BAB VI

3.4K 370 42
                                        

...

Untuk hati yang mungkin terluka
Kegetiran menangis dalam sunyi
Menyesali tak akan pernah henti

Menahan rindu sendiri
Dan mendiami hati tanpa pujaan hati.

Kesempitan ruang hati yang dulu terjadi kini tersisa kekosongan tanpa pengisi.

Menjadi ketakutan bengis yang mengisi hati atas apa yang sudah terjadi?

. . . .

Dari awal hingga penghujung cerita semua bertujuan untuk cinta, sakit atau bahagia semuanya karena cinta yang datang tanpa pemberitahuan dan pergi tanpa sebuah pesan. Di dunia yang serba fana ini menjanjikan kebahagian dengan alasan cinta dan rasa merajuk pada kenikmatan hidup yang nyata.

Semesta memang memiliki caranya sendiri untuk menciptakan pembaharuan dan pengetahuan melewati manusia sebagai tangan kanan dari otak dunia. Menjadikan dunia lebih baik juga membuat dunia lebih buruk tanpa disadari.

Disebuah rumah sakit bertepatan dihadapan ruang Operasi sebuah tangisan menggema dari penghujung koridor dimana ruangan Operasi seseorang tidak sadarkan diri pandangannya hanyalah samar-samar terang tanpa tahu dimana saat ini dirinya berada, beribu tanya bergentayangan dalam otaknya sementara sekujur tubuh terasa berat untuk digerakan.

Seperti mimpi dalam pikirnya, namun tampak nyata juga sehingga membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa bahkan tubuhnya terasa berat dan mati rasa hanya sebuah bayangan yang tidak bisa dijelaskan dengan bicara hanya melalui hatinya Ia bertanya-tanya.


Hari itu seperti hari yang paling buruk dari sekian hari terburuk dalam kehidupan orang-orang yang saat ini tengah menahan kegelisahan dalam bentuk tangisan maupun diam. Sebuah pikiran meracau membayangkan yang seharusnya tidak mereka inginkan sehingga ketakutan memuncak menjadikan dunia mereka hanya memiliki ketakutan pada hari ini.

Buliran-buliran kristal jatuh tanpa diminta dan sesaknya hati seperti disayat oleh samurai tajam bahkan dada berdetak tak seirama seperti sedang jatuh cinta namun lain juga rasanya dicampur beragam pertanyaan dan drama ekspektasi dalam benak dan pikiran menjadi berkecambuk dalam hati yang terus berteriak memohon kepada Tuhan atas keselamatan kedua untuk tercinta.

Sementara disisi lain disebuah rumah besar mewah yang tampak sunyi nan sepi terdengar seorang pria tengah berbicara pada gadis kecil dihadapannya yang tengah termenung dalam diamnya. Disebuah kamar yang besar dan juga bertema klasik menambah kemewahan bentuk kamar yang hanya didiami dua orang manusia hari ini.

"Paman punya ide! Bagaimana jika kita membuat catatan kecil lalu dikumpul dalam toples. Setuju?" Wonwoo tampak berdoa dalam hati berharap Jiena setuju akan pendapatnya agar kebosanan tidak terus menghantui mereka. Serta mengalihkan apa yang menjadi pusat lamunan Jiena terjadi agar tidak membuat keponakannya cemas berlebihan walaupun Wonwoo sendiri tengah gelisah karena kejadian kejam yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan olehnya.

Bahkan jika diingat kembali begitu memuncak emosi. Jika waktu bisa diulang, Wonwoo bisa saja menahan perilaku Seulhee pada Hanna sehingga tidak menyebabkan terjadinya hal menegangkan seperti ini.

"Iya..."

Jiena mengangguk pelan walau didalam hatinya berdoa demi keselamatan kedua orang tuanya, dia hanyalah anak kecil yang tidak mengerti bagaimana, kenapa, apa yang sebenarnya terjadi?
Jiena hanya tahu bahwa saat ini kedua orang tercinta yang dia miliki sedang dalam masa sulit. Kedua orang tuanya sedang melawan luka demi keselamatan.

Polygamy [Season 2]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang