#1

185 22 36
                                    

Nadia

Senin pagi yang membosankan.

Aku menyandang ransel dengan malas, melangkah terseok-seok melewati kerumunan anak-anak baru kelas 10 yang memenuhi pelataran sekolah depan. Masih antusias sekali mereka memulai awal SMA yang katanya indah. Hmm, belum tahu mereka gimana tersiksanya sekolah dengan sistem kurikulum baru.

"Nadia!"

Aku menoleh ke arah suara, dan mendapati Maggie sedang berjalan ke arahku dengan langkah setengah berlari.

"Woy, makin unyu aja dua minggu di Bandung!" katanya sambil merangkulku.

"Emang unyu dari lahir."

Maggie memasang wajah jijik sambil menurunkan rangkulannya, "Pede gilaaaa."

"Hoi!" seru seseorang yang langsung menengahi kami, merangkul lengan kami dengan akrabnya.

"Lo berdua kangen 'kan sama gue?" Rena menaikturunkan alisnya ke arahku dan Maggie bergantian.

Hening sejenak. Aku dan Maggie bersitatap, lalu berjalan lagi meninggalkan Rena.

"Wah, cuacanya bagus, ya, Nad! Awannya berarak-arak mengikuti kita!"

"Iya, Mag! Mataharinya juga gak terik-terik banget! Gue suka, deh!"

"Lo pada lagi di koridor, bego!" umpat Rena berjalan melewati kami.

Aku dan Maggie berpandangan, menahan tawa mati-matian atas kebodohan sendiri. Lalu menyusul Rena yang sudah berbelok ke arah barisan kelas 11, merangkul lengannya dari arah yang berlawanan, dan berjalan beriringan menuju kelas sambil menertawakan hal yang tidak penting.

XI-IPA.3, kami datang!

***


Suasana kantin ramai, dan jujur, selain dua sahabatku itu, kantin adalah hal lain yang kurindukan selama liburan.

Tentu saja, kami makan bertiga di meja tipe empat orang. Rena memesan bakso, Maggie dan aku memesan Nasi goreng. Khusus makanan, aku dan Maggie memang selalu sejalan. Tapi jika tentang hal-hal lain yang tidak penting, cowok misalnya, mereka berdua tak bisa dipisahkan. Seolah sudah menjadi partner sehidup-semati. Setidaknya diantara kami, aku lah yang paling normal.

"Eh, iya, loh! Perasaan baru aja kemarin jadian, eh udah putus aja!"

"Iya, heran gue sama tu playboy kacangan satu! Yang dicari yang kayak gimana lagi coba." Rena menggigit baksonya gemas, seolah membayangkan itu adalah kepala orang yang sedang dibicarakan.

Nah, kan. Apa kubilang. Mereka memang partner gosip terberisik abad 21. Dan jangan coba-coba bertanya padaku tentang apa dan siapa yang sedang mereka bicarakan. Aku tidak tahu, sedari tadi aku tak tertarik menyimak.

"Apa mungkin dia nyari yang kayak gue kali, ya, Ren? Yang kecil, imut, dan menggemaskan ini." Maggie memasang kedua tangan di pipinya, berwajah sok imut. Tapi bukannya imut, itu malah wajah yang mengundang untuk ditampar pakai es batu.

"Apaan, sih, Mag. Jijik."

"Iya, nih, najis. Lagian emang mana mau dia sama cewek dengan suara toa model elu. Yang ada seminggu pacaran udah masuk THT." cibir Rena sebelum menyeruput es teh manisnya.

Maggie tampak menggelembungkan pipi, "Eh. enak aja. Enggak seminggu tau!"

"Terus?"

"Tapi, sehari!" jawab Maggie pada Rena dengan suara cemprengnya yang menggelitik.
Aku dan Rena spontan tertawa.

"Tapi, gue denger-denger dari rumor kelas, sih," Maggie memerbaiki posisi duduk, mendekatkan wajah pada kami, "Tahun ini si Juna mau nyalon jadi ketos. Emang dia gak takut gak ada yang pilih, ya, kalau nyakitin cewek sana-sini?"

#A lettersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang