Dua belas.🐧

28 7 0
                                        

Penantian telah berkahir. Urusan kejar-mengerjar pun telah berakhir.

Bagaikan lomba marathon. Laurent merasa memenangkan lomba tersebut, lalu mendapatkan hadiah yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya.

Baginya, sebuah akhir dari penantian ini sangat tidak terduga. Bahkan ia berpikir bahwa setelah kepergiaan Angga beberapa hari lalu, ia tidak akan lagi bertegur sapa, dan mungkin kisah mereka akan berhenti sampai situ saja. Ternyata tidak.

Sungguh diluar pemikirannya.

Fyi, Angga adalah orang pertama yang bisa membuat jantung Laurent berdegup kencang, pipi yang merah, layaknya kepiting rebus. Dan dapat membuat tubuhnya gemetar ber-jam-jam, ketika bertatap mata, atau sekadar papasan saja.

Luar biasa bukan?

Ia tidak mengerti mengapa sampai sekarang dirinya masih belum bisa mengontrol degup jantungnya. Selalu saja berdetak dengan kecepatan yang tidak normal ketika bertemu dengan Angga.

Ia sering sekali ditertawakan oleh Angga akibat detakan jantungnya yang begitu cepat, dan terdengar jelas ketika keadaan sedang sepi.
_

"Bau makan-makan gratis!" Seru Elno.

"Waaah iya, nih. Bau nya semakin mendekat," Sambung Audrey, ketika Laurent semakin mendekat kearah meja nya.

Pagi ini, kelas ricuh dengan kabar Laurent dan Angga telah resmi berpacaran.

Pasalnya, banyak dari mereka yang mendukung hubungannya.

"Semakin dekat No, bau nya!" Seru Audrey bersemangat.

"Iya! Tercium harum, Drey." Saut Elno.

"Harum lah, gue mandi tadi pagi, emang lo cuma modal minyak wangi,"  Ucap Laurent sambil menaruh tas di kursinya.

"Wah, No! Bau makan gratisnya disini, iya arah sini." Ucap Audrey masih dengan semangatnya, sambil menunjuk-nujuk kearah tempat duduk Laurent.

"Apaansih, dari tadi bau-bau makan gratis. Lo berdua laper?"

"Halah, kayak gak tau aja. Ya gak No?" Ucap Audrey sambil menyenggol bahu Elno.

Elno mengangguk. "Iya bener. Pura-pura gak tau aja. Terus, siapa dong yang pergi ke minimarket depan komplek biar dapet jaringan karena wi-fi rumah mati, dan pulang nya jingkrak-jingkrak-kan?" Goda Elno disertai senyum miringnya.

"Wah, udah gila tuh dia, sampe jingkrak-jingkrak-kan gitu. Kira-kira siapa ya?" Sahut Audrey dengan gaya menerawang.

"Iya iya tau," Ucap Laurent malas.

"Hehehehe, jadi makan gratis kan?" Ucap Audrey setelah beberapa saat, lalu melirik-lirik Elno.

Laurent menatapnya tajam.

"Yaudah, gue minta sama Angga aja, siapa tau dia baik hati," Lalu Audrey berjalan mencari keberadaan Angga.

"Lo gak berangkat bareng Angga?" Tanya Elno setelah Audrey sudah melangkah jauh.

"Dianter bokap gue, gak bisa bantah gue," Ucap-nya.

_

Bel pulang sekolah adalah surga bagi para murid sekolah. Kecuali mereka yang tidak bisa bersama gebetannya diluar sekolah, atau penggemar rahasia, yang hanya bisa melihat gebetan dari jauh saja. Pasti mereka ingin berlama-lama disekolah, dengan alasan sesederhana itu.

Apalagi mereka yang menggemari kakak kelas. Pasti banyak yang merasa ragu-ragu untuk mendekatinya, jadilah memperhatikan dari jauh. Bagi mereka mungkin itu cukup.

Mungkin, tidak ada kegiatan yang lebih indah disekolah, selain melihat dirinya.


Saat ini pun, Laurent sama seperti mereka. Tidak bisa berlama-lama diluar sekolah dengan Angga. Alhasil, ia menemani Angga futsal disekolahnya.

Ia berada dipinggiran lapangan, bersama anak-anak satu angkatan lainnya yang sedang memperhatikan gebetannya juga.

Terkadang Laurent merasa beruntung, ia tidak harus menjadi penggemar rahasia, tidak harus membuat Angga peka terhadap perasaannya dengan waktu yang lama. Walaupun ia merasakan bagaimana rasanya digantung.

Ketika salah satu laki-laki yang terbilang cukup manis, dan populer, mencetak gol, anak-anak perempuan itu berteriak histeris. Alay.

Untung saja Laurent tidak termasuk bagian dari mereka. Duduk bersama mereka disana saja sudah merasa malu sekali, bagaimana jika ia bergabung?

Tidak lama, mereka beristirahat.

"Nih," Laurent memberikan satu botol air minum.

Masih dengan keringat yang bercucuran, membuat kulitnya yang tidak begitu putih terlihat sangat glossy.

"Pulang duluan aja, minta jemput sana. Atau mau gue anterin sekarang?" Tanya Angga.

"Nggak usah, gue tungguin aja sampe pulang. Satu jam lagi kan?"

"Tapi satu jam lama, Lau."

"Iya gak papa gue tungguin."

"Gue anterin sekarang,"

"Kenapa sih? Kok ngusir?" Dengan muka kesal.

"Enggak, gue gak mau aja lo jadi gabung sama cewek-cewek tadi."

"Oh yang teriak-teriak?"

"Hmm"

"Iri ya, gak diteriakin?" Goda Laurent.

"Enggak," Jawab Angga dengan muka datar.

"Bohong!"

"Hmm"

"Tapi dia beneran keren kok, makanya mereka teriak," Goda-nya lagi.

"Terserah,"

"Cemburu ya?"

"Enggak,"

"Bohong, pipi nya merah." Masih menggoda.

"Pulang aja ya?"

"Bilang cemburu dulu, baru gue pulang."

"Hmm"

"Apa?"

"Apa?" Angga menanya balik.

"Ish! Yang bener,"

"Iya, gue cemburu, Lau."

"Lucu!"

"Lucu palamu, ayok pulang."

Lalu mereka bergegas menuju parkiran, dengan tangan Angga yang merangkul pundak Laurent, disertai degupan kencang yang dirasakan keduanya, dan pipi bersemu merah.

Itu selalu menjadi ciri khas Laurent ketika bersama Angga.

_

TBC.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 24, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang