan cajonnya, Doyeon dan Minhyunㅡ iya Minhyun, sudah siap mengeluarkan suara emasnya dan tidak ketinggalan Mingyu bersama gitarnya. Sementara Mark dan Mina bertugas mengumpulkan massa.

Chaeyeon?

Tenang saja, dia hadir. Duduk di belakang para personil band yang baru berlatih selama 3 jam ituㅡ atau lebih tepatnya sedang memandangi punggung Hwang Minhyun.

Chaeyeon ingin sekali memainkan keyboardnya, namun ia lupa bahwa tidak ada sumber listrik terdekat untuk menghidupkannya.

Kembali lagi pada fokus Chaeyeon ke Minhyun, ia pun pernah seperti ini di atas panggung beberapa bulan yang lalu, dan setelah selesai membawakan lagu, entah itu saat latihan atau pun saat penampilan, lelaki yang didambakannya pasti selalu membalikkan badan dan tersenyum kepadanya seakan bertanya "bagaimana penampilanku?"

Dan Chaeyeon pasti tersenyum danㅡ

"Kenapa senyum senyum sendiri?" Tanya Minhyun membuyarkan lamunannya. "Minum nih."

Chaeyeon mengambil satu botol air mineral dari tangan Minhyun dan meminumnya. "Kakak udah minum?"

"Belum," Chaeyeon langsung merasa tidak enak mendengar jawabannya. "Aku takut kamu kerasukan mending kamu minum, biar otak kamu ada asupan oksigen."

Rasanya Chaeyeon ingin menyemburkan air di dalam mulutnya, namun ia segera menenggaknya. "Aku ngga kerasukan tau!" Chaeyeon mengerucutkan bibirnya.

"Minhyun, balik dulu gih! cewe cewe disana pada mau cowo encore, lumayan uangnya tambah banyak HEHE" dengan cengirannya, Ong segera kembali lagi menangkan kerumunan yang riuh itu.

Dengan terpaksa para lelaki, termasuk Mark yang sedari tadi diam saja ikut menyumbangkan suara rendahnya, sementara para wanitaㅡ diam.

"Tadi tadi aku ngerjain tugas di rumah," Mina tampak lesu. "Padahal aku juga bisa lebih bagus daripada mereka."

"Liatin aja, liatin." Tambah Doyeon.

"Apaan sih itu deket deket banget. . ." Chaeyeon sedikit terusik hatinya melihat wanita wanita yang mengerumuni Minhyun.

"Kak, udah malem banget, pulang ayo?" Bisik Chaeyeon kepada 4 lelaki itu.

Tetapi hanya Minhyun yang menengok ke arah belakang, ia hanya menoleh dan melanjutkan kegiatannya lagi.

Wee oo wee oo

"Bubar semua! Segera bubar! Atau kami akan tertibkan!"

Sirine polisi berbunyi kencang mendekat ke arah mereka.

Ong, Mingyu, Minhyun, dan Mark saling menatap satu sama lain.

"Polisi beneran ya?" Tanya Ong. "Hitungan ke 3 ambil barang terus lari, ya?"

"WOY LAMA!" Mingyu mencuri start terlebih dahulu dan langsung lari secepat kilat bagaikan ada gas di kakinya.

Bruk

Suara tas diambil dengan kasar oleh sang pemiliknya, masa bodoh dengan barang yang tertinggal, yang terpenting kotak uang sudah teramankan.

Tap tap tap tap

Mereka berlarian kalang kabut, entah kemana Mingyu sekarang, dan entah juga yang lain.

"Tas aku!" Chaeyeon yang masih panik mencari tasnya yang tiba tiba saja menghilang dari pandangan. "Huaaaa tas aku manaaa?!"

Minhyun yang membawa beberapa alat yang tertinggal mendengar kepanikan Chaeyeon itu kembali lagi menghampiri dan sesegera mungkin menarik tangan Chaeyeon erat lalu mengajaknya berlari.

"Kak! Tas aku, huaaa gimana ini?!ㅠㅠ" Nafasnya kemudian sedikit tersenggal karena ia tetap menanyakan tasnya sambil berlari.

Setelah merasa aman, Minhyun berhenti dan berbalik badan melihat muka Chaeyeon yang panik dan sedikit lucu itu menurutnya.

Ia hanya terdiam melihat Chaeyeon.

Kapan hilang bodohnya anak ini?

"Kamu mau tas kamu?"

Chaeyeon mengangguk mantap. "Huu, iya kak, balik lagi?"

"Kamu ngga sadar? Itu tas kamu lagi kamu selempang."

Chaeyeon terdiam, "KAK! AKU MARAH AJA."

Chaeyeon mencoba menutupi malunya dengan membalikan badan dan mengambil beberapa langkah, tetapi badannya tertahan. Ia baru sadar sedari tadi Minhyun belum melepaskan genggaman tangannya.

Chaeyeon kembali berbalik badan dan terfokus pada tangannya yang menyentuh tangan Minhyun, atau lebih tepatnya tangan Minhyun yang menyentuhnya.

Minhyun ikut menatap apa yang dilihat Chaeyeon. Lalu kembali menatap wajah gadis di depannya itu yang sudah salah tingkah.

"Sejak kapan tangan kamu ada magnetnya?" Sedetik kemudian, Minhyun melepaskan gengamannya.

"Padahal tadi yang narik duluan siapa?" Ucap Chaeyeon pelan.

"Kamu ngomong apa?"

"Ngga, eh!" Chaeyeon melihat muka Minhyun yang mulai kemerahan akibat keringatnya sendiri. "Sebentar sebentar!"

Minhyun yang tidak mengerti apa yang dimaksud hanya bisa melihat Chaeyeon yang mencari sesuatu di tasnya.

"Buat apa?" Tanyanya ketika melihat Chaeyeon mengeluarkan tisu.

Chaeyeon mengelap beberapa keringat yang masih mengalir di pelipis Minhyun. Tetapi setelah beberapa detik, tangannya terhempas oleh tepisan tangan Minhyun.

Minhyun kembali merebut tisu tersebut dari tangan Chaeyeon dan mengelapkannya sendiri ke wajahnya. "Terimakasih tisunya, tapi Saya ngga mau kalau pacar kamu liat ini, Saya dikira PHO."

"Pacar? Siapa?" Chaeyeon mengingat apa yang dimaksud oleh Minhyun danㅡ eureka! "Mingyu maksudnya? Oh dia, dia kan emang begitu, foto mesra sama orang buat manasin orang lain hehe."

"Oh,"

Jadi Mingyu bukan pacarnya?

"Kalau begitu waktunya pulang, yang lain mungkin udah pulang duluan."

Chaeyeon mengangguk setuju, "baiklah aku pulang." Chaeyeon pergi menjauh dari Minhyun menuju halte.

Jadi apa dia hampir mundur gara gara liat aku sama Mingyu? Eh, ,ngga. Mungkin dia cuma kepo kaya orang lainnya.

"Chae,"

Kaget! Itu yang Chaeyeon rasakan ketika melihat Minhyun yang tepat berada di sampingnya

"Loh kak? Bukannya pulangnya keㅡ"

"Mau nyobain gimana ngga enaknya duduk di bis."

"???"

"Yaudah, jalan duluan kamu."

Apa maksudnya. . . Ah lupain lupain. Semua tindakannya abu abu, ngga boleh, Jung Chaeyeon, cepat jalan aja, ngga usah mikirin yang di belakang.

"Chae, maaf." Bisiknya kepada orang di depannya. Mungkin orang itu tidak pernah mendengar apa yang pernah ia katakan.

***

What Are We?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang