"Arsya Lo ini bodoh atau apa sih?" umpat Lia.
Lia memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya.
"Si bodoh itu bisa sakit kalo hujan-hujanan kaya gitu," gumam Lia mulai merasa khawatir.
Walaupun Lia sering sebal dengan sikap Arsya, nyatanya Lia bisa merasa khawatir juga pada anak itu. Lia baru saja akan melangkah mendekat ke arah Arsya, tapi Arsya sudah lebih dulu kembali mendekatinya.
"Maaf, Lia. Gue gak bisa nemuin laba-laba lo," ucap Arsya.
Seluruh pakaiannya basah. Rambutnya basah kuyup dan air mengalir membasahi wajahnya.
"Gue kan udah bilang Lo ga usah nyari laba-laba itu. Itu bukan laba-laba istimewa. Di belakang rumah nenek gue banyak laba-laba kaya gitu," sahut Lia sambil memandangi Arsya dengan tatapan kesal sekaligus gemas dengan kekonyolan Arsya.
Arsya tampak tertegun.
"Apa? Jadi...sebenernya Lo ga peduli sama laba-laba itu? Lo ngerjain gue, Lia? tanya Arsya, raut wajahnya mendadak tampak kesal.
Lia hanya tersenyum sinis.
"Emang bodoh, mau gimana lagi? Bukan salah gue, kan?" sahut Lia tak peduli.
Arsya tak bicara lagi. Lia keterlaluan sekali. Setelah Arsya basah kuyup seperti ini, Lia baru bilang laba-labanya itu ga penting. Tapi Arsya berusaha meredam amarahnya. Ia juga yang salah. Ia yang keras kepala ingin mengikuti Lia.
Arsya ikut berteduh di bawah pohon itu, berdiri mendekat di samping Lia. Lia mulai merasa iba melihat tubuh Arsya yang basah kuyup tampak kedinginan. Kali ini Lia merasa sikapnya tadi keterlaluan. Ia bergerak bermaksud membuka jas hujannya. Arsya menoleh dan menatapnya heran.
"Lo mau ngapain?" tanya Arsya, menghentikan gerakan Lia.
"Lo pake jas hujan gue ini," jawab Lia, lalu melanjutkan gerakan akan membuka jas hujannya.
Sekarang ini Lia merasa bersalah. Ia khawatir juga Arsya bisa sakit karena kehujanan. Buru-buru Arsya mencegah Lia. Ia menggenggam tangan Lia yang masih memakai sarung tangan yang kini sudah basah.
"Buat apa gue pake jas hujan, gue udah terlanjur basah. Lo aja yang pake," sahut Arsya.
"Maksud gue kita pake berdua. Biar kepala lo gak kena hujan. Nanti Lo bisa pusing," kata Lia.
Arsya memandangi wajah Lia. Mencoba menilai apa yang ada dalam pikiran Lia. Tiba-tiba saja Arsya tersenyum geli.
"Akhirnya, cewek keras kepala dan super dingin ini ngekhawatirin nasib gue juga. Ini emang kemajuan yang luar biasa," ucap Arsya.
Wajah Lia berubah cemberut.
"Lo nyebelin banget! Gue ga jadi baik sama Lo! Gue ga peduli Lo kehujanan. Lo sakitpun gue ga peduli. Gue mau pulang sekarang. Silahkan Lo di sini sampai lumutan!" kata Lia ketus.
Lia merapatkan lagi jas hujannya, melangkah meninggalkan Arsya. Arsya tertegun sesaat. Lalu ia mengikuti langkah Lia.
"Gue anterin Lo pulang," kata Arsya.
"Dasar kepala batu! Buat apa Lo nganterin gue pulang di tengah hujan deras kaya gini? Pulang aja ke rumah Lo sendiri. Terlalu lama kehujanan Lo bisa sakit. Biar gue pulang sendiri," sahut Lia.
Arsya malah tersenyum lebar.
"Gue seneng banget kalo Lo khawatirin gue. Kalo gue sakit gue rela ko, asal Lo peduli sama gue," ucap Arsya.
Lia mendelik sebal. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan Arsya. Arsya tak mau menyerah, ia juga mempercepat langkahnya hingga menjajari Lia. Tiba-tiba Arsya menggenggam tangan Lia. Sarung tangan Lia basah dan dingin sekali. Lia menarik tangannya dari genggaman Arsya. Lalu tiba-tiba saja ia berlari menjauhi Arsya. Arsya tersentak kaget. Segera ia mengejar Lia. Setelah cukup dekat, ditariknya tangan Lia.
"Lia! Kenapa Lo lari? Jalannya licin, banyak genangan air, Lo bisa jatoh," teriak Arsya khawatir.
Lia tak mau kalah, ia menarik tangannya dari genggaman Arsya.
"Ini gara-gara Lo pala batu, Gue harus buru-buru pulang, semakin gue cepet sampe di rumah, semakin cepet Lo juga bisa pulang ke rumah Lo," sahut Lia dengan suara keras untuk mengalahkan suara hujan. Lalu ia kembali berlari cepat.
