Awas typonya kemana-mana.
Selamat membaca😘
*****
Kanaya dan Sean berjalan melewati koridor menuju kelas Kanaya.
"Kalo gue jadi lo sih, gue gak bakal balik lagi ke kelas. Nanggung kurang 15 menit lagi istirahat." ucap Sean sambil melihat jam tangan miliknya.
"Ooohh jadi kegiatan osis dijadiin alesan sama Kak Sean.. Kalo gitu Kak Sean sering bolos jam pelajaran dong?"
"Iyalah, kesian otak gue entar capek kalo kelamaan mikirin pelajaran."
"Awas aja entar Naya aduin ke papa." Kanaya menudingkan telunjuknya ke arah Sean.
"Aduin aja, gue gak takut. Gue udah turutin kemauan papa buat jadi ketos. Kalo gak gara-gara papa, gue gak bakalan mau jadi ketos." ucap Sean santai.
"Salah siapa dulu Kak Sean sering bolos, jadinya papa nyuruh Kak Sean jadi ketos deh." Kanaya menjitak kepala kakaknya itu. "Ohiya kak, Kak Sean punya misi apa? Kak Sean belom cerita ke Naya."
"Ntar aja gue kasih tau di kedai es krim." tangan Sean mengacak puncak kepala Kanaya.
Disisi lain, para siswi yang kelasnya tidak ada pelajaran pada waktu itu berteriak histeris karena melihat perlakuan Sean kepada Kanaya.
"Kenapa harus di kedai es krim, kalo disini Kak Sean juga bisa ngomong?"
"Gak bisa, entar gak jadi misi lagi kalo ada yang tau." bisik Sean. "Eh,eh.. Lo mau ke mana?" Sean menarik kera seragam Kanaya yang berjalan sedikit didepannya. "Kelas lo di sini nih!" lanjut Sean sambil menghadapkan Kanaya ke depan pintu kelasnya.
Kanaya melihat isi kelasnya, memastikan teman-temannya ada di dalam atau tidak. Ternyata benar.
"Ohiya.. Hehe.." ucapnya setelah melihat tulisan di tembok tepat atas pintu.
Sean mendengus melihat kebodohan adiknya itu. "Udah sana masuk, belajar yang rajin, biar makin bego." Sean mengacak puncak kepala adiknya lagi.
"Yang bener itu makin pinter, bukan makin bego!" Kanaya menginjak kaki kakaknya itu.
"Sakit bego!" Sean berusaha melepaskan kakinya yang diinjak Kanaya.
Kini bukan siswi dari kelas lain yang berteriak histeris, melainkan siswi dari kelas Kanaya. Kanaya dan Sean memandang heran para siswi itu. Melihat semua teman satu kelas Kanaya berteriak seperti itu, membuat Sean memikirkan sesuatu.
Cup.
Sean mencium kening adiknya, lalu melenggang pergi. Kanaya hanya tersenyum, karena sudah terbiasa dengan hal itu. "Nanti pulang bareng gue." teriaknya. Kanaya membalasi hanya dengan anggukan.
"Hueeee.. Kak Sean!"
"Sakit hati dedek bwuaaangg!"
"Segala pakek cium-cium lagi!"
Begitulah sekiranya perkataan yang diucapkan teman-teman Kanaya.
Lain dengan Shinta, Mita, dan Nia, sahabat Kanaya. Mereka terdiam di tempat masing-masing. Kanaya memandangi teman-temannya satu kelas, lalu melambaikan tangannya di depan mata para sahabatnya itu.
"Naya, lo hutang penjelasan ke kita!" ucap Shinta dan Nia bersamaan. Naya mengerutkan dahinya.
"Nay.." panggil Mita dengan pandangan kosong. "L-lo ta-tadi dia-apain sama Kak Sean?" tanya Mita terbata. Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALAXY
Teen FictionKedua remaja itu terlihat sangat menikmati suasana malam hari di puncak pegunungan, menatap langit yang dihiasi banyak bintang. "Sampe kapan lo bakalan terus berdiri disitu? Masih belom puas liat bintangnya?" ucap Allan, jengah melihat gadis yang b...
