Jungkook sedang tidak ingin diganggu pada hari ini, apalagi oleh Hyerim atau Jimin. Lantas Ia mematikan ponselnya setelah mengirim pesan ke Jaein bahwa Ia sudah menunggu di dalam cafe.
Jungkook sudah tidak sabar, karena dia harus tau apakah benar Jaein akan membantunya. Apalagi dengan semua pikiran fan fantasi liar yang selama ini ada dalam otaknya. Jungkook ragu. Bukan ragu dengan apa yang ingin dilakukan, tetapi ragu apakah benar Jaein akan bisa menutup kegiatan mereka.
Tak lama lonceng pintu cafe berbunyi, Jungkook sempat melirik sedikit berharap itu sosok Jaein. Tetapi bukan, itu hanya seorang pria tinggi, bermata biru dengan rambut blonde. Jungkook mengalihkan pandangannya ke luar jendela, hingga dia merasa bahwa pria tadi berhenti di mejanya.
Jungkook menoleh ke arah pria tersebut dengan tatapan bingung. Pria itu hanya memandang Jungkook dengan mata biru yang sedalam lautan. Indah, pikir Jungkook.
"Lebih baik kau mengurungkan niatmu." Mendadak pria itu berbicara. Jungkook semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi sekarang.
"Apa maksudmu, Tuan? Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Jungkook dengan nada yang heran.
"Kau tau maksudku." Kata pria tersebut, lalu dia pun langsung berbalik dan keluar dari cafe. Jungkook tidak mengerti.
"Orang aneh." Gumam Jungkook pelan.
-00-
Jaein sudah sangat dekat dengan cafe dimana Jungkook menunggunya. Dia sangat bersemangat, berharap pertemuan ini bisa membuat dirinya merasa puas.
Jaein berjalan dengan agak cepat setelah turun dari bus, masa bodoh dengan kakinya yang pegal karena memakai high heels. Dia menyukai semua rasa sakit termasuk dari sebuah sepatu.
Saat sedang berjalan, mendadak seseorang menarik tangan Jaein. Jaein terkejut bukan main, dia sempat ingin memaki siapapun orang yang iseng tersebut.
"Kuharap kau mengingatku." Kata orang tersebut.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Desis Jaein. Dia benci. Benci dengan mata biru sedalam lautan itu.
"Hanya ingin menghentikanmu, sadarlah Jane. Kau harusnya menjalankan hukuman dengan tenang dan kembali." Kata pria tersebut.
"Diam! Kau selalu menghentikanku. Kau mengacaukan semua, dan aku tau kau lah yang membuatku dihukum Jin. Seandainya kau diam, aku masih bisa menjadi salah satu dari kalian." Sahut Jaein, lalu menarik tangannya dari Jin dan pergi menjauh meninggalkan pria itu.
Seandainya kau ada dipihakku. Seandainya kau tidak pernah melaporkannya. Aku membencimu Jin. Sangat. - batin Jaein.
Jin hanya bisa memandang Jaein menjauh, dia tidak bisa melakukan banyak hal. Aturan harus diikuti, seperti sekarang dia tidak bisa menarik Jane-nya begitu saja. Dia sudah diberi tahu. Dia sudah lihat semua. Yang Jin inginkan adalah Jane pulang.
-00-
Jaein akhirnya sampai, dia membuka pintu cafe dan melihat Jungkook telah duduk di salah sudut ruangan tersebut. Dia lalu berjalan menghampiri Sang Pelukis yang memandang keluar jendela.
"Menunggu lama?" Kata Jaein. Jungkook menoleh, dan memberikan senyumannya.
"Tidak, aku juga baru sebentar. Jadi mau minum apa? Kusarankan kan untuk memilih Caffe Mocha atau Espresso Con Panna. Semuanya hasil resepku." Kata Jungkook.
YOU ARE READING
Demon Painting
FanfictionObsession, Mutualism, Human, Blood, White Canvas and Destiny. The story about their decision to be a mutual, bring them to destiny on a white canvas.