Arsya tertegun sesaat, kemudian ia ikut berlari mengejar Lia. Arsya tersenyum. Entah mengapa ia merasa senang sekali. Ia merasa menang. Rasanya ia sudah berhasil menarik sedikit rasa simpati Lia padanya. Dan itu membuatnya bahagia bukan main. Hingga dinginnya udara dalam guyuran hujan lebat ini seolah tak terasa lagi.
Mereka cukup lama berlari. Nafas Arsya sudah mulai tersengal-sengal, rasanya ia ingin berhenti berlari. Tapi melihat Lia yang masih berlari cepat, ia pun kembali berlari mengikuti Lia.
Akhirnya rumah nenek Lia mulai terlihat di atas bukit. Sebelum mendaki bukit itu, Lia berhenti. Ternyata nafasnya juga tersengal-sengal.
"Sekarang Lo pulang! Gue udah sampe," kata Lia.
"Lia, Lo ini mau buat gue khawatir? Lo emang bener bener cewek aneh," sahut Arsya.
Lia baru saja ingin menyahut, tiba-tiba muncul kilat menyambar disusul suara menggelegar. Reflek Lia melompat ke arah Arsya, merapatkan tubuhnya pada tubuh Arsya dan membenamkan wajahnya di dada Arsya. Arsya terkejut lalu tertawa.
"Lia! Ternyata Lo takut petir! Cewek yang ngakunya sebagai cewek paling berani ini ternyata takut petir," kata Arsya.
Lia mengintip sedikit. Menunggu apakah akan ada petir selanjutnya yang datang.
"Petir itu berbahaya, Arsya! Tubuh Lo bisa gosong kalo kesambar petir," sahut Lia.
"Makanya ga usah sok berani. Ayo, gue anter sampai rumah nenek Lo," kata Arsya.
Arsya meraih tangan Lia. Kali ini Lia tidak menolak. Bahkan tangannya merangkul erat lengan Arsya. Arsya tersenyum geli melihat Lia yang tampak ketakutan. Perlahan mereka berdua mendaki bukit menuju ke rumah nenek Lia.
"Ayo, Lo masuk dulu, Arsya. Gue pinjemin Lo handuk, keringin dulu kepala lo," ajak Lia.
Nenek Lia yang membukakan pintu setuju dengan saran Lia itu. Arsya mengangguk. Hari ini ia merasa benar-benar beruntung. Kerja kerasnya hari ini bener bener tidak sia-sia.
Ia masuk ke dalam rumah nenek Lia, tapi hanya berdiri di dekat pintu karena tak mau pakaiannya yang basah mengotori lantai rumah nenek Lia. Tak lama Lia datang menghampirinya membawakan handuk. Arsya menerimanya, lalu mengeringkan kepalanya dengan handuk itu. Kemudian datang nenek Lia membawakan secangkir teh hangat. Arsya segera meminumnya dan merasa lega karena tenggorokannya terasa hangat begitu ia meminum teh itu.
"Sebaiknya gue pulang sekarang, nyokap gue pasti nungguin gue di rumah. Lia, nenek, terimakasih teh dan handuknya," kata Arsya sambil tersenyum.
"Makasih, Arsya, Lo udah ngelindungi gue dari petir," kata Lia, lalu tersenyum manis.
Arsya senang bukan main melihat Lia tersenyum padanya. Ia membalas dengan senyuman lebarnya. Lia meminjamkan payung untuk Arsya. Arsya menerimanya, lalu segera pulang.
Hujan masih saja turun, bahkan hingga Arsya sudah sampai di rumahnya. Malam itu Arsya demam tinggi. Ia tak masuk sekolah karena sakit. Selama tiga hari Arsya ijin tak masuk sekolah, ia tidak melihat Lia datang dan duduk di sampingnya. Kemana Lia?
"Kamu tidak tahu Lia sudah pindah? Apakah dia tidak berpamitan padamu? Padahal kamu kan teman sebangkunya," jawab Bu Lena saat Arsya menanyakan Lia.
Pindah? Arsya sangat terkejut mendengar berita itu. Bagaimana mungkin Lia pindah begitu saja? Ia hanya sakit tiga hari dan tak bisa ke mana-mana, ketika ia baru saja sehat, tiba-tiba saja Lia sekarang sudah pindah? Baru sekejap ia merasakan sikap ramah Lia kepadanya, sekarang cewek itu udah pindah? Yang bener aja! Lia benar-benar niat sekali mempermainkan perasaannya

KAMU SEDANG MEMBACA
Berliana
RomanceKenapa hidup gue kayak gini, apa gue ga berhak untuk bahagia?Gue cape dengan kehidupan yang gue jalani sekarang -Berliana Sumpah gue penasaran banget sama cewe itu, ada apa sebenarnya sama dia?-Arsya