Part.13 'Lonely Heart'

10 4 0
                                        

     Lia memandangi Arsya dan seorang gadis yang masuk ke dalam sebuah taksi. Hatinya terasa sedikit ngilu. Arsya, lelaki cinta pertamanya itu, tampaknya sekarang sudah memiliki kekasih. Lia tak tahu siapa gadis itu. Ia tak ingin tahu. Ia tak ingin menyakiti perasaannya sendiri dengan mencari tahu siapa gadis yang bersama Arsya. Yang ia tahu, gadis itu adalah mahasiswa di universitas Indonesia juga. Sama dengan dirinya, hanya beda jurusan. Sepertinya gadis itu kuliah di jurusan kedokteran. Informasi ini tidak sengaja dicarinya.

     Fakultas Kedokteran terletak di gedung yang berbeda dengan jurusan Arsitektur. Dari demikian luasnya kemungkinan, Lia melihat Arsya berjalan bersisian mesra dengan seorang mahasiswi kedokteran saat Lia sedang berkunjung ke Fakultas Kedokteran untuk mencari info tentang kemajuan pengobatan penyakitnya. Apakah takdir atau hanya kebetulan Lia melihat Arsya di sini? Padahal ia tahu, Arsya kuliah di Universitas Bina Nusantara.

     Terkejut, kecewa, cemburu dan entah perasaan apalagi yang berkecamuk dalam hati Lia saat melihat Arsya bersama gadis itu. Sudah lama ia tak melihat Arsya, sekalinya bertemu, Arsya sudah bersama gadis lain. Lia hanya mengawasi mereka dari kejauhan. Perasaannya memang aneh, ia tak mau bertemu Arsya lagi karena khawatir akan keselamatan Arsya jika terus bersamanya, tetapi di satu sisi, ia masih sering berharap, takdir akan mempertemukannya dengan Arsya lagi. Tapi tentu saja bukan bertemu saat sedang bersama gadis lain.

     Sebut saja ia egois. Kenyataannya ia memang egois. Ia sengaja melarikan diri dari Arsya, tapi ia tak rela melihat Arsya bersama gadis lain. Apalagi gadis itu cantik dan cerdas. Menyebalkan sekali. Lia merasa cemburu. Tapi ia tak mungkin mendatangi Arsya dan memintanya berhenti berhubungan dengan gadis itu. Memangnya dia siapa? Saat ini dia bukan siapa-siapanya Arsya. Salahnya sendiri mengapa dulu meninggalkan Arsya begitu saja.

     Sejak itu, Lia tahu tentang Arsya, tetapi Arsya masih tak tahu dimana Lia berada. Lia tak pernah menghampiri Arsya terang-terangan. Ia hanya mengawasi Arsya dari jauh.

"Lia kamu mau kan nemenin aku nonton malam minggu besok? Ujian kan udah selesai" ajak Adhitama, teman kuliah Lia satu jurusan.

     Tama memang kerapkali menunjukkan rasa sukanya pada Lia. Berkali-kali ia mencoba mengajak Lia jalan, tapi Lia selalu menolak. Lia berusaha tak tertarik dengan laki-laki manapun di kampusnya. Dan di kampus-kampus lain. Tepatnya, Lia selalu menghindar jika terlalu dekat pada laki-laki manapun. Jika ia ingin dekat dengan laki-laki, sudah sejak dulu ia memilih Arsya. Ia tidak boleh jatuh cinta pada siapa pun. Jatuh cinta, hanya akan menimbulkan petaka. Masalah hidupnya sudah cukup berat. Ia tidak mau menambah masalah lagi.    

"Aku ga akan pernah mau nonton bareng kamu, Tama! Berapa kali harus aku bilang? Kenapa kamu ga ganggu cewek lain? Kenapa harus aku?" sahut Lia sedikit ketus.

     Tapi Adhitama adalah laki-laki yang pantang menyerah. Ia tak gentar walau telah ditolak Lia berkali-kali.

"Aku cuma mau ngajak kamu, Lia. Aku cuma suka sama kamu!" kata Tama.

"Aku udah ngelarang kamu buat suka sama aku, Tama. Menyukaiku cuma buang-buang waktu. Kenapa kamu ga ngerti-ngerti? Aku udah bilang berkali-kali, kan? Aku udah punya pacar," sahut Lia.

"Aku ga percaya kamu udah punya pacar. Aku ga pernah liat kamu pergi sama laki-laki manapun," bantah Tama.

"Aku udah bilang, hubunganku dengan pacarku itu long distance. Berhentilah menggangguku!" kata Lia dengan wajah serius.

     Ia segera beranjak pergi meninggalkan Tama yang menghela nafas berkali-kali. Tama tak mengerti mengapa ia suka pada Lia. Padahal Lia tak pernah memperdulikannya. Walau mereka di jurusan yang sama dan di angkatan yang sama. Seringkali ia dan Lia satu kelompok dalam tugas kuliah. Ada banyak gadis di jurusan yang sama dengannya, tetapi hanya Lia yang menarik minatnya. Gadis itu cantik dan pandai. Nilai-nilainya selalu bagus. Desainnya juga selalu luar biasa. Ia seringkali memiliki ide-ide yang spektakuler. Tapi Lia orang yang sangat tertutup. Ia menarik diri dari pergaulan. Tapi sedingin apapun Lia kepadanya. Tama tak perduli. Ia tetap saja berharap bisa lebih dekat dengan Lia.

