(Namakamu) POV.
Aku, memang tidak mempunyai hubungan pertemanan baik dengan Raisha. Hanya sekedar kenal, tanpa tahu lebih dalam tentangnya.
Aku juga baru tahu kalau Raisha dulu pernah dekat dengan Mungga. Karena aku tidak mau tahu selebihnya.
Aku, Raisha, Sierra, Diva, dan Verina memang tidak sekelas. Begitupun kami dengan Mungga dan Diat.
Hanya Diva dan Verina yang sejak Kelas 2 sekelas sampai saat ini.
Sierra yang kini juga sedang masa-masa dekat dengan Mungga. Iya aku tahu. Waktu itu Aku sedang bermain kerumahnya. Dan Hanya kami berdua saja dirumahnya.
Tidak sengaja aku membuka Handphone milik Sierra, membuka aplikasi berwarna hijau. Dan diatas tertera Nama Mungga.
Aku sengaja membuka percakapan antara Sierra dengan Mungga. Percayalah, aku sudah banyak cerita dengan Sierra tentang Mungga.
Aku yang sudah jujur ke Sierra bahwa aku mempunyai rasa kagum pada Mungga.
Semua isi percakapan itu sungguh membuat jantungku seperti berhenti dalam beberapa saat. Aku menghela nafas.
Mungga denganku berbeda, percakapan kami selalu tidak sepanjang percakapan Sierra dengannya.
Aku yang selalu mengharapkan Mungga. Tetapi, Tidak sebaliknya.
Percakapan terpanjang kami adalah disaat Mungga bercerita kalau dia sedang menyukai seseorang yang aku sendiripun tidak tahu siapa orang itu.
"Gue yang terlalu berharap, atau dia nya yang nggak peka?" Katanya.
"Dia dingin banget"
"Gue juga ga enak sama temen gue,"
Sampai sekarang, aku masih ingat dengan kata-kata itu. Kata-kata yang dikirim oleh Mungga.
Dia seperti menceritakan Diva, temanku.
Aku dan Sierra percaya bahwa yang dimaksud Mungga adalah Diva.
Aku bisa menebak perasaan orang lain, seperti Sierra.
Pada saat aku bercerita tentang Mungga, Sierra seperti tidak suka, ia seperti ingin menghentikan aku bicara.
Terlebih lagi, kalau aku bercerita melalui pesan. Sierra selalu mengalihkan pembicaraanku. Ia selalu menanyakan hal yang tidak penting. Aku mengerti.
Diva tidak tahu kalau aku sedang suka dengan Mungga. Aku sengaja tidak memberitahu kepada Diva. Hanya Sierra yang tahu semua ini.
Dan aku berharap, Jika Diva tahu semuanya, Dia tidak akan marah kepada ku.
(Namakamu) POV OFF.
***
Seperti hari biasa, N/k disekolah tidak pernah menyapa bahkan tersenyum kepada Mungga, begitupun Mungga.
Pernah sekali N/k menyapa Mungga, dan tersenyum kepadanya. Namun, yang ia dapat hanya tatapan yang sama sekali tidak berekspresi.
Itulah, alasan mengapa N/k tidak lagi mau menyapa ataupun tersenyum Kepada Mungga.
"Lo kenapa sih? Lo aneh banget!" Tanya Diva, tangannya masih mencengkram kuat tangan N/k.
"Aneh kenapa sih Div?" Lirih N/k.
"Lo aneh. Lo ada masalah kan? Sekarang lo nggak pernah cerita ke gue. Kenapa (Nam)?"
Ara yang ada disebelah N/k hanya melihat keduanya saling melemparkan pertanyaan.
"Diva!" Teriakkan Verina, membuat ketiga orang yang berada tidak jauh dari lapangan itu menengok kearahnya
Terlihat jelas, bahwa Verina berjalan pelan menghampiri N/k, Diva, dan juga Ara.
"Lo ke kelas duluan aja Ra," Suruh N/k. Ara hanya mengangguk paham, setelah itu ia berjalan meninggalkan N/k dan juga Diva.
"Lo ngapain disini? Malu diliat--" Ucap Verina saat sudah didepan kedua orang itu.
"Nggak, sebentar." Sela Diva.
"Lo kenapa sih? Ayo lah jujur," Lagi-lagi Diva memaksa N/k untuk memberitahu semuanya, dan N/k menggeleng lemah, kemudian terseyum tipis, lalu berlari menjauh dari Diva dan juga Verina.
Verina yang terlihat bingung dengan apa yang dibicarakan Diva kepada N/k. Kemudian bertanya
"Kenapa sih?"
"Biasa," Jawab Diva singkat.
***
"Lo kenapa sama Diva?" Tanya Sierra, saat N/k sudah duduk disampingnya.
"Emang gue kenapa?" Tanya N/k balik.
"Lemot!" Hardiknya pada N/k.
"Lah, mana gue tau. Orang lo nya aja nggak ngasih tau gue!" Sahut N/k
"Gue nanti ulangan fisika,"
"Gak peduli gue. Bye! Selamat berjuang!" N/k segera bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan keluar dari kelas Sierra.
***
Mungga duduk di kursi kantin ditemani handphone dan earphone yang terpasang dikedua telinganya. Sesekali Mungga bernyanyi mengikuti lirik lagu yang sedang ia putar.
"Woi!" Teriak Diat.
Mungga tidak kaget, tetapi semua siswa maupun siswi didalam kantin menatap sinis kearah Diat.
Diat menyengir, "Hehe sorry sorry"
"Tabokin aja tabokin. Gue ikhlas," Pekik Ray tiba-tiba.
"Gue nggak buat mereka babak belur, kenapa lo nyuruh mereka buat bikin gue babak belur, Ray?" Tanya Diat yang dibuat emosi oleh Ray.
"Ray bercanda, Tsalsa Diat!" Ujar Mungga penuh penekanan disaat nama 'Diat' ia sebut.
"Yaudah, gue juga bercanda" Kata Diat.
"Serius banget sih lagian," Kata Ray.
"Cabut seru nih, gue males pelajaran Fisika" Sambungnya.
"Tobat goblok!" Diat menjitak kepala Ray pelan, tapi sakit.
"Yah, kalo sekali mah sabi. Yuk!" Mungga menerima ajakan Ray. Dan mereka pergi dari kantin. Lalu berjalan kearah pintu belakang.
Dimana pintu tersebut hanya diketahui oleh sedikit murid disekolah ini, dan Mungga salah satu murid yang tahu. Diat dan Ray? Ia tahu karena Mungga.
***
TBC!
Sedikit alay--
Maaf banget, udah lama gak ngeup. Buntu dah gatau lagi. Oiya buat satu lagi, buat B sama M dan N. Ini semua nggak semuanya nyeritain tentang dia, wkwk.
KAMU SEDANG MEMBACA
STRUGGLE
Fanfiction•SILAHKAN BACA• Semoga ceritaku bisa membuat kalian terhibur!
