Jungkook benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sungguh.
Keberadaan Seokjin muda di depannya terlalu membingungkan. Segalanya terasa nyata sekaligus terlihat fana.
Suara orang-orang di sekitarnya seolah ingin menyadarkan Jungkook bahwa ia tidak tengah bermimpi.
Dengan pikiran kacau, ia kemudian berdiri. Rasanya ada suara dalam hatinya yang meminta dirinya untuk berlari sekarang.
Maka, ia berlari. Jungkook berusaha pergi dari tempat itu hanya untuk tersambar oleh seseorang dari depan.
Badan lelaki itu goyah, namun ia masih dapat berdiri tegak. Begitu pula dengan orang yang ia tabrak, seorang wanita bergaun krem yang baru saja menaikkan kepalanya.
Untuk ke sekian kalinya, Jungkook terkesiap. Pertama, lelaki itu yakin bahwa ia pernah mengalami hal ini. Ia pernah hidup dalam momen ini. Dan kedua, ia mengenal wanita yang berada di hadapannya ini.
Wanita itu menatap Jungkook datar lalu menunduk sedikit sebagai permintaan maaf, ia mengalihkan badannya sementara Jungkook berusaha menyadarkan dirinya kembali.
Jika memang ia kembali ke masa lalu, berarti Jungkook telah kembali tepat di hari pertama ia bertemu dengannya.
"Ahn Yiseul," panggil Jungkook.
Wanita itu menoleh. Dari raut wajahnya terbaca dengan jelas, ia tidak mengenali Jungkook sama sekali.
Belum sempat Yiseul mengucapkan apa-apa, seorang wanita lain menariknya pergi sembari berkata, "Tunggu apa lagi? Sekarang giliranmu tampil."
Jungkook masih terdiam di tempat.
Empat puluh dua tahun yang lalu, mereka memang bertemu di tempat ini. Di acara kecil yang diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan Korea yang ke-10.
Dulu, Jungkook menabrak Yiseul secara tidak sengaja saat berjalan ke toilet, persis seperti hal yang baru saja terjadi. Bedanya, tentu saja dulu ia tidak memanggil Yiseul saat ia berjalan pergi.
Matanya berkeliling. Semuanya sama persis. Suasana ini, orang-orang yang ada di dalam ruangan ini.
Jungkook menarik napas. Baru saja, ia telah memantapkan hati untuk menjalani hari ini persis seperti dulu. "Mimpi atau bukan, aku hanya harus menjalani saja semua ini, bukan?"
Ia berjalan ke arah toilet dan mencuci wajahnya dengan air. Matanya menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya benar-benar kembali seperti saat ia berumur dua puluh tahun. Namun kali ini, ia tidak terkejut.
"Semuanya akan baik-baik saja." Jungkook menghela napas. Sekali lagi, ia meyakinkan dirinya.
Setelah itu, ia berjalan keluar dari toilet dan duduk kembali di samping Seokjin yang menatapnya dengan khawatir. "Kau dari mana? Mengapa wajahmu terlihat seperti orang linglung begitu?"
Jungkook berusaha bersikap biasa saja, "Toilet."
Mendengar jawaban itu, Seokjin memicingkan matanya seraya menyikut lelaki itu. "Kau yakin tadi kau tidak salah masuk, kan?"
Jungkook hendak menjawab, namun suaranya terendam dengan suara musik yang menarik matanya untuk menghadap pada panggung.
Di depan sana, Ahn Yiseul sedang membawakan sebuah lagu diiringi oleh beberapa penari latar di samping kanan dan kirinya.
Mata Jungkook tidak lepas dari wanita itu, menahan diri untuk tidak menangis akan haru yang ia rasakan.
Kerinduan yang ia rasakan seakan meluap memenuhi dirinya. Ia bahagia untuk dapat melihat Yiseul lagi, meski ini hanya mimpi belaka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backwards
FanfikceJungkook dan Seokjin adalah anak presiden Korea Selatan yang pertama. Meski begitu, kehidupan dua bersaudara itu bertolak belakang. Hanya satu hal yang menghubungkan mereka; wanita penghibur para pejabat, Ahn Yiseul. ❝They said we shouldn't look bac...
