Neru menghela napas lega, ia baru saja selesai memperbaiki jendela kamar Soraru. Anak itu sekarang meringkuk sambil memeluk lutut di sudut tempat tidurnya. Sesekali terdengar ia sesenggukan, lalu mengusap-usap matanya dengan tangan.
"Hey, Neru-san..." panggil bocah itu lirih. Neru menoleh ke arahnya, menandakan bahwa dirinya siap mendengarkan. Soraru kembali menunduk, "Tadi itu... apa?"
Neru menghela napas. Sejenak kemudian ia menggaruk kepalanya dan berdiri, lantas menghampiri Soraru yang masih meringkuk di sampingnya.
"Untuk beberapa hari ke depan, tetaplah di rumah!" pinta Neru sambil mengusap pucuk ikal anak itu. Perlahan Soraru mendongak, "Kenapa?"
Tak menjawab, Neru justru bangkit dan berjalan menuju pintu. "Sudah, dengarkan saja apa kataku. Sekarang ini kau sedang tidak aman. Mungkin mereka sadar akhir-akhir ini aku jarang berada di dekatmu. Atau mungkin..."
Kalimatnya terhenti, Neru terdiam sesaat, sebelum wajahnya bertambah pucat. Ia kemudian berbalik menatap Soraru. "Apa kamu sedang terluka?" ia bertanya serius. Soraru menggeleng.
Tak diduga, Neru justru kembali menghampirinya, menarik tangan Soraru yang entah mengapa sembunyikan di belakang punggungnya. Soraru meringis, Neru tercekat melihat bekas luka di siku anak itu.
"Kenapa kamu sampai luka?" tanya Neru dengan nada serius. Soraru menunduk, "A-aku... tadi pagi memanjat pohon di sekolah. Lalu aku... jatuh..." Neru langsung marah ketika mendengarnya, "Kenapa kamu memanjat pohon?! Sudah kubilang kan, jangan melakukan hal yang bisa membuatmu terluka! Ku tak mau dengar kau memanjat pohon lagi!"
"T-tapi, aku bukan anak kecil lagi, Neru-san! Dulu pun kau selalu melarangku melakukan banyak hal. Ketika membantumu memasak, aku tidak boleh memegang pisau, saat pergi ke taman, kau selalu menggandengku kemana-mana dan tidak membiarkan aku bermain sendiri. Kau juga melarangku berlari atau bermain ranting pohon. Tugas prakaryaku kau yang kerjakan. Kau juga tak pernah mengizinkanku meraut pensilku sendiri..." Soraru melakukan pembelaan.
"Aku hanya ingin kau tidak terluka!" sahut Neru cepat dengan nada agak meninggi. Soraru bungkam, lagi-lagi kepalanya tertunduk. Neru kembali berjalan menuju ke pintu. "Aku akan ambil kotak obat untukmu. Pokoknya, sampai luka itu kering, KAU TIDAK BOLEH KELUAR RUMAH, paham?" pesannya sebelum menghilang di balik pintu.
Soraru menatap luka menganga di tangannya dengan tatapan sayu. "Memangnya kenapa? Aku bahkan selalu diejek penakut oleh teman-teman. Neru-san... sebenarnya kenapa kau sampai seperti itu padaku?" ia menggumam sendiri.
***
Bosan, Soraru benar-benar bosan. Dengan dalih sakit, Neru sudah meminta izin pada wali kelasnya agar Soraru tetap tinggal di rumah. soraru agak kesal sebenarnya. Tak masuk sekolah hanya karena luka seperti itu?
Berbagai macam cara sudah dia lakukan untuk menghilangkan kebosanan. Mulai dari menggambar, menonton tv, bermain game milik Neru, bahkan dia sampai guling-guling di ruang tengah saking bosannya. Neru sudah berangkat bekerja. Benar-benar tak ada siapapun di rumah selain dirinya.
Terlebih lagi, hal yang membuat Soraru heran adalah Neru menempelkan banyak kertas dengan tulisan-tulisan aneh yang tidak Soraru mengerti dimana-mana. Mulai dari di depan pintu, jendela, ventilasi, bahkan hingga di wastafel dan dekat saluran pembuangan. Soraru sama sekali tidak tahu apa fungsi dari kertas-kertas itu.
Dia juga tak diperbolehkan membukakan pintu untuk siapapun selain Neru. Pokoknya, Soraru benar-benar tak bisa kemana-mana. Terkungkung dalam rumah apartemen itu sendirian. Kalau boleh jujur, hal itu agak menyiksanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memento
Ficción General"Oto-san... Okaa-san... " Kau tahu? sejauh apapun dia melangkah, hanya bayang-bayang masa lalu yang membuntutinya. Yang ia lakukan hanya merintih, meleburkan butiran airmata dari manik spicanya. Terus berjalan sendirian pada malam hari, di bawah bi...
