Sesuatu Jauh Lebih Penting dari Seseorang

103 0 0
                                    


Perlu satu jam untuk membereskan kerumunan orang-orang itu. Twitter dan Instagram mendadak viral dengan kejadian ini.

"Udah beres Mas?" Tanya gue ke Mas Donny sambil melirik ke luar jendela

"Udah. Lo mau ke mana?"

"Mau nyamperin Alya. Dia udah miss call gue."

Alya tahu kalau dia pulang sama Dion, dia akan diceramahin langsung sama bokap dan nyokap. Karena gue juga tahu tentang itu, makanya gue menyuruh Alya untuk pulang dengan gue.

Gue pun bergegas ke XXI, dan menemui mereka berdua di tempat yang sama.

"Sudah nontonnya?" tanya gue ke mereka berdua, sambil melirik tajam ke Alya

"Ahahaha sudah kak!" jawab Dion dengan nada riang.

Alya juga senyum-senyum malu berdiri di samping Dion.

"Pulang?" tanya gue ke Alya

Alya hanya mengangguk kecil. Kemudian dia segera berjalan memutar, menghadap ke Dion dan tos-tosan dengannya tapi Dion sengaja membercandakan momen itu dengan sengaja tangannya tidak kena dengan tangannya Alya. Momen itu membuat Alya tersenyum malu sambil melirik penuh makna ke mata Dion.

"EHM!" gue melemparkan distraksi agar segera menuntaskan momen tersebut

Mereka pun langsung saling bertepuk tangan dan berpamitan.

"Hati-hati ya Al" Kata Dion saat tos-tosan.

Gue melihat tangan Dion seperti ingin menggenggam tangannya Alya. Tapi Alya langsung menarik tangannya. Mungkin dia takut gue komentari di mobil. Tapi tetap gue yang disisi dia cuma bisa ber-'ehm' sambil ketawa kecil. Dion juga hanya tersenyum lebar.

Melihat mereka sedang dimabuk asmara, gue seolah seperti malaikat yang melihat gue pas sedang jatuh hati dengan Gina.

Satu sisi, gue bahagia untuk Alya. Namun di sisi lain gue tidak tega apabila Rian tahu tentang hal ini. Kalau dia tahu Alya lagi sedang dekat dengan seseorang, Rian bakal patah hati.

Kemudian gue berpamitan dengan Dion dan melangkah ke luar XXI menuju parkiran.

"Eh Kak!" Alya memanggil gue sambil berjalan bersebelahan

"Apa?"

"BBM ku rame banget gara-gara kakak!"

"Kenapa gara-gara aku?"

"Iya tadi pada nanyain kamu kenapa?"

"Aku kenapa apanya?"

Alya menghela nafasnya kemudian menyodorkan iPhone kesayangannya dengan video insiden antara gue dan para penggemar di Starbucks masih sambil berjalan.

"Ini kenapa?" Tanya Alya dengan nada penasaran

"Oh ga kenapa-kenapa, insiden kecil aja...."

Sejujurnya, implikasi insiden ini tidak kecil. Gue masih penasaran sama sosok laki-laki misterius tadi.

"Serius?" Alya coba memastikannya sekali lagi

"Iye seriusan!"

"Hm baiklah...."

Sejak gue menyalakan mesin dan membawa mobil ini keluar menuju gerbang parkiran, pikiran gue masih tertuju ke hal yang sama. Apakah ada yang mau membunuh gue? Apakah ada yang mau merusak karir gue? Apakah ada yang mau menjatuhkan hidup gue?

PsycholoveWhere stories live. Discover now