Beberapa kali Lia benar-benar menepati janjinya datang ke Bandung tiap akhir pekan untuk membantu Arsya memahami pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Hari ini berganti Arsya yang datang berkunjung ke Jakarta. Arsya jarang sekali pergi ke luar kota Bandung. Tapi kali ini, ia punya alasan untuk pergi. Menemui Lia yang sudah dirindukannya selama sebulan ini.
Lia bilang ia tinggal di Jakarta Selatan. Lia tetap saja tak mau memberitahu alamatnya. Hanya memberikan no handphonenya, Arsya segera menelepon Lia menyampaikan padanya ia sudah ada di Jakarta.
"Lo jadi datang ke Jakarta?" tanya Lia, nada suaranya seperti tak percaya.
"Ya jadilah. Gue kangen lo, Lia," jawab Arsya.
Hening tak terdengar sahutan Lia.
"Rumah lo dimana? Gue mau ke sana..." kata Arsya.
"Jangan! Maksud gue lo gausah ke rumah gue," potong Lia cepat.
"Kenapa gue gaboleh ke rumah lo?" tanya Arsya sedikit kesal.
"Di rumah gue lagi banyak masalah. Kita ketemuan aja," jawab Lia.
Lalu Lia permisi untuk menutup telepon dan bersiap berangkat ke stasiun. Lia sungguh ta menyangka Arsya benar-benar datang ke Jakarta untuk menemuinya.
"Arsya harusnya kita jangan sering-sering ketemu. Gimana kalo gue gabisa ngelepasin diri dari lo?" batin Lia.
Lia memang seringkali dilanda dilema. Ia selalu senang tiap kali bertemu Arsya. Tapi ia sadar, suatu saat nanti ada masanya ia tak boleh bertemu Arsya lagi. Dan kini selagi ada waktu bersama Arsya, ia tak ingin membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Ia segera berganti pakaian. Dipilihnya celana panjang tiga perempat berwarna biru laut dan kaos merah muda yang panjangnya melewati pinggulnya, lalu ia beri aksen skinny belt hitam. Ia lengkapi penampilannya dengan outwear berupa cropped jacket yang menggantung di atas pinggang berwarna biru laut juga. Rambutnya hitam lurus menyentuh bahu ia biarkan terurai, membuat Lia terlihat semakin menarik. Ia berencana akan mengajak Arsya ke sebuah tempat yang romantis. Lia tersenyum sendiri, ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena sebentar lagi akan bertemu Arsya.
Tak lama ia sudah sampai di stasiun. Tak sulit mengenali Arsya. Sosok tinggi atletis tapi ramping itu tersenyum lebar saat melihat kehadiran Lia. Arsya memandangi Lia hampir tanpa kedip tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat penampilan Lia yang simpel tapi terlihat elegan.
"Ah, Lia, kapan lo berhenti bersikap misterius sama gue? Kapan lo ajak gue ke rumah lo?" sambut Arsya bernada protes.
"Itu bukan rumah gue, tapi rumah tante gue. Gue cuma numpang disana. Gue gaenak kalo gue ajak temen ke rumah tante gue," sahut Lia.
Arsya tak bersuara lagi. Sekali lagi ia harus pasrah, masih saja belum mengenal Lia secara utuh. Masih banyak hal yang disembunyikan Lia. Sayang sekali nenek Lia sudah sangat tua dan sudah agak pikun. Sehingga sulit sekali untuk ditanyai banyak hal.
"Jadi, sekarang lo mau ajak gue kencan kemana?" tanya Arsya.
"Kencan? Siapa yang kencan?"
"Kita cuma jalan-jalan berdua. Ini kencan namanya," sahut Arsya.
"Ini piknik, bukan kencan. Ayo, gue anter lo jalan-jalan di Jakarta," ajak Lia, lalu ia melangkah ringan mendahului Arsya.
Lia dan Arsya berjalan beriringan di antara tebing-tebing pantai. Lia dan Arsya melanjutkan perjalanan menyusuri pantai. Mereka melepas sepatu mereka dan menentengnya. Membiarkan kaki mereka yang telanjang dipenuhi pasir pantai dan sesekali tersapu gelombang laut.
"Nanti kita jalan kaki cari makanan"
"Bersama lo, kemana pun gue mau, Lia," jawab Arsya sambil tersenyum senang.
Lia mencibir.
"Lo ini kaya prajurit aja," ledek Lia.
Arsya gemas sekali melihatnya. Ingin sekali ia menarik Lia, lalu membenamkannya dalam pelukannya. Angin pantai yang berhembus lembut membuat Arsya semakin tersihir suasana romantis.
"Lia.... Aku mencintaimu..."
Dan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arsya. Kata-kata yang sudah ditahannya sejak lama. Lia tak menyahut. Ia hanya balas menatap Arsya.
"Lalu?" tanya Lia kemudian dengan sikap seolah tak perduli.
Arsya gelagapan mendengar jawaban Lia. Keterlaluan banget cewek ini! Ia tadi menyatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh dan hanya itu jawabannya? Ia harus mengumpulkan berton-ton keberanian hanya untuk mengucapkan kalimat itu.
"Apa maksud Lo lalu? Gue bilang gue suka lo, Lia. Lalu, mau kan lo jadi pacar gue?" jawab Arsya menahan kesal.
Lia memalingkan wajahnya dari tatapan Arsya. Ia malah mengambil sebutir batu karang kecil lalu melemparkannya ke arah laut.
"Gue ga mau jadi pacar lo," jawab Lia beberapa saat kemudian dengan nada suara biasa dan sikap santai.
Arsya tertegun, tak menduga Lia akan bereaksi sedingin itu. Ia maju mendekati Lia, tetapi Lia malah mundur.
"Lia lo ga suka sama gue?"
"Sebenernya, gue juga suka sama lo, Arsya. Tapi gue gamau jadi pacar lo sebelum..."
Lia tak melanjutkan kalimatnya. Arsya kembali memandangi Lia gemas. Ia berusaha mendekat lagi dan tangannya terulur ingin meraih tangan Lia. Tapi Lia lebih cekatan, ia buru-buru menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.
"Sebelum apa Lia? Tolong jangan buat gue sengsara lagi," ucap Arsya masih menahan kesal.
"Sebelum lo berhasil lulus sekolah dengan nilai matematika yang bagus, di atas angka lima," jawab Lia enteng.
Lalu mengambil batu karang lainnya dan mulai melemparinya ke arah laut. Tapi lemparannya tak ada yang sampai ke laut.
"Apa itu syarat buat bisa jadi pacar lo?" tanya Arsya sembari mendekati Lia yang memandang ke laut lepas.
Lia mengangguk.
"Lo serius?" tanya Arsya lagi masih tak percaya.
"Gue serius," jawab Lia, kali ini pandangannya telah beralih kepada Arsya.
"Dan lo bakal ngajarin gue matematika, kan?"
"Gue ga punya waktu lagi buat ngajarin lo. Sebentar lagi ujian akhir. Belajarlah sendiri, Arsya. Kalo Lo sungguh-sungguh mau jadi pacar gue, lo pasti bisa," jawab Lia sambil tersenyum dan menepuk bahu Arsya.
Arsya menyimpan janji itu dalam hatinya. Ia bertekad akan berusaha keras untuk sukses dalam pelajaran itu. Akan ia tunjukkan pada Lia bahwa ia lelaki yang bisa diandalkan
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Berliana
RomanceKenapa hidup gue kayak gini, apa gue ga berhak untuk bahagia?Gue cape dengan kehidupan yang gue jalani sekarang -Berliana Sumpah gue penasaran banget sama cewe itu, ada apa sebenarnya