Aditya

367 34 4
                                        

"Ayok.....!"

Jari Aditya menggenggam pergelangan tangan setelah tiga langkah keluar dari ruang administrasi. Aku yang masih terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba, Aditya menarik tanganku untuk mengikuti langkah kakinya.

"Mau kemana?" tanyaku pasrah diseret begitu saja.

"Kita harus tanya apa maunya?"

"Siapa?"

Langkah Aditya tiba-tiba berhenti. Sejurus menatapku aneh. Tanpa berkedip seolah dia sedang membaca pikiran dan hatiku. Sedetik kemudian tangannya menjontor dahiku pelan.

"Den bagus, Oon...!" sentaknya kesal.

Aku mengerutkan dahi, " kenapa?"

Aditya menepuk dahi sendiri sambil menghentakkan sebelah kakinya. Terdengar suara hembusan napas panjangnya.

"Kamu gak penasaran. Kenapa orang seperti Den Bagus mau melunasi semua Sppmu?"

"Kasihan, mungkin."

Aditya kembali memukul dahinya sedikit keras kali ini.

"Lalu kamu gak mau mengucapkan terima kasih padanya?"

Aku menatapnya kemudian mengangguk. Tidak pernah terpikir di otakku tentang hal ini. Pikiranku hanya satu, pulang... Dan ceritakan ini pada Simbah. Agar Simbah gak usah susah payah lagi mencari pinjaman uang. Kasihan...Simbah.

"Makanya...ayokk...!"

Diseret kembali tanganku memasuki area parkir. Dalam parkiran itu hanya ada beberapa sepeda, bagi keluarga mereka yang mampu membeli tentunya. Tapi kebanyakan punya guru-guru yang mengajar disini. Aditya melepas tanganku di pintu parkir dan dia masuk ke dalam mengambil sepeda federal miliknya. Sepeda yang harganya bisa membeli beras buat lima bulan lamanya.

Waktu itu harga beras 1 kg masih sekitaran 1000 rupiah sedangkan sepeda federal itu harganya 300 ribu rupiah. Bayangkan! Memang tahun 1990 harga beras sangatlah murah. Karena masih membentang luas sawah dengan padi  sebagai peran tunggal perekonomian bagi masyarakat. Hanya ketika musim kemarau panjang, mereka beralih menanam jagung.

Aditya menarik tubuhku untuk duduk di besi penghubung antara setir dan dudukan sepeda. Aku sedikit ragu tapi tangan Aditya memaksaku untuk segera naik. Sesaat ada sesuatu yang bergemuruh. Merasakan napas Aditya yang berembus melewati telinga.

Aditya mengayuh sepedanya sedangkan aku menarik tubuh kedepan, mendekati setir agar tak merasa risih saat mendengar napas Aditya menderu.

Sekolah dengan tempat tinggal kami masih sangat jauh. Bila ditempuh dengan jalan kaki bisa sekitar 2 jam. Biasanya aku akan pergi ke sekolah bersama Simbah yang hendak ke pasar naik sepeda onthel. Itu pemberian ibu ketika masih bekerja di kota, dulu. Sekolah dan pasar memang lumayan dekat sekitar 5 kilo. Biasanya Simbah akan menunggu jamku pulang sekolah. Kasihan, katanya bila berjalan kaki sebegitu jauhnya.

Dulu, Bulek Tum pernah dibelikan Ibu sepeda hanya saja sepeda itu dijual saat Bulek minta Simbah untuk dibelikan kalung emas. Ya, uang hasil jualan sepeda dibelikan kalung. Bulek lebih malu kalau tidak mempunyai kalung waktu itu daripada harus meneruskan lagi ke SMA. Entahlah. Apa yang dipikirkan Bulek waktu itu?

Di sebuah rumah besar dengan halaman dipenuhi rajutan bambu ( kepang ) yang akan dibuat untuk mengeringkan padi. Ada mesin baru yang didatangkan dari kota untuk memudahkan penggilingan padi. Suaranya amat bising. Bila kita bicara harus teriak dulu. Mesin itu ditempatkan di ruang berbilik bambu yang luas, kami sebut gudang padi (selepan)

Di depan gudang padi, seorang pemuda sekitaran berumur 28 tahun berdiri dengan tangan mengikat ke belakang. Matanya mengawasi para pekerja yang sedang mengangkati karung goni berisi padi kering kedalam gudang.

KIRANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang