"Kakak ..." Ladie membuka matanya. Gadis kecil itu berdiri dihadapannya. Matanya basah, tak ada darah dari hidungnya.
Ladie menepiskan tangan gadis kecil yang memegangi ujung jaketnya tersebut.
Plukkk
Tangan gadis kecil tersebut terjatuh di lantai.
Ladie membekap mulutnya, ingin rasanya ia menangis. Ingin berlaripun tak bisa. Seperti ada sesuatu yang mencengkeram kakinya.
"Kau sudah menyakiti aku! Kembalikan tanganku! Kembalikan tangankuuuu!" pekik gadis kecil itu histeris.
Ladie ikut menjerit, ia tak peduli jika tertangkap sekalipun.
Ladie berlari, melangkahi tangan gadis kecil itu, melewati tatapan gadia kecil yang begitu tajam kepadanya, ia menuruni anak tangga.
Pintu Losmen itu tertutup rapat, suara lonceng dimeja resepsionis berbunyi lagi. Namun tak ada satupun orang yang menggerakkannya.
*
Bona menemukan tempat yang ditulis Ladie. Ia mengambil sebuah bungkusan plastik. Didalamnya, terdapat sebuah peta dan berkas. Bona tertegun sejenak. kemudian ia memutuskan untuk membawanya pergi, ia akan menyelidiki soal dua barang itu.
Bona membawa serta Laptop milik Ladie..
*
Di tempat lain
"jadi maksudmu, kamera pengintai itu sudah ditemukan seseorang?!" hardik Pria.
Pria lainnya mengangguk dengan ketakutan.
"Sial! Bagaimana bisa?! Aku tidak mau tahu, aku sudah membayarmu untuk pekerjaan ini, dan bereskan masalah ini dalam hitungan Empat Puluh Delapan jam!" teriaknya. Pria itu mengangguk lagi, kemudian ia memejamkan mata, saat pintu ruang kerjanya dibanting begitu keras.
"
Ruang Kerja
Tuuut Tuuuuuuuttttt
"Hallo ... Heh, semuanya kacau! Semuanya berantakan! Kupikir kau satu - satunya orang yang bisa kuandalkan! Dengar, Boss besar hanya memberi kita waktu Dua hari untuk menemukan berkas itu! Atau kau mau hidupmu kembali dijalanan, Hah!" teriak pria itu dari balik telepon genggamnya.
"Seseorang sudah menemukan akunku! Aku rasa, dia bukan orang sembarangan! Apa mungkin gadis tolol itu mampu berpikir sejauh itu soal membayar seorang Hacker?!" jawab dari seberang sana.
"Aku tak mau tahu soal itu! Kau selesaikan tugasmu, dan ku menyelesaikan tugasku! Dua hari! Ingat itu, Dua hari! Dasar bodoh! Percuma saja aku membayarmu mahal!" balasnya. Lalu pria itu membanting ponselnya ke atas sofa.
*
"Mau lari kemana kau, gadis manis?" suara langkah kaki dan perempuan dengan rambut awut - awutan, yang tiba - tiba muncul dari lorong gelap.
Tangannya menggenggam sebuah untaian besi, oh bukan!
Itu adalah sebuah Rantai.
Ladie mundur, namun tubuhnya tak mungkin mundur lagi, sebab dibelakangnya, adalah kayu penyangga tangga. Jika ia nekat melompat, dapat dipastikan kepalanya hancur, atau tubuhnya remuk dan ia mati konyol karena ketakutan.
Dan keesokan harinya, pada Koran Ibukota, di Headline News akan terpampang dengan huruf kapital,
Seorang Gadis Menjatuhkan Diri Dari Lantai Dua Karena Takut Akan Serangan Zombie!
Sangat tidak relevan!
*
"Pergi! Jangan ganggu aku! Jangan ganggu akuu!" teriak Ladie.
Perempuan itu tertawa, tangannya memukul - mukul rantai kian kemari.
Ladie benar - benar ketakutan, dan disaat itu, ia mendorong tubuh perempuan itu dengan sisa tenaganya.
Tubuh perempuan itu jatuh tersungkur, tapi tawanya terdengar lagi.
Ladie berlari, berlari menyusuri lorong gelap. Ia hampir saja menabrak seorang room boy, yang sedang mendorong trolli berisi ...
'Astaga!'
Ladie menjerit untuk kesekian kalinya. Room boy berwajah pucat itu sedang mendorong trolly berisi senampan usus manusia, dan dua Water Goblet berisi air berwarna merah.
Itu darah! itu darah!
Room boy menyeringai, ia mendorong trolly hingga mengenai kaki Ladie. Ladie menjerit, ia jatuh tertelungkup.
Sepasang kaki bersepatu adalah satu - satunya pemandangan, saat pertamakalinya Ladie membuka mata.
*
"Ja jangan ... Aku mohon lepaskan aku ..." gumam Ladie dengan nada memohon. Orang yang mengenakan sepatu kulit itu mengulurkan tangan. Ladie menatap tangan itu, kemudian kepalanya terangkat.
"Elang!" jerit Ladie. Ia berdiri, kemudian menatap wajah Elang berkali - kali dari atas hingga bawah.
Elang berdiri sambil tersenyum. Lalu ia merengkuh tubuh Ladie kedalam pelukannya.
Ladie mengedarkan pandangan, Room boy misterius itu menghilang, entah kemana.
Trolky yang tadi menabraknya pun tiba - tiba saja menghikang. Ladie masih dalam kebingungan, ia melepaskan diri dari pelukan Elang. Yang terasa semakin menyesakkan dadanya.
"Elang ...l gumam Ladie.
"Lepaskan aku ... Elang! Elaaang, tidaaaaakkkk!" wajah Elang berubah menjadi seperti Monster. Pipinya menggembung, papanya menyaka hijau, giginya bertaring, lidahnya menjulur seakan tak sabar untyk menjilat wajah Ladie.
Ladie memberontak, namun sia - sia, Elang benar - benar melumat wajah gadis tersebut yang sedang menangis keras.
Napas Elang terdengar berat, seperti melihat mangsa, monster itu melumat bibir Ladie dan menghisapnya.
Ladie menjerit, mencoba terus meronta. Ketika tangan besar Elang tiba - tiba menyusup ke dalam baju yang dikenakannya. Sati senti lagi, tangan kekar itu menyentuh payudaranya.
Entah kekuatan apa yang tiba - tiba muncul dalam diri Ladie, gadis itu menggigit kuat - kuat lengan monster tersebut. Membuat Elang mengerang, dan Ladie menendang selangkangan pria itu, ia berlari, berlari entah kemana.
*
Di Lain Tempat
"Sayang, kira - kira bagusnya warna apa ya?" tanya Ria.
"Ummm aku rasa, warna Peach lebih cocok untukmu, Sayang," jawab Elang .
Keduanya terlibat diskusi kecil. Tentang warna gaun apa, yang akan dikenakan Ria di pesta pertunangan keduanya.
Sejak sore tadi, hingga selarut ini ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Kustom Sindikat
Teen FictionApa yang akan Kau lakukan, jika Kau mendapatkan sebuah surat Wasiat yang tidak biasa? Bukan Uang, bukan Harta, Bukan Emas ataupun Sawah! Melainkan hanya sebuah Motor Antik. Itu terdengar biasa saja, bukan? Tapi, bagaimana jika dibalik apa yang diwar...
