Menunggu Cintamu - Part 13

6.7K 299 48
                                    


Tok.. Tok.. Tok..

Suara ketukan berbunyi dari luar. Aku melirik ke arah jam dinding jam menunjukkan pukul sebelas siang.
Aku bertanya, siapa yang datang bertamu di hari minggu seperti ini?
Ku langkahkan kakiku dan meraih knop pintu. Dan ternyata Faisal datang dengan jinjingan yang berupa mainan anak-anak.

"Ohh, Dokter Faisal, silakan masuk!" ajakku.

"Panggil nama saja, seperti dulu kamu memanggil ku, Ren!"

"Ahh mana bisa begitu? Titel mu sudah tinggi. Demi gelar Dokter kamu meninggalkan aku. Upss, kok jadi membahas masa lalu? Ya uda yuk masuk!"

Faisal duduk di ruang tamu rumah mungil ku, rumah yang ku cicil dengan hasil kerja keras ku selama ini. Sementara aku di dapur menyiapkan syirup dan beberapa cemilan yang ada. Tak lama aku kembali ke ruang tamu dengan nampan yang terisi.

"Silakan di minum Sal." basa basi ku.

"Thanks, Ren!"

Jujur saja aku merasa sungkan atau mungkin aku merasa asing bisa duduk lagi dengan nya, setelah sekian lama kami tak bertemu. Apakah aku bermimpi?

"Kamu tinggal sendiri Ren?" tanya Faisal.

"Ahh, enggak kok. Kebetulan aku tinggal dengan Ibu mertua. Semenjak suami ku menghilang, Ibu memilih untuk tinggal bersama ku. Oh ya, omong-omong, kamu tau alamat ku dari mana?"

"Oh, iya. Aku tau alamat dan nomer telponmu dari data medis mu di rumah sakit. Aku memintanya dari bagian administrasi."

"Untuk apa?"

"Aku ingin menengok Raga, Ren"

"Terimakasih ya, kamu sudah baik dengan anak ku."

"Raganya mana Ren?"

"Lagi tidur."

Tak lama terdengar suara lengkingan tangisan, Raga terbangun dari tidurnya. Aku pamit pada Faisal untuk mengambil Raga yang berada di dalam kamar. Dan tak lama aku kembali dengan Raga dalam gendonganku.

"Hallo anak pintar." Sapa Faisal pada Raga.

Raga tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Faisal.

"Yuk main sama Om." ajak Faisal pada Raga. Dan kemudian Faisal mengambil Raga dari gendonganku.

"Abang Raga gak boleh nakalin Om dokter ya!" ucap ku.

"Lihat nih, Om bawa mainan untuk Raga loh." Faisal membawa kotak yang tadi di bawanya, sebuah pesawat tempur di keluarkan dari kotaknya. Raga kecil tersenyum kegirangan melihat pesawat tersebut.

"Raga, kalau sudah besar nanti mau jadi apa? Jadi pilot mau?" lagi-lagi Faisal berbicara dengan balita yang belum genap satu tahun tersebut. Entah untuk ke berapa kalinya, raga selalu menunjuk foto sang Ayah jika di tanyai tentang cita-cita.

"Raga mau jadi tentara? Uhh anak pintar. Raga pasti nanti jadi tentara yang hebat, iya kan Ibu?"

"Ehh...i... iya...." jawab ku kaku.

"Oh iya Ren, mana Ibu mertua mu?"

"Lagi ada pengajian di masjid Al Azar."

Aku menikmati pemandangan di depan mata ku, melihat jagoan kecil ku bermain dengan Faisal, membuat ku membayangkan, andaikan Raga bisa bermain dengan Ayahnya. Tanpa ku sadari air mata ku menetes, aku tak kuasa menahan sedihku, dada ku kembali sesak jika mengingat Bang Ardy. Benarkah dia sudah tiada?

***

"Ren, apa kamu tak ingin Raga mempunyai Ayah?" tanya Ibu.

"Rena masih yakin jika Mas Ardy akan kembali, Bu!"

MENUNGGU CINTAMU (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang