Wonwoo mengeluarkan semua benda apapun dalam tas ransel Fossil travis backpack brownnya. Alisnya menaut dengan decakan keras dari bibir plumnya. Walaupun barang bawaannya sedikit, tetap saja meja mendadak berantakan. Wonwoo kan cinta kerapihan.
Berasa unboxing tas milik Choi Wonwoo.
Jika kalkulator itu tertinggal di atas nakas kamarnya, bisa jadi masalah besar. Ia mendesis. Hari ini praktikum dan ia lupa membawa kalkulator. Sungguh, lebih baik ia pulang dari pada terlihat bodoh di depan dosen dan teman temannya. Yang benar saja, pewaris Choi resto bisa seceroboh ini.
Pemuda ini mengambil manajemen keuangan dan nyaris seluruh materinya hitung hitungan. Kalkulator hukumnya fardu'ain, itu yang membuat Wonwoo putus asa. Baiklah, ia akan keluar kelas untuk mencari pencerahan.
"Nih, aku pinjemin,"
Wonwoo mendongak soalnya yang bicara raksasa, tinggi besar nan eksotis. Matanya merolling jengah. Jika ada yang menawarkan bantuan, ia akan senang hati menerima kecuali raksasa ini.
"Yakin ndak mau ngambil?"
Pemuda satunya menahan senyum, menyodorkan kalkulator dengan kelengkapan yang hakiki —memang untuk anak manajemen.
Lelaki yang lebih mungil diam, tidak berekspresi apapun.
"Hari ini ada praktikum. Apa kata anak anak kalau seorang Choi Wonu pulang karena ketinggalan kalkulator? Atau bagaimana reaksi mereka kalau Wonu dapet nilai anjlok?" Mingyu berdecak menggoda, "Koe teledor tenan, Won."
Tangan lembut Wonwoo merebut kalkulator —di antara para buku buku— di atas mejanya. "Suwun."
"Eits, tapi nggak gratis."
Mata Wonwoo melebar, memelototi Mingyu agar menarik ucapannya kembali. Ingin rasanya menoyor wajah picik Mingyu pakai buku Law of Attraction-nya.
"Santai santai," Mingyu menyeringai hingga gingsulnya yang mematikan nampak. Ia mengecek jam tangan hitam di pergelangan kirinya, "Aku cuma mau kamu nurutin apa yang aku bilang selama tiga hari kok! Dimulai dari hari ini. Gimana?"
Jujur saja, Wonwoo pernah menonton sinetron ya paling tidak sekali seumur hidupnya. Di dalam sinetron, tokoh utama pria membantu tokoh wanita dengan syarat menjadikannya pembantu selama sebulan. Sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta lalu tamat. Itu adalah penutup paling buruk yang pernah Wonwoo tonton.
Please, Wonwoo isn't a maid.
Tetapi tiga hari rasanya terlalu singkat untuk bisa mencintai seorang Aji Mingyu Tamawijaya. Wonwoo mengangguk pada akhirnya, "Aku setuju, cuma tiga hari."
Mingyu melepaskan kalkulator tersebut dan melihat Wonwoo memasukkannya ke dalam tas bersamaan kala ia membereskan mejanya yang berantakan. "Aku minta id line dong!"
Wonwoo memandangi Mingyu dengan kerutan di keningnya.
"Yo moso' aku ndak punya id linemu. Nanti kalau aku mau nyuruh, susah dong, Won,"
Mendengar ucapan Mingyu, Wonwoo menghela napas panjang. Ia mengambil ponsel di tas lalu membuka aplikasi line. Lalu menunjukkannya tepat di depan wajah tiang listrik itu, "Buruan catet, wonuchoi ikutin format tulisannya."
***
Sebelum pulang, Jisoo mengajak Jihoon untuk mampir ke kantin fakultas kedokteran. Selain karena bosan, Jisoo anaknya steril dan nggak mau sembarangan beli jajanan di luar tempat. Padahal Jisoo hanya ingin membeli salad buah dan lemon tea.
Mereka memesan menu andalan dan memutuskan untuk duduk duduk di salah satu bangku kantin.
"Su, jangan kelamaan. Gue males lama lama di sini," Jihoon mengaduk lemon tea-nya —dia tidak membeli salad buah— tak berperasaan. Sesekali menyeruput kemudian matanya menelusuri sekeliling.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choi Squadh [SVT] ✔
FanfictionChoi Seungcheol dan istrinya, Choi Jeonghan sudah menikah belasan tahun dan hidup tentram di Kota Istimewa Yogyakarta. Mereka dikaruniai enam orang anak laki laki cantik yang semuanya lebih mirip gen sang Mama. Memang iya, semuanya lelaki cantik nan...
![Choi Squadh [SVT] ✔](https://img.wattpad.com/cover/153905975-64-k712792.jpg)