     Lia menghentikan langkahnya saat hendak menuju perpustakaan. Ia melihat Arsya juga melangkah menuju perpustakaan dari arah berlawanan. Untuk apa Arsya datang ke perpustakaan kampusnya? Apakah pacarnya sedang berada di perpustakaan itu juga?.

"Ah, Arsya. Kenapa kamu janjian dengan pacarmu di kampus ini? Dari sekian banyak tempat di Jakarta, kenapa kamu kesini?" keluh Lia dalam hati menahan rasa cemburu.

     Ia bersembunyi di balik dinding, masih tak ingin Arsya melihatnya. Ia pandangi Arsya diam-diam hingga laki-laki itu masuk ke perpustakaan kampusnya. Kemudian ia berbalik dan mengurungkan niatnya ikut masuk ke perpustakaan.

"Aku ga kuat lagi, Sya. Kenapa aku liat kamu lagi disini?" batin Lia, tiba-tiba sakitnya bukan hanya sakit hati, tapi paru-parunya juga terasa nyeri.

     Akhir-akhir ini ia memang mudah sekali merasa lelah. Padahal ia tak pernah lupa meminum obatnya dan rutin mengunjungi dokter Yudi Adenan, dokter yang sudah merawatnya sekian lama, sejak ia mulai mengidap penyakitnya ini di usia tiga belas tahun.

     Untunglah rasa sakit yang sering menyerangnya ini tak menghambat prestasi Lia dalam kuliahnya. Hasil ujiannya selalu bagus. Ia tak sabar ingin segera lulus, agar ia dapat segera mencari pekerjaan dan membayar segala biaya pengobatannya yang tidak sedikit. Selama ini ia membiayai pengobatan dan kuliahnya dari uang warisan ayahnya. Untunglah simpanan ayahnya dulu cukup banyak. Saat ayahnya wafat dalam kecelakaan lalu lintas, usaha kontraktor ayahnya sedang maju-majunya.

     Ayahnya adalah seorang arsitek yang cukup berhasil, hingga mampu membuka usaha sendiri. Bakat menggambar dan mendesain ayahnya itu menurun pada Lia. Ia pun sepertinya kelak akan menjadi seorang arsitek yang sukses. Terlihat dari nilai mata kuliah perancangannya yang selalu mendapat nilai A. Lia kuat sekali dalam konsep desain dan struktur bangunan.

     Rasa nyeri itu datang lagi. Seolah paru-parunya diremas kuat sekali. Lia membungkuk sambil memegangi dadanya. Ia hampir saja jatuh. Mengapa hari ini ia merasa lelah sekali? Apakah karena tadi ia melihat Arsya? Pikiran dan hatinya memengaruhi kesehatan paru-parunya, mungkinkah itu terjadi?

"Lia!" Seru Tama yang sejak tadi memang sudah mengawasi Lia dari kejauhan dan ia segera menghampiri Lia saat dilihatnya gadis itu hampir pingsan.

     Ia segera memegang kedua tangan Lia dan membantunya tetap tegak berdiri, lalu dipapahnya Lia menuju bangku taman yang ada di samping perpustakaan.

"Kamu kenapa Lia? Kamu sakit? Muka kamu pucat banget," kata Tama, tampak sedikit cemas setelah Lia duduk di bangku taman itu.

"Gapapa ko. Aku cuma aga pusing sedikit. Makasih kamu udah tolongin aku," jawab Lia mencoba tersenyum agar terlihat baik-baik saja.

"Tapi mukamu pucat banget. Aku antar ke rumah sakit ya," ajak Tama menunjukkan kepeduliannya. Ini bukan pura-pura, ia tulus mencemaskan keadaan Lia.

"Gausah. Aku pulang aja ke asrama," ucap Lia.

     Ia menarik nafas perlahan. Lalu mencoba bangkit berdiri. Merasa yakin kondisinya jauh lebih baik. Ia tak mau di tolong Tama. Ia tak mau berhutang apa pun pada Tama. Ia mencoba melangkah perlahan. Tama masih mengawasinya dari belakang. Tiba-tiba saja tubuh Lia merosot jatuh. Untunglah Tama segera menangkapnya. Ia membopong tubuh Lia keluar dari kampus itu. Lalu ia meminta tolong salah satu temannya yang membawa mobil untuk mengantar Lia berikut dirinya ke rumah sakit yang tak jauh dari sana.

     Bersamaan dengan kepergian Lia, Arsya baru saja keluar dari perpustakaan bersama Clara. Mereka asik berbincang-bincang, sesekali saling tertawa. Andaikan Arsya keluar beberapa menit lebih awal, maka ia pasti akan melihat Lia. Lia yang selama ini diam-diam masih ia rindukan.

***

BerlianaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang