Desa itu tersembunyi di lereng pegunungan. Tak terjamah oleh siapapun. Hanya para Nighthawk yang mengetahui tempat tersebut.
Tempat dimana Soraru melalui masa kecilnya.
Soraru saat itu berusia sekitar 5 tahunan. Sungguh usia yang masih sangat belia. Setiap pagi ia akan keluar dari rumah kecil yang ia tinggali bersama kedua orangtuanya.
Sama seperti pagi itu. Saat mentari mulai menyapa dari balik rimbunnya tirai dedaunan cemara, Soraru sudah terbangun dari tidurnya.
"Ohayou, Okaa-san!" sapanya ceria pada ibunya yang tengah memasak di dapur. Sang ibu membalas sapaan pagi dari putra kecilnya. Soraru mengambil salah satu tempat duduk kosong di dekat meja makan.
Tak lama kemudian, ayahnya datang dari pintu depan. Soraru juga menyapanya dan sang ayah menjawabnya sambil tersenyum ramah. Sang ayah lalu duduk di samping Soraru.
Tak lama kemudian makanan telah siap terhidang di meja makan. Keluarga kecil itu menyantap sarapan pagi mereka dengan hati cerah. dengan berbagai perbincangan seru, suasana pagi mereka menjadi sangat hangat.
Setelah itu ayah akan berburu di hutan, sementara Soraru bermain bersama teman-temannya yang lain. Keduanya sama-sama kembali ke rumah saat mentari telah lelah dengan tugasnya hari itu, memberikan tugas rutinnya pada sang rembulan.
Sungguh rutinitas yang sangat menyenangkan. Setidaknya hingga malam itu datang. Malam dimana salju sedang turun dengan indahnya.
"Oto-san, Okaa-san, oyasuminasai..." kata Soraru sambil mengintip dari balik pintu kamar. Ayah dan ibunya tersenyum hangat.
"Oyasumi, Soraru,"
"Oyasuminasai, Sora-chan,"
Dan anak itu melompat ke tempat tidur dengan senyuman. Berharap mimpi indah selalu mengiringinya seperti biasa.
Namun sepertinya hal itu tak berlaku buat malam ini. Belum sampai Soraru menyeberang ke alam kapuk, matanya terbuka lagi. Sepasang telinganya menangkap bebunyian yang sayup-sayup terdengar gaduh di luar.
Bocah itu sangat penasaran. Pelan-pelan didekatinya pintu kamar. Kemudian ia membuka dengan hati-hati pula. Suasana gelap, tak terlihat siapapun di luar kamar.
"Oto-san, Okaa-san?" Soraru mencoba memanggil lirih. Ia mengendap, memeriksa kamar kedua orangtuanya. Kamar itu kosong. Anak itu lalu berjalan ke pintu depan. Ketika pintu terbuka, ia langsung terkejut.
Api dimana-mana. Rumah hancur porak poranda. Beberapa tetangganya terlihat tergeletak di tanah, tak bergerak. Serombongan orang bersenjata terlihat dimana-mana.
Anak itu melihat beberapa temannya dan nighthawk lain terbang di angkasa dengan tergesa. Mereka berusaha keluar dari tempat itu. Namun belum jauh mereka terbang, panah-panah api menjatuhkan mereka ke tanah. Orang-orang bersenjata tadi langsung saja mengelilingi mereka begitu terjatuh.
Soraru gemetar ketakutan. Dengan matanya sendiri ia melihat mereka dikuliti, diambil organ dalamnya, ditampung darahnya dalam wadah-wadah. Sayap-sayap mereka dipatahkan, diputuskan dari badan. Mereka semua menjerit pilu, di tengah desanya yang kini berwarna merah.
Orang-orang lain mengejar nighthawk yang belum tertangkap. Bahkan para nighthawk yang lari ke dalam hutan tak luput dari kejaran. Salah satu dari mereka menyadari kehadiran Soraru.
Orang itu langsung berlari ke arah bocah berambut ikal yang tak berdaya tersebut. Soraru yang sudah menangis sejak tadi tak bisa berbuat apapun. Namun, orang itu diserang oleh ayahnya yang tiba-tiba datang entah darimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memento
Ficción General"Oto-san... Okaa-san... " Kau tahu? sejauh apapun dia melangkah, hanya bayang-bayang masa lalu yang membuntutinya. Yang ia lakukan hanya merintih, meleburkan butiran airmata dari manik spicanya. Terus berjalan sendirian pada malam hari, di bawah bi...
