Pagi menjemput Jungkook untuk segera berangkat dari tidurnya. Sebenarnya lelaki itu tidak dapat tidur dengan nyenyak semalam. Ia terus memikirkan foto yang ia taruh di atas dadanya dan juga objek dalam potret itu tentunya.
Dengan tatapan kosong, Jungkook bangun dari ranjangnya. Untuk memastikan sekali lagi, ia meraih secarik kertas foto itu.
사랑하는 사람
[Dengan orang-orang yang palingㅡ]
Dua huruf telah benar-benar menghilang dari sana.
Kepala Jungkook mulai pusing kembali. Ini seakan semesta sedang mempermainkannya. Hidupnya kini berubah menjadi teka-teki yang mustahil untuk dipecahkan.
Setelah terdiam cukup lama, ia pun memutuskan untuk meninggalkan rumahnya. Walau dengan kantung matanya yang hitam, Jungkook tetap harus bekerja sebagaimana cara untuk mengalihkan pikirannya.
"Ya, Jeon Jungkook? Ada apa dengan wajahmu? Apa kau mabuk semalam?" tanya Yoongi sesampainya Jungkook pada tempat kerjanya.
Dengan gontai, Jungkook berjalan hingga berakhir pada meja dimana seharusnya ia meladeni pelanggan. "Lebih parah dari mabuk, mungkin. Kemarin aku─"
Tak ada waktu untuk berempati, Yoongi yang sedang sibuk mengabsen senjata dagangannya itu segera mengalihkan pembicaraannya. "Aku mengerti. Tapi, bisakah kau lihat tanggal berapa hari ini? Aku harus mengambil stok senjata angin untuk bulan depan."
Jungkook menghela napasnya sejenak sebelum melirik pada kalender yang terletak tak jauh dari mata memandang.
"21 Agustus...," Suaranya mengecil kala benaknya tiba-tiba langsung mengingat masa lampau pada tanggal yang ia sebutkan. Semuanya bagai film lama yang terputar begitu cepat di matanya, Jungkook bahkan tak berkedip.
Ada insiden lain yang tidak dapat ia lupakan dalam sejarah hidupnya, yaitu kejadian di mana seorang teroris menyelinap ke dalam istana negara dan mengambil nyawa wanita yang ia anggap sebagai ibunya sendiri, Soo Myung In.
"Apa? Ulang, aku tidak dapat mendengarmu!"
Jungkook tidak menghiraukan perintah bosnya itu, pikirannya penuh dan otaknya sedang memproses segala informasi yang ia ingat.
Tak mendapat respon dari Jungkook, Yoongi pun berinisiatif untuk melihat sendiri kalendernya. "Ah, 21 Agustus. Tak terasa kita sudah hampir di akhir bulan saja,"
Sekali lagi Jungkook mengabaikan perkataannya dan sibuk dalam pikirannya sendiri.
Kejadian itu terjadi tepat pada tanggal 24 Agustus yang berarti hari ini pelaku tersebut akan datang untuk membeli senjata di tempat ini sekarang.
Sadar akan raut wajahnya yang aneh, Yoongi kembali mengulangi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. "Ada apa lagi denganmu?"
"Apakah sekarang hari ulang tahunmu? Kalau begitu, selamat! Kau sudah semakin bes─"
"Hyung, tolong dengarkan aku dengan baik-baik." Jungkook memegang pundak Yoongi dan membuatnya berhadapan empat mata dengannya.
"Hari ini kita akan kedatangan pelanggan dengan setengah wajahnya yang tertutup oleh sapu tangan biru dan memesan senjata tipe M1 Garand. Jika ia datang, abaikan saja permintaannya. Kumohon," pintanya dengan tatapannya yang lebih dari kata serius.
Yoongi memejamkan matanya dan menganggukan kepalanya dengan pelan. "Kali ini apa yang akan terjadi jika aku memberikan senjatanya?"
Perlahan, Jungkook melepaskan tangannya dari pundak Yoongi dan menjelaskan. "Dia adalah orang yang berbahaya, hyung. Ia akan menggunakan senjata itu untuk melakukan sesuatu yang sangat kejam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backwards
FanficJungkook dan Seokjin adalah anak presiden Korea Selatan yang pertama. Meski begitu, kehidupan dua bersaudara itu bertolak belakang. Hanya satu hal yang menghubungkan mereka; wanita penghibur para pejabat, Ahn Yiseul. ❝They said we shouldn't look bac...
