Happy
Reading....
◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌
Alex muncul tepat dihadapan Zero menghalangi pandangan Zero pada Ana yang jatuh pingsan, "Aku tidak akan mengambilnya, aku hanya ingin menyapanya saja" Alex masih diam menatap datar Zero yang berucap dengan seringai mengejek. Merasa menang dari Alex yang sekian kalinya terlambat menyelamatkan gadis yang ia sayangi.
Tatapan mata Alex kelam tanpa riak apapun, tatapan itu terlalu tenang hingga siapapun tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. "Aku tau, dan aku juga tau mengenai salam sapamu itu" suara Alex datar dan dingin.
Hembusan angin muncul dari belakang Alex, menerpa Zero dan pengikutnya. Tanpa disadari para pemburu itu musnah bagaikan serpihan pasir, luruh dan basah bercampur tanah. Zero terkekeh melihat hal itu, ia cukup terkejut dengan tindakan Alex.
"Kau semakin kuat ketika meminum darah suci gadis itu" Zero melirik anna yang terbaring dengan tatapan haus. Ia ingin menculik anna namun Alex mengawasinya seperti predator, mengambil langkah yang salah, maka pria dingin didepannya itu akan menyerangnya tanpa memikirkan hubungan darah diantara mereka lagi.
"Aku ingin membunuhmu" ucap Alex membuat perhatian Zero teralihkan dan kini balas menatap mata saudaranya. Tatapan itu dingin membekukan. Namun Zero menanggapi tatapan itu dengan bahagia. Terlalu bahagia hingga pria itu tersenyum lebar dan kini menyeringai memperlihatkan gigi taringnya.
"Apakah kau tau saudaraku Alexander?" ucap Zero dengan nada rendah, nyaris berbisik "Aku sangat menikmati kejayaanku bersama annara dahulu, dia memberikanku kehidupan dan kekuatan walaupun dengan cara mengikatnya layaknya ternak"
"Dan aku sangat senang melihatnya menangis memanggil namamu yang sedang terpuruk akibat kekalahan, tak dapat mengalahkanku" Zero terus menatap wajah Alex, memperhatikan setiap ekspresi yang keluar diwajah pria itu. Zero sangat suka melihat ekpresi kesakitan Alex.
"Aku suka ekspresi menyedihkan itu. namun annara sudah tiada tergantikan oleh Anna yang lain, gadis muda yang kau jaga hingga dewasa sampai saat ini" Zero masih melirik tubuh anna "Tapi aku akan menjadikan Anna ke-2 yang kau sayangi ini menjadi ternakku"
Kilatan disertai hembusan angin kencang menerpa Zero setelahnya tangan dingin layaknya besi mencengkram leher Zero kuat. Alex tak peduli dengan pria yang memiliki darah yang sama dengannya itu menatapnya penuh kebencian. Ia ingin Zero menutup mulutnya dan berhenti membuatnya ingat ingatan kelam itu.
"Aku benar-benar akan membunuhmu dengan cara apapun" desis Alex geram sudah cukup baginya menahan amarah. Ia terlalu banyak memberikan Zero kelonggaran dan selalu melepaskan pria itu hingga ia bertahan hidup lebih lama. Ia melakukan itu sebagai konpensasi atas apa yang dilakukannya dahulu hingga membuat Zero menjadi sejahat itu.
"Walaupun itu tidak akan berpengaruh padaku, ingatlah saudaraku bahwa aku darah murni, aku abadi" Zero tertawa lalu menghilang dengan gema tawanya, alex segera mengeram tangannya terkepal kuat. diliriknya ana yang terbaring pingsan dengan cepat ia merengkuh tubuh anna kedalam gendongannya.
"Tuan" panggil Troy yang kini muncul disampingnya, diliriknya Dicky yang bangun menahan rasa sakit di perutnya, wajah pria itu pucat pasi. Alex menatap Dicky dengan tatapan kosongnya dan Dicky hanya bisa tertunduk dan berlutut dihadapan Alex merasa bersalah. Ia layak diberi hukuman.
"Maafkan aku" lirihnya ketakutan, Troy tidak bicara ia hanya berdiri disamping Dicky dan melihat tuannya yang berjalan santai meninggalkan mereka lalu menghilang layaknya hembusan angin membawa udara dingin membeku.
\( ö )/
Ruangan itu redup, hanya cahaya bulan sebagai alat menerangi ruangan itu. dalam kediaman Alex berdiri menatap Dicky yang tampak pucat dengan luka lebar diperutnya, luka itu sulit disebuhkan kecuali.. "Berikan darah ana padanya" perintah Alex, Zara melangkah mendekati Dicky yang melotot tak percaya dengan apa yang didengarnya, darah Ana?, darah penyembuh.
Dicky mengeleng lemah tak menerima perintah Alex, ia tak bisa menerima darah ana "Ti..tidak.., ak..aku tidak ingin meminum darah ana" racaunya masih menahan sakit, Zara tak peduli, gadis itu dengan kasar mencengkram rahang Dicky dan membuka mulut pria itu dan memasukkan cairan merah kemulut Dicky yang berusaha memberontak dari cengkraman Zara dan juga Niki yang menahan kedua tanganya dengan kuat.
"Kau harus sembuh, hujan itu membuatmu tak bisa apa2" ucap Troy menatap Dicky dengan prihatin terlebih dengan luka diperut Dicky. Pemburu itu tanpa balas kasih.
"Memiliki kelemahan, kau benar-benar Dracula payah. Dasar idiot" dengus Zara dengan kata mengejeknya sembari melepaskan cengkraman tangannya dirahang Dicky dengan kasar.
Arashi hanya mendengus jengah tanpa perhatian berlebih terhadap luka Dicky. Baginya luka itu tak seberapa dibandingkan dirinya dahulu saat melawan Zero. Arashi lalu kembali menatap bulan purnama berusaha mengenyahkan ingatan-ingatan itu, "Dia akan mengingat semuanya" gumam Arashi tenang tak peduli dengan teman-temannya yang berada diruangan itu mendengarnya. Saat ini orang yang ia maksud masih terbaring pingsan, dan mereka perlu memikirkan bagaimana menjelaskan segalanya pada Anna.
'︿'
Anna terbangun dengan nafas sesak, gadis itu terengah-engah ketakutan menatap langit-langit kamar lalu melirik Alex yang duduk menatapnya, ingatan itu muncul bagai film berputar diotaknya, sakit dikepalanya membuat ingatan itu muncul secara berurutan, "Kau ingat semuanya?" Alex bertanya pelan dengan suara pelan sebagai pembuka mengabaikan air mata anna yang jatuh, tangan mungilnya mencengkram seprei hingga kusut menahan amarah, gadis itu menangis dalam diam mengingat bagaimana dirinya dulu dan mengapa ia seperti ini.
"Aku bukan clan darah suci. Iya kan?" mengabaikan pertanyaan yang terdengar bagaikan pernyataan itu, Anna lebih memilih balik bertanya dan Alex hanya mengangguk tanpa suara atas pertanyaan Anna, matanya memadang sendu gadis itu "... dan aku bukan Anna" lagi-lagi Alex mengangguk tak berniat untuk menjawab atau bersuara.
Dengan susah payah Anna bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang menghadap Alex yang masih setia duduk di kursi menunggu pertanyaannya lagi, "Katakan, katakan semua yang kau ketahui, mengenai aku dan kau" Ana mengusap air matanya dan menatap manic mata Alex yang tampak sendu mengingat kembali kejadian mengerikan yang dialaminya.
😊😊
28Nov18.....
Revisi:11juli2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Dracula's: The Darkness (Complete)
Fantasy*** A written by E-Mickhy A story about vampires Dracula The darkness 28oktober2018 End 25Nov2019 Cover By : Pinterest
