Pada akhirnya, ia bisa berakhir di sini karena Yoongi kalah taruhan. Ia yakin bahwa mereka akan kedatangan dua pelanggan lagi ketika sore hari.
Namun Yoongi tetap tak percaya hingga akhirnya kedua pelanggan tersebut benar-benar datang.
Sayangnya, Yoongi masih berpikir bahwa dirinya menang hanya karena keberuntungan. Entahlah, kemampuan Jungkook untuk menebak tentang apa yang akan terjadi selanjutnya hanyalah karena ia sudah pernah melewati seluruh fase ini.
"Baiklah, hyung. Aku tidak akan memaksamu untuk percaya, tapi kau harus tetap memegang janjimu. Kau adalah tipe pria sejati, bukan?"
Dengan perkataan itu, Yoongi pun menyerahkan secuil hartanya sebagai tanda kekalahannya dalam bertaruh tadi.
"Belilah apapun yang kau mau. Tapi jangan sampai aku melihat uang dari tanganku ini kau pakai untuk berjudi. Mengerti?"
Tanpa basa-basi lagi, Jungkook mengambil uang itu sebelum sang pemberi berubah pikiran. "Lebih baik aku bertaruh pada cinta dan takdir, dibanding bertaruh pada kartu."
Boro-boro berpikir berjudi. Jika kalian bertanya apakah Jungkook lapar, jawabannya adalah: Ya, tentu saja. Jungkook bahkan belum makan apa pun dari kemarin.
Ia sekarang berakhir di restoran jajangmyeon yang terletak di tengah kota.
Sebenarnya Jungkook sudah mendambakan makanan ini sejak lama, ia tak ingat kapan terakhir kali ia memakan jajangmyeon karena ia sudah harus tinggal di yayasan sejak umurnya 40-an.
Karena itu, ia sangat bersemangat sekali hanya untuk menyantap semangkuk mie kecap berminyak dengan lobak kuning sebagai sahabat sejatinya.
Mungkin setelah ini ia akan memesan satu mangkuk lagi, atau malah bisa saja ia memesan dua. Begitu pikirannya ketika menahan lapar sembari menunggu jajangmyeonnya, namun hanya dalam sepersekon kemudian, ia mengubah pikirannya.
Tiba-tiba saja Jungkook merasa tidak menginginkan jajangmyeon lagi kala melihat seorang wanita yang baru saja memasuki restoran.
Ya, wanita dengan mantel cokelat itu adalah Ahn Yiseul.
Wanita itu menengok untuk mencari tempat duduk, namun hal tersebut sangat fatal karena Jungkook bahkan sama sekali tidak berkedip menatapnya. Mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat sebelum akhirnya Yiseul mengangkat tangannya dan tersenyum manis menyapa Jungkook.
Jantung lelaki itu berdebar kencang, namun ia merasa sesuatu yang janggal kala Yiseul mulai berjalan menghampirinya.
"Oh, kau Jungkook, kan? Jika kau sendirian," Ada jeda sebelum Yiseul melanjutkan, "boleh aku duduk di sini?"
"Y-Ya, tentu saja," jawab Jungkook gugup.
Aneh. Ini benar-benar aneh. Seharusnya ia tidak bertemu dengan Yiseul hari ini, ia memang datang ke tempat ini namun hanya sebatas makan jajangmyeon dan pulang.
Lantas mengapa bisa ia bertemu dengan Yiseul di sini? Hari ini?
"Jungkook?" tegur Yiseul yang melihat Jungkook melamun di hadapannya.
"Ya?"
"Apa kau merasa tidak nyaman denganku? Maaf jika aku mengganggumu. Mungkin sebaiknya aku pindah tempat saja."
"Tidak, tidak. Aku merasa nyaman bersamamu." Kalimat tersebut sukses membuat Yiseul terdiam. Dan dengan wajah memerah, Jungkook segera meralat kembali kalimatnya.
"Maksudku, aku tidak keberatan."
Yiseul terkekeh, "aku tahu maksudmu, tidak perlu diralat."
Jungkook mengusap tengkuknya canggung, beruntung situasi hening di antara mereka dipecahkan oleh pelayan yang datang untuk mengantar makanan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backwards
FanficJungkook dan Seokjin adalah anak presiden Korea Selatan yang pertama. Meski begitu, kehidupan dua bersaudara itu bertolak belakang. Hanya satu hal yang menghubungkan mereka; wanita penghibur para pejabat, Ahn Yiseul. ❝They said we shouldn't look bac...
