13 • Everything, yet Nothing has Changed

1.5K 194 26
                                        

Lantunan musik memenuhi ruangan yang berukuran sedang tersebut, nyanyian merdu wanita bergaun krem yang berada di atas panggung mungil pun tak luput dari pandangan beberapa pria yang tengah duduk rapi melingkari meja kayu persegi.

Ia menyanyi sembari menggoyangkan tangan serta pinggulnya dengan gemulai. Namun meski senyum indah terukir di wajahnya, matanya menyiratkan kehampaan. Ahn Yiseul tidak pernah suka pekerjaan ini, namun ia tak punya pilihan lain.

"Tempat ini memang pilihan yang bagus." Keheningan di antara mereka berlima dipecahkan oleh Han Gyeongsuk, salah satu menteri yang ikut dalam rapat rahasia hari ini.

Yang lain mengangguk seraya menyetujui Gyeongsuk. "Selain aman dan menyenangkan, wanita di sini semuanya tampak cantik," sahut Taeho yang tak berhenti menatapi lekuk tubuh para wanita yang ada di ruangan itu.

Tak jauh dari meja mereka, wanita dengan gaun krem tadi baru saja menyelesaikan lagu terakhirnya. Ia memilih untuk diam-diam menatapi kelimanya hingga akhirnya sebuah suara menyambar telinganya.

"Yiseul-ah, kau boleh beristirahat jika lelah." Wanita yang tengah membawa nampan berisi lima minuman sukses membuat Yiseul sedikit terkejut sebentar, atensinya beralih ke apa yang dibawa oleh wanita tersebut.

Dengan cepat, ia menawarkan dirinya dengan sukarela. "Biar aku saja, eonni."

Tawaran bantuan wanita cantik dengan senyum meyakinkan tentu saja tak bisa ditolak, segera ia menyerahkan nampan ke tangannya lantas mengingatkan untuk berhati-hati karena pelanggan tersebut adalah para petinggi.

Yiseul mengangguk, walau ia sebenarnya sudah tahu, bahkan sangat. Ia hapal semua nama kelima para pria di usia kepala tiga hingga lima itu.

Kang Dongma, Han Gyeongsuk, Park Namgyun, Choi Sangmin, dan Go Taeho. Kelimanya adalah para menteri istana yang hari ini mengadakan rapat rahasia secara informal.

Yiseul memantapkan lagi langkahnya sebelum akhirnya ia benar-benar sampai di meja para pengkhianat negara tersebut.

"Kudengar kemarin ada penyerangan di istana." Kalimat pertama yang Yiseul dengar begitu tiba di hadapan mereka. Yiseul yang terdiam sejenak.

"Ya, aku juga sempat lihat di koran. Tidak kusangka akan ada insiden konyol seperti itu." Pria tua bermarga Park itu tersenyum sinis.

"Sepertinya presiden sedang benar-benar lalai, bisa-bisanya istana ditembus seperti itu." Ada jeda sebelum Namgyun melanjutkan, "sungguh memalukan."

Sangmin berdeham, membuat Yiseul tersadar dan segera memasang kembali senyuman manisnya. Ia mendekat dan mulai meletakkan satu persatu minuman di hadapan mereka.

"Terima kasih, haha." Taeho berkata, dengan tangannya merayap menuju paha Yiseul yang terekpos lantas mengusapnya beberapa kali.

Yiseul masih menahan senyumnya, walau ia sebenarnya muak. Sering ia berandai jika saja keluarganya adalah orang yang berada, pasti ia tak akan pernah berada di tempat-tempat seperti ini─"melakukan pekerjaan yang amat beresiko dan menjijikan seperti ini.

Namgyun menyeruput minumannya. "Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah menentukan pihak?"

"Ah, tentang itu." Sangmin berdesis, "Ya.. tentu saja aku sudah memilih pihak."

"Kalian harus segera menentukan. Aku yakin kali ini akan berhasil, tenang saja. Jabatan kita juga akan naik."

Yiseul mengumpat dalam hati, ia selesai mengantarkan minumannya di kala pembicaraan tengah penting-pentingnya. Namun jika ia tidak pergi segera, pasti mereka akan mencurigainya. Yiseul membungkuk sekilas, kemudian berbalik dan melangkah dengan amat lambat─"berusaha mencuri dengar di detik-detik terakhir.

