Enjoy the story
Give your comment and vote.. thank you
-00-
Flash Back 20 Tahun Lalu
"Pergi kau anak sialan!" Teriakan seorang pria kepada seorang anak laki-laki dibarengi dengan tendangan keras tepat di tulang rusuk bocah itu.
"Uhuk!" Anak kecil yang terlihat kurus itu tersungkur dengan keras di jalan sempit.
"Karena kau ada, aku menderita kau tau?!" Sekali lagi anak tersebut mendapatkan tendangan keras. Pria tersebut langsung pergi meninggalkan anak tersebut. Bocah itu terlihat menahan rasa sakitnya dan berusaha untuk bangun. Matanya berkunang-kunang dan kepala terasa dihantam dengan ribuan kilo karung beras, dia tidak ingin mati sekarang itu yang dipikirkannya.
Pelan-pelan anak itu berjalan keluar dari gang sempit yang selama ini menjadi saksi atas kekejaman orang tua yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Bocah itu berjalan sembari memegang tulang rusuknya, ditambah dengan rasa lapar hebat karena tidak terisi makanan sedari kemarin siang. Dan malam ini sungguh dingin, bocah itu harus mencari tempat berlindung sementara karena jika dia tetap disana dapat dipastikan keesokan harinya dia sudah terbujur kaku tidak bernyawa.
Dengan langkah yang gontai dan dia menuju sebuah taman bermain, setidaknya disana ada sebuah perosotan yang memiliki sedikit atap. Setelah bersusah payah berjalan, akhirnya dia bisa melihat taman itu. Saat dia sampai, dia pun duduk dibawah perosotan yang akan menjadi tempat tidur sementara, ini lebih baik dari pada tidur di halte bis karena di sana akan banyak lagi manusia-manusia brengsek mabuk yang tidak bisa menahan nafsu mereka.
Bocah laki-laki itu langsung merebahkan tubuhnya yang masih penuh dengan luka, dia merasa sangat lelah. Tidak butuh waktu lama pun matanya tertutup menuju alam mimpi yang akan memberikan kenyamanan sesaat.
"Hey, kenapa kau tidur disini? Hey bocah bangun."
"Sebentar lagi, biarkan aku tidur." Sahut bocah itu.
"Ya! Kalau ingin tidur di rumah jangan disini. Ini wilayahku, kau harus ijin kepadaku bocah."
Perlahan anak itu membuka matanya, cahaya matahari masuk menusuk mata sehingga dia tak sanggup membuka mata. Dengan susah payah dia menajamkan pengelihatannya, pusing dan rasa sakit pada sekujur tubuhnya langsung menyerangnya.
"Kenapa kau tidur sini? Ini tamanku." Kata seorang anak laki-laki dengan memberikan tatapan sinisnya.
Anak laki-laki itu memakai baju sangat bagus dan juga sepatu keren yang bisa menyala. Sepatu impian Si Anak penuh luka tersebut.
"Aku hanya beristirahat sebentar, maafkan aku. Aku akan pergi." Jawabnya sembari mencoba berdiri.
Bocah dengan pakaian mewah itu hanya memandang dengan tatapan bingung.
"Kenapa wajahmu? Kau seperti habis dihajar oleh iron man." Kata bocah kaya.
"Ini bukan karena dihajar oleh iron man, tetapi iron man itu apa?"
Bocah kaya itu tertawa terbahak-bahak. Si bocah penuh luka hanya memandang dengan bingung, memang dia tidak tau iron man itu apa. Mungkin sejenis kue bulat dengan rasa manis didalamnya.
"Masa sih kau tidak tau iron man? Iron man itu seorang pahlawan yang hebat. Pembela kebenaran." Jawab bocah kaya.
"Huh, mana ada orang seperti itu kalau ada aku pasti tidak akan mendapatkan luka-luka ini." Jawab bocah penuh luka.
"Dasar bocah kampungan, iron man itu sibuk tau dia punya jadwal sendiri untuk menyelamatkan orang." Sahut bocah kaya.
"Kau bilang aku bocah memang berapa umurmu?"
YOU ARE READING
Demon Painting
FanfictionObsession, Mutualism, Human, Blood, White Canvas and Destiny. The story about their decision to be a mutual, bring them to destiny on a white canvas.
