#KIRANNA part 8
Maaf baru posting.
"Desa yang kuat adalah desa dimana para pemuda pemudinya bersatu. Bukan hanya menikmati kerja keras pendahulunya tetapi juga ikut andil besar di dalam perbaikan. Karena suatu saat pasti salah satu di antara mereka akan menjadi pemimpin. Entah di desa ini atau malah wilayah lain yang lebih besar. Maka dari itu kita harus memperkuat pondasi jiwa pemimpin mereka lewat kegiatan yang lebih besar."
Aku terbius dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Den Bagus. Beliau begitu memukau dengan aura kalem miliknya. Tenang tetapi kata-katanya mampu menerobos hati para warga.
"Karang Taruna ini bertujuan untuk mendidik pemuda pemudi kita untuk lebih mengerti arti kekompakan. Semangat pejuang harus terus kita tanamkan pada darah mereka. Agar terus berjuang untuk menjadikan bangsa ini lebih baik."
Dalam pertemuan ini, di antara raut mereka yang serius menyimak tanpa lepas pandangan. Ada satu orang yang bersikap tak bersahabat. Terlihat begitu acuh setiap bahasan yang dikemukakan para warga.
Hanya mengangguk ketika memang dimintai persetujuan.
"Bagaimana Pak Lurah, anda setuju?"
Bila itu menguntungkan baginya, dia akan cepat mengiyakan. Tapi bila mengacam kedudukannya, dia akan cepat mengajukan protes.
"Tidak bisa. Kalau urusan dana dari pemerintah itu tidak boleh diikutsertakan. Bisa kacau nanti."
Seperti itulah jawaban Pak Lurah bila itu sudah masuk kawasan intern miliknya.
"Biar para warga tahu, dana pemerintah memang digunakan pada jalur perbaikan desa bukan malah masuk kantong."
"Jadi anda menuduh saya menilap uang desa." Mimik muka Pak Lurah mengeras. Karena dia tahu sang lawan bicara hanya bawahannya. Pak Anton, salah satu pamong desa segera menunduk. Dia pasti takut mendengar jawaban Pak Lurah dengan nada membentak.
"Bukan begitu maksud dari Pak Anton. Bila dana pemerintah bila kita kerjakan bersama-sama dengan mengikutsertakan anggota Karang Taruna pasti akan terkoordinasi dengan baik. Dan masyarakat tahu dana itu tepat pada sasaran. Dan desa ini tidak tertinggal dengan desa yang lain."
Pak Lurah diam saat kalimat sanggahan Den Bagus terlontar. Hanya nampak mukanya berubah kesal.
Setelah melakukan rembukan yang panjang akhirnya ide Karang Taruna disahkan. Perkumpulan ini dipimpin langsung Den Bagus dan diwakili oleh beberapa pemuda yang telah dipanggil.
Den Bagus juga mencetuskan ide Koperasi Simpan Pinjam bagi para petani. Jadi, bagi para masyarakat yang tidak mempunyai modal untuk menggarap sawah bisa mengambil berbagai kebutuhan seperti bibit, pupuk dan lainnya di tempat ini. Dan paling menguntungkan bagi masyarakat adalah keuntungan dari koperasi ini akan dikembalikan lagi untuk memperbaiki keadaan kampung. Entah itu perbaikan jalan atau masjid di kampung. Soal pengembalian pinjaman dibayar ketika panen tiba.
Semua warga sangat senang mendengar kabar ini. Mereka pulang dengan wajah berseri. Sementara nama-nama yang di panggil harus bertahan dulu untuk membahas kegiatan apa saja yang mungkin dilakukan Karang Taruna.
"Kiranna .... "
Namaku lembut terpanggil. Den Bagus mengisyaratkan untuk mendekat. Kemudian tangannya menepuk lantai di sebelahnya yang kosong.
Aditya sempat melirikku dengan wajah bertekuk. Mulutnya mengatup erat dengan pandangan yang mampu menusuk hati. Posisi dudukku memang terlalu di belakang sementara banyak tempat kosong.
"Sini, mendekatlah!" Perintah Den Bagus.
Aku masih ragu-ragu untuk menggeser tempat.
"Mau aku gendong?" Tawar Den Bagus tersenyum lalu terdengar serempak teriakan Huu panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
KIRANNA
ChickLitgadis muda yang bercita-cita ingin memajukan desanya lewat impiannya. sayangnya, dia hanya gadis miskin.
