"Ngapain disini? Nggak ngantin?" Seseorang mendekati N/k yang sedang berdiri di depan pintu kelas.
N/k menengok ke samping, dan ditemukanlah Hendri, si Ketua Osis yang berjalan mendekati N/k dengan santai.
"Kenapa? Nggak ada uang ya lo?" Hendri tampak terkekeh dengan pertanyaan yang ia berikan kepada N/k.
N/k menatap sinis laki-laki disampingnya itu.
"Berisik lo, Diat kemana?"
"Waduh, udah lampu ijo ni ya?"
N/k tidak menjawab pertanyaan dari Hendri. Pertanyaan macam apa itu? Tidak usah menjawab juga tidak membuat N/k rugi.
N/k melangkahkan kakinya menuju kantin, meninggalkan Hendri yang masih berdiri ditempat tadi.
"Seharusnya gue nggak nanya kaya gitu ke Hendri" Gumam N/k.
Entah, sampai saat ini N/k masih saja memikirkan Diat dan adik kelasnya itu.
"Mereka punya hubungan apa sih?" Lagi-lagi N/k berbicara sendiri.
"Mereka, siapa?" Seseorang telah mendengar suara N/k yang sedari tadi berbicara sendiri.
Suara laki-laki itu yang membuat N/k memutarkan badannya ke belakang.
"Orang lah," Jawab N/k.
"Iya gue tau, tapi siapa?"
"Gue laper"
***
"Kata Hendri, lo nyariin gue tadi?" Tanya Diat yang kini berada dikantin bersama N/k.
Tadi saat bertemu dengan N/k di koridor, Diat memang sengaja mengikuti N/k pergi menuju kantin.
N/k hanya mengangguk, dan memilih untuk melanjutkan acara makannya itu.
Diat masih saja memperhatikan wajah milik N/k, sesekali ia meminum Jus melon nya yang dipesan bersamaan dengan N/k.
N/k yang menyadari bahwa Diat sedang memperhatikannya langsung angkat bicara.
"Nggak usah ngeliatin gitu, kalo mau mah bilang aja. Gengsi banget!"
Diat tersenyum. "Lo tuh lucu banget ya, diliatin aja ngomel-ngomel. Dasar, nenek lampir!"
"Nih ya, biasanya kalo orang ngeliatin orang itu, bisa jatuh cinta. Dan gue nggak mau buat lo jatuh cinta sama gue." Ucap N/k.
"Nggak bakal deh gue jatuh cinta sama lo. Kecuali perasaan sayang ke lo,"
N/k mengambil tissue yang berada tepat didepannya.
Dengan cepat N/k mengusap pipinya. Itu, salah satu cara untuk menutupi pipinya, yang N/k yakin sudah memerah akibat perkataan Diat.
"Pedes, sumpah" Alibi N/k.
***
"Basket atau bola?" Tanya N/k.
Hari ini, Diat yang mengantarkan N/k pulang kerumahnya. Dengan menaiki motor matic milik Diat.
"Lo aja deh. Gapapa kan?"
"Gue serius, Diat"
"Beneran mau serius nih?" Tanya Diat lagi.
Orang yang sedang bersama N/k saat ini memang benar-benar membuat N/k kesal.
"Bola lah, N/k." Jawab Diat setelah beberapa detik diam.
"Basi, bego"
***
"Gue udah mulai suka sama lo, N/k" Ucap Diat saat sampai tepat didepan rumah N/k.
N/k tidak langsung turun dari motor Diat, melainkan berdiam sebentar, mencerna perkataan Diat.
"Turun et," Suruh laki-laki itu.
"Makasih. Masuk dulu nggak?"
"Boleh?"
"Gak. Ya boleh lah, kalo nggak boleh ngapain gue nawarin lo,"
"Lain kali aja ya," Ucap Diat langsung menancap gas nya.
Setelah Diat pergi, N/k memasuki rumah, berjalan lesu menuju pintu.
Tas yang dari tadi digendongnya, kini dijatuhkan kebawah lalu ditarik tepat di bagian atas tas tersebut dan berjalan sambil menyeretnya bagai koper.
"N/k, tas nya jangan di seret-seret. Mama nggak akan beliin kamu tas lagi nanti," Ucap Mama N/k yang sekarang berada didepan pintu masuk.
N/k masih saja terus berjalan, sampai didepan pintu N/k duduk dilantai sambil membuka sepatu yang ia kena kan.
"N/k, denger Mama ngomong, gak?" Rahma dibuat emosi olehnya.
"Heeh denger. Lagi juga nggak bakal rusak, paling kotor doang."
"Udah masuk cepetan," Rahma menyuruh anak bungsu nya itu untuk segera masuk.
N/k langsung berdiri dan menyalimi Mama nya.
***
"Lo kapan balik ke Semarang lagi sih?" Tanya Diat.
"Gue mau tinggal disini,"
"Apaan? Nggak! Apa-apaan sih, gue nggak nerima kalo lo tinggal bareng gue disini."
"Yang punya rumah Om gue. Ribet banget lo,"
"Om lo sama dengan Ayah gue," Jawab Diat tak mau kalah.
"Lo ngekos aja, Ta." Sambungnya memberi usulan untuk Genta, sepupu nya itu.
"Selagi masih ada kamar diatas, gue nggak akan mau nerima usulan lo itu."
"Emang lo mah tai,"
***
Dua hari yang lalu memang Mungga tidak bersekolah. Ia lebih memilih ikut dengan orang tua dan juga adik nya itu ke Depok.
Sudah sangat lama keluarga Mungga tidak berkunjung ke rumah tersebut.
Di rumah yang berada di provinsi Jawa Barat itu memang tidak terisi oleh siapa-siapa.
Maka dari itu, Ayah dan Ibu Mungga sempat berfikiran untuk menjual rumah tersebut. Tetapi Mungga tidak setuju dengan apa yang ingin dilakukan oleh kedua orang tuanya itu.
Dan hari ini, keluarga Mungga memutuskan untuk pulang ke rumah yang ada di Jakarta.
Dengan alasan, Mungga tidak ingin berlama-lama libur sekolah karena sebentar lagi sekolah akan mengadakan Ujian Kenaikan Kelas. Tidak baik jika berlama-lama, yang ada Mungga bisa tertinggal pelajaran.
Sebenarnya, Mungga punya satu alasan lain. Alasan itu yang membuat Mungga ingin cepat-cepat pulang dari Depok.
"Gue nggak ketemu lo selama dua hari aja udah kangen. Gimana kalo bertahun-tahun?"
***
TBC. C U 💙
KAMU SEDANG MEMBACA
STRUGGLE
Fanfiction•SILAHKAN BACA• Semoga ceritaku bisa membuat kalian terhibur!
