Di sisi jalanan kota itu terdapat seorang pemuda yang berlari kencang tanpa menyadari bahwa beberapa kelopak bunga mawar di genggamannya telah terlepas dan jatuh di tanah.
Napasnya tak beraturan. Paru-parunya nyaris terasa terbakar, namun Jungkook tak peduli. Seluruh pikirannya terfokus pada satu hal dan satu tujuan.
Jungkook berlari secepat yang ia bisa menuju rumah Yiseul. Ia ingin menyatakan perasaannya pada gadis itu.
Hingga akhirnya ia tiba di sana, di depan bangunan tua itu.
Lelaki itu menarik napas panjang dan mulai berjalan memasuki pintu utama. Hawa dingin mengelilinginya, sementara tembok berwarna abu-abu pucat terletak tak jauh dari kedua sisi pundaknya.
Jungkook tahu letak kamar Yiseul dengan pasti. Begitu tiba di sana, ia mengetuk pintu dengan pelan.
Ia berusaha menenangkan pikiran dan tubuhnya yang masih kelelahan, sementara pintu kayu itu terbuka dari dalam.
"Jungkook?" sapa Yiseul, kebingungan terukir jelas di wajahnya. Setelah menyadari bahwa napas Jungkook yang masih memburu, gadis itu melanjutkan, "Kau berlari ke sini?"
Jungkook menelan salivanya. Tidak siap untuk menjawab pertanyaan itu.
"Tunggu sebentar," Yiseul kemudian berjalan masuk ke kamarnya dan kembali dengan membawa sapu tangan.
Yiseul menatap wajah Jungkook, bertanya-tanya dalam hati ada perlu apa lelaki itu hingga datang ke rumahnya dengan keadaan seperti itu.
Perlahan, gadis itu melangkahkan kaki ke depan, mendekati Jungkook dan menyapu keringat di pelipisnya dengan lembut.
Jungkook terdiam di tempat. Kini bukan hanya paru-parunya, tapi jantungnya juga ikut bekerja dengan cepat.
Setelah menyingkirkan tangan dari wajah Jungkook, pandangan Yiseul tak sengaja tiba di bunga yang berada di tangan kanan lelaki itu.
Menyadari pandangan itu, kesadaran Jungkook kembali. "Ah, ini untukmu," ucapnya lalu memberikan mawar itu pada Yiseul.
Gadis itu tersenyum tipis begitu menerimanya. "Aku selalu berharap ada orang yang memberikan bunga mawar padaku. Tak kusangka bahwa hal itu terjadi hari ini."
Aku tahu, batin Jungkook.
Senyum yang terukir di wajah Yiseul saat memandangi bunga itu membuat Jungkook hatinya tenang sekaligus bahagia.
Ia benar-benar ingin melihat senyuman itu lebih sering lagi. Jungkook mendambakan hari-hari bersamanya kembali.
Mungkin ini alasan ia diperbolehkan kembali ke masa lalu. Untuk dapat melihat gadis itu bahagia.
Dan begitu saja, seluruh kerinduan yang ia miliki semakin memuncak dan memenuhi dirinya.
Hingga akhirnya Jungkook merengkuh badan gadis itu. Kedua tangannya memeluk Yiseul dengan perlahan.
"Aku tahu ini terlalu cepat bagimu atau tidak, namun ketahuilah bahwa aku sudah menahan diri terlalu lama," bisiknya samar.
Tindakan yang tiba-tiba itu sungguh mengejutkan bagi Yiseul. Belum lagi, ditambah dengan perkataan Jungkook selanjutnya.
"Aku menginginkanmu."
___
Kupikir aku sudah benar-benar gila karena kembali ke masa lalu, bagaimana bisa aku mengatakan hal mengejutkan seperti itu pada Yiseul?
Jungkook terduduk di ranjang, menutup mata dan mengacak-acak rambutnya. Ia tidak bisa tenang karena hal yang ia lakukan kemarin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backwards
FanfictionJungkook dan Seokjin adalah anak presiden Korea Selatan yang pertama. Meski begitu, kehidupan dua bersaudara itu bertolak belakang. Hanya satu hal yang menghubungkan mereka; wanita penghibur para pejabat, Ahn Yiseul. ❝They said we shouldn't look bac...