"Jika kita semua setuju dan bekerja sama, pasti akan lebih mudah menggulingkannya. Toh, juga sudah saatnya ia melepas jabatannya," kata Sangmin.

"Tapi, apa tidak apa begitu?" tanya Taeho ragu.

Gyeongsuk tertawa pelan. Tawa yang membuatmu ingin menampar wajah berkerutnya. "Tenang saja, dia sudah punya rencana."

Yiseul spontan menghentikan langkahnya perlahan.

"Dia?"

"Oh, Yiseul. Kau masih di sini?" Suara nyaring wanita di hadapannya berhasil membuat Yiseul mengumpat dalam hati.

"Ah, iya.. aku baru mau pulang." Yiseul mati-matian tersenyum dan membungkuk sekilas sebelum akhirnya pergi dari sana.

"Sial, kenapa harus di saat penting seperti itu? Padahal seharusnya aku bisa tahu siapa dalangnya." Umpatnya dengan suara kecil. Yiseul mendengus sebal, kemudian menarik napas panjang. Setidaknya ia mengantongi nama lima menteri pengkhianat untuk Seokjin.

___

Bunyi pintu kayu yang berderit menyambut kedatangan Jungkook di rumah kecilnya, pemuda itu memilih untuk pulang walau Seokjin sudah berkali-kali memaksanya agar menetap beberapa hari lagi di istana.

Ditutupnya lagi pintu rumah itu, lantas beralih menuju beda kotak di atas meja. Dipilihnya salah satu piringan hitam untuk diputar di turntable. Dalam hitungan detik, musik mulai mengalun indah.

Jungkook menghela napas panjang usai meminum segelas air, ia memilih untuk duduk di sofa. Dirinya belum sepenuhnya sembuh, bahkan luka bekas tembakan di lengannya terkadang masih terasa nyeri.

Namun jika mengingat kembali apa yang terjadi padanya kemarin dan ia bisa tetap hidup, Jungkook amat bersyukur. Terlebih bila bukan karena Yoongi yang datang tepat waktu, mungkin ia hanya tinggal nama sekarang.

"Tinggal nama, ya.." Jungkook berdesis, ia lantas mengingat tujuan utamanya yaitu untuk pulang ke rumahnya.

Dengan susah payah, Jungkook beranjak dari sofa menuju nakas yang terletak di samping tempat tidurnya. Tanpa berkata apapun, Jungkook membuka laci teratas dan menghela napas panjang.

Diambilnya selembar foto yang ada di dalam sana dengan perasaan kacau, ia harus memastikannya sekarang.

Jantungnya berdegup kencang, Jungkook membalikkan lembaran foto di tangannya dengan perlahan.

사랑하는
[Dengan orang-orang yang pa]

Hurufnya berubah. Jungkook nyaris membulatkan matanya sempurna hanya untuk memastikan tiap hurufnya.

"Sama sekali tidak berbekas," desis Jungkook yang masih mengusap-usap huruf di lembaran foto. Bila dipikir-pikir, kemarin juga sama. Huruf yang hilang tidak menyisakan bekas tinta sedikit pun.

Jungkook menarik napas, ia terduduk di pinggir ranjangnya. Pikirannya melayang jauh, ia tidak tahu harus bereaksi apa.

Huruf yang berubah menandakan ia telah merubah takdir sekali lagi. Penyerangannya tetap terjadi, namun pelaku berhasil tertangkap, bahkan Bibi Myung In pun selamat.

Jungkook terkekeh pelan, dirinya mengingat saat ia mengira bahwa dengan mencegah M1 Garand dimiliki pelaku mungkin sudah cukup untuk menghentikan penyerangan.

Ada pelajaran yang ia dapat, sepertinya ia memang harus menghadapi secara langsung, mencegah tidak mengubah apapun.

[]

HALOOO SEMUA

UWU UPDATEAN LAGII

Giveaway di chapter kemarin berlaku sampai OPEN PO yaa jadi buat yg belum sempet, silakan diikutin guyss

Question of the Day: Kalian udah bisa nebak gak siapa dalang yang mau turunin presiden??

HOHO YUK TEBAK TEBAKAN

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 03, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BackwardsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang