Three

611 98 96
                                        

Suara burung pipit yang berkicau membuat kelopak matanya perlahan terbuka. Mafu mengucek matanya, kemudian bangun dengan perlahan. Setelah menguap kecil dan melakukan peregangan tubuh, ia mengambil jam yang terletak di sebuah meja samping tempat tidurnya.

Matanya langsung melotot, "HUUWWAAA!!! AKU KESIANGAN!!" dengan cepat ditepisnya selimut yang menutupi tubuh. Gadis itu melompat turun, kemudian berlari menuju ke kamar mandi. Dengan tergesa ia memakai seragam sekolah barunya dan berlari keluar kamar.

"Onii-chan kenapa ngga membangunkanku??" gerutunya kesal begitu melihat Luz sedang menyeruput kopinya di meja makan. "Sudah kucoba, tapi kamu tetap tidur. Aku malah ditendang suruh minggir! Mana ilermu kemana-mana lagi!" balas Luz cuek.

Wajah Mafu bertransformasi menjadi merah padam. Ia menggembungkan pipi. Sejenak kemudian ia mendengus kesal, lalu menyambar sarapannya di meja.

"Oh,ya, Soraru sudah berangkat duluan," gumam Luz. Mafu terdiam. Ia belum melihat pemuda bernama Soraru itu sejak kemarin. "Tenang saja, kudengar nanti kalian sekelas. Yah, aku yang minta, sih, biar nanti tidak repot kalau ada apa-apa," lanjut Luz lagi.

Mafu buru-buru menghabiskan sarapannya, kemudian pamit untuk berangkat ke sekolah. Gadis itu memburu langkah, tidak lucu kan kalau harus terlambat di hari pertama? Gadis itu terus berlari, berlari, hingga sampoai di sebuah gedung sekolah besar.

Menghela napas lega, sepertinya dia tidak terlambat. Tentu saja setelah memakai kecepatan maksimal. Mafu segera masuk, mencari ruang kepala sekolah.

"Oh, jadi kamu murid baru tahun kedua, ya?" tanya sang kepsek sambil melihat berkas-berkas data diri Mafu. Mafu hanya menjawabnya dengan anggukan. Kepala sekolah itu tersenyum, lantas menunjuk seorang guru yang berdiri di sampingnya.

"Ini Yorukichi-sensei. Dialah yang akan menjadi wali kelasmu untuk saat ini," katanya. Orang yang dipanggil Yorukichi-sensei itu tersenyum. Mafu balas menunduk dalam.

Yorukichi-sensei kemudian berujar hangat, "Ayo, saya antarkan kamu ke kelas. Anak-anak pasti sudah menunggu." Mafu hanya bisa mengangguk, menuruti permintaan. Ia lantas mengekor di belakang Yorukichi-sensei menuju ke kelasnya.

Mereka berhenti di depan pintu sebuah kelas. Mafu mendongak, mendapati tulisan "2-B" tergantung apik di atas pintu. Yorukichi-sensei masuk ke dalam kelas. Setelah guru itu memperbolehkannya masuk, Mafu melangkah perlahan ke dalam kelas.

Sesi perkenalan selesai. Mafu melihat sekeliling, mengamati wajah-wajah antusias dari para siswa yang tertarik dengan kehadirannya. Beberapa kali ia harus membuang pandang kerena tatapannya bertemu dengan makhluk-makhluk tak diinginkan yang ada dalam kelas itu.

"Baiklah, Mafu, sekarang kamu bisa duduk di bangku kosong yang ada di depan Soraru-kun" ujar Yorukichi-sensei sambil menunjuk deretan bangku dekat jendela.

Mafu terkejut mendengar nama Soraru. Gadis itu penasaran, dari kemarin ayah dan kakaknya terus membicarakan orang ini. Karena ingin tahu, Mafu melihat titik yang ditunjuk Yorukichi-sensei. Bukan bangkunya, melainkan bangku di belakang bangkunya.

Seorang pemuda tampak melihat ke arah luar jendela. Pembawaannya dingin, kacamata ber-frame lebar menghiasi wajah putih mulusnya. Rambut ikalnya berwarna kelam dan manik sebiru samudra itu seakan menambah kesan 'misterius' pada dirinya.

Mafu terkesiap, "D-dia kan..."

Setelah menelan ludah, Mafu melangkahkan kakinya dengan perlahan, mendekati bangku tempatnya duduk. Menghembuskan napas grogi, kemudian meletakkan tasnya dan duduk di bangkunya.

Ingin rasanya ia menoleh ke belakang dan bicara dengan orang itu, tetapi Yorukichi-sensei langsung memulai pelajarannya ketika Mafu sudah duduk di tempatnya.

MementoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang