Soraru merasa bosan. Luz dan Shima terus membahas hal yang tidak ia mengerti. Urata juga pergi entah kemana. Ada pekerjaan yang harus ia kerjakan katanya. Lebih baik Soraru cari angin saja di luar, bukan?
Saat melewati pekarangan samping, ia mendengar suara tawa seorang, tidak, dua orang gadis. Lagi, ia mengenal suara salah satunya. Rasa penasaran membuat ia memberanikan diri mengintip.
Yang ia temukan adalah dua orang gadis yang duduk di pelataran samping rumah. keduanya tampak sedang bercerita bersama. Rasa penasaran semakin menguasainya. Pada akhirnya, Soraru memutuskan untuk menghampiri dua orang tersebut.
"...Mafu? sedang apa kau di sini?"
Yang disebut namanya tersentak. Bersama dengan gadis berambut merah di sampingnya, ia menoleh ke belakang. Soraru mengerutkan keningnya, "Siapa ini?"
Dua gadis itu lekas berdiri. "Ah, Soraru-san, perkenalkan ini Sakata, teman masa kecilku yang pernah kuceritakan padamu...." ujar Mafu.
"Teman? Maksudmu yang kau bilang roh pohon prem itu?" Mafu membalas pertanyaan Soraru barusan dengan anggukan.
Soraru semakin bingung mendengarnya, "Bagaimana dia bisa ada di sini?"
"Shima-san dan Urata-san yang membawa saya kemari. Saya sendiri saat ini adalah shikigami milik Shima-san. Oh! Anda pasti Soraru-san, bukan? Mafu bercerita pada saya tadi," gadis bernama Sakata itu menjawab.
Soraru menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Suasana jadi agak canggung, "Kau formal sekali. Tidak perlu pakai saya-anda. Aku tak terbiasa seperti itu."
"Bahkan pada tuanmu sendiri kau tidak ada sopan santunnya, Soraru-san," cibir Mafu sambil melipat tangan di depan dada. Senyuman mengejek ia tampilkan pada bibirnya.
Soraru mendecih sebal. Dari awal mereka berdua memang jarang akur. Hal ini juga yang membuat Luz heran mengapa mereka mau mengikat kontrak.
Baiklah, beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah mengobrol akrab. Sakata adalah tipe gadis yang periang. Sejak tadi mereka tertawa dan bersenda gurau mengenai banyak hal. Meski Soraru tidak ikut tertawa. Mafu dan Sakata terus berbicara mengenai hal ini dan itu hingga Soraru pusing kemana arah pembicaraan mereka sebenarnya.
"Oh, kudengar dari Shima-sama, Soraru-san ini Nighthawk terakhir di muka bumi, ya?" tanya Sakata tiba-tiba.
Mendengar itu, Soraru agak menyipitkan matanya. "Kau berkata begitu seakan aku ini sangat menyedihkan," katanya.
Sakata tertawa kecil. "Maaf kalau perkataanku barusan menyinggungmu. Tetapi aku benar, kan? Maksudku aku hanya ingin tahu saja, kok..."
Soraru lalu mengedikkan bahunya. "Entahlah. Sebenarnya itu informasi yang didapatkan Luz dan Shima. Oh, dan juga Neru-san dan kepala klan - maksudku ayah Mafu. Mereka menyisir seluruh area di Jepang dan tidak menemukan satupun Nighthawk lain yang tersisa."
"Tapi apakah ada kemungkinan mereka masih ada? Mungkin saja mereka sembunyi di suatu tempat atau membaur dengan manusia," kali ini Mafu berpedapat. Soraru lagi-lagi hanya mengedikkan bahu, tanda tak tahu.
"Itu pertanyaan sulit," katanya, "hal-hal yang kita ketahui sekarang belum tentu adalah keseluruhan hal yang memang kita ketahui."
***
Langit sudah gelap. Gemintang berkelipan dia angkasa raya, bagai bintang yang berserak tak beraturan. Lelaki bermanik hijau itu sudah selesai dengan urusannya. Kini saatnya pulang.
"Oke... persediaan sabun sudah, camilan sudah, sake titipan Shima-sama sudah, hmm... apalagi, ya? Oh! Minfigure titipan Sakata juga sudah!" gumam pemuda itu sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memento
General Fiction"Oto-san... Okaa-san... " Kau tahu? sejauh apapun dia melangkah, hanya bayang-bayang masa lalu yang membuntutinya. Yang ia lakukan hanya merintih, meleburkan butiran airmata dari manik spicanya. Terus berjalan sendirian pada malam hari, di bawah bi...
