Delapan.🐧

38 11 12
                                        

"Seandainya kita tahu isi hati masing-masing. Kau akan mengerti mengapa aku melakukannya."

_

Hari ini mungkin akan menjadi hari bahagia bagi Angga dan Laurent. Atau bahkan sebaliknya?

Suasana kelas sangat sepi. Rata-rata penduduk kelas pergi kekantin untuk menyegarkan tenggorok-kan nya, dan lebih memilih singgah disana.

Mereka baru selesai pelajaran olahraga, dan tentunya mereka lebih senang berada dikantin, ketika jam pelajaran selesai.

"Gue mau nembak Lau hari ini." Ucap nya yakin.

"Seriusan?!" Elno terkejut mendengar ucapan Angga.

"Ya, gue berasa gantungin anak orang," Sadar Angga.

"Akhirnya lo sadar, gak nyangka gue sih." Ucap Elno sambil bertepuk tangan.

"Caranya gimana?" Tanya Angga yang membuat Elno geleng-geleng kepala.

"Lo gak tau cara nembak cewek? Cowok se-tampan lo begini gak ngerti caranya?" Ucap Elno dengan muka tidak santai.

"Gak," Satu kata terucap

"Ngerti, cuma gue pengennya- gak usah deh gak jadi, nembak biasa aja." Sambung nya

"Mau dimana?" Tanya Elno penasaran.

"Siapa tau, gue bisa ikutin, dan liat, Lau nerima apa ngga." Ucap Elno dalam hati

"Gak tau," Ucap Angga, lalu berjalan meninggalkan Elno

"Gagal deh niat gue. Siapa tau kalo gue denger secara live, langsung dapet PJ gitu." Ucap Elno dalam hati

-

"Kita ke taman dulu ya," Pinta Angga

Kini mereka berada di parkiran untuk segera pulang.

"Ngapain?" Tanya Laurent

"Nyari angin seger," Angga beralasan, lalu dibalas anggukan saja oleh Laurent.

-

Mereka sudah sampai ditempat tersebut. Angga kebingungan sendiri mencari topik basa-basi yang akan membawa Laurent ke tujuan akhir.

Sedangkan Laurent sedari tadi menahan detak jantung nya yang berdegup cepat. Belakangan ini ia tak pernah lepas dari degup jantung yang cepat, pipi berubah menjadi merah, dan terkadang sedikit gemetar setiap berdekatan dengan Angga.

Suasana sangat canggung. Baik Angga maupun Laurent, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Ren," Panggil Angga

Tentu saja Laurent tidak menoleh, ia tidak terlalu suka panggilan itu, dan ia tidak menganggap sebutan namanya adalah 'Ren'.

"Oke salah, Lau." Koreksi Angga

"Apa?" Ucap Laurent, masih dengan pipi memerah, degup jantung yang sekarang semakin cepat, dan sangat amat gugup.

"Gue mau nembak ni," Ucap Angga dengan muka cool dan pikiran yang tak tentu arah. Pintar sekali menyembunyikan muka gugup itu.

DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang