Pemandangan langka yang ada di halaman istana menjadi tontonan menarik orang-orang yang berada di dalam istana, beberapa di antara mereka memberanikan diri mengintip dari balik celah gorden dengan perasaan was-was.
"Apa maksudmu?"
Pria di hadapan Jungkook mengernyitkan dahinya, pertanyaan itulah yang ia lontarkan pertama kali usai Jungkook muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
Jungkook menatapnya lurus-lurus, "bukankah aku sudah mengucapkannya dengan jelas?"
"Kau bercanda? Anak presiden seperti apa yang mau menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma seperti ini?"
Kerutan di dahinya memudar, namun sepertinya ia tidak berminat menurunkan tangannya yang masih setia mengarahkan pistolnya pada Jungkook.
"Mungkin-" Kalimat Jungkook terpotong.
"Berhenti di sana. Bahkan jika kau berbohong sekali pun, kau tetap harus pergi ke neraka." Jungkook menahan pusing di kepalanya. "Dan kenapa aku yang harus pergi ke neraka, bukannya kau?"
"Kalian ... kalian semua menghancurkan hidupku." Semua urat di wajah pria itu terlihat jelas. Ada jeda sebelum ia tiba-tiba berteriak, "ISTRIKU MATI DI TANGAN ORANG-ORANG BERJAS DI GEDUNG INI."
Jungkook membuka sedikit bibirnya, menunjukkan rasa ketidakpercayaannya atas apa yang ia dengar barusan. Belum sempat ia berbicara, pria itu mendelik tajam ke arah Jungkook, siap untuk menembaknya sekarang. "Setidaknya kau sudah tahu alasanku sebelum kau juga mati."
Tangan Jungkook merogoh kantung mantelnya dengan cepat, namun ia kalah cepat. Bersamaan dengan suara tembakan yang hampir memekakkan telinga, Jungkook ambruk ke lantai.
Kesadarannya berangsur menghilang. Ia seharusnya berdoa di saat-saat seperti ini, namun yang ada di pikirannya ialah: Ayah tidak mungkin melakukannya.
___
Sebenarnya, Jungkook pingsan terlalu cepat. Sehingga ia tidak menyadari bahwa lawannya juga ambruk di hadapannya-namun dalam posisi masih sadar, berteriak kesakitan karena kakinya yang tertembak.
Tak jauh dari mereka, Yoongi berdiri dengan pistol kecil di tangannya. Ia memiringkan kepalanya sejenak seolah tengah berpikir, "ini aneh, kurasa aku menembak tepat sasaran. Namun mengapa Jungkook terjatuh di lantai?"
Yoongi sendiri sebenarnya tidak tahu mengapa ia berada di situasi ini, ia hanya khawatir pada Jungkook yang tampak seperti pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa.
Ketika ia sampai, Yoongi melihat Jungkook dan pria asing beberapa waktu lalu tengah menodongkan M1 Garand padanya dari jarak yang amat dekat.
Yang dirinya tahu, ia harus menyelamatkan anak buah satu-satunya yang ia miliki itu, Yoongi bahkan menembak tanpa pikir panjang. Tapi tentu saja terkena tembakan di kaki tidak akan membuatnya mati, bukan?
Yoongi hendak menghampiri Jungkook, namun langkahnya terhenti saat ia melihat banyak orang yang tiba-tiba datang dan membawa Jungkook.
Beberapa di antara mereka yang tampak seperti penjaga membawa pria yang tadi ia tembak, bahkan dengan kondisi kaki seperti itu ia masih bisa memaki.
Kebingungan Yoongi bertambah dua kali lipat saat Seokjin berjalan menghampirinya dan menyodorkan tangan tanpa basa-basi.
"Namaku Kim Seokjin, terima kasih telah menyelamatkan kami semua. Jika ada waktu, saya ingin memberi penghargaan atas keberanian Anda."
Yoongi melongo tak percaya, ia tahu benar siapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini. Pria ini Kim Seokjin, putra presiden yang terkenal akan kharismanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backwards
FanfictionJungkook dan Seokjin adalah anak presiden Korea Selatan yang pertama. Meski begitu, kehidupan dua bersaudara itu bertolak belakang. Hanya satu hal yang menghubungkan mereka; wanita penghibur para pejabat, Ahn Yiseul. ❝They said we shouldn't look bac...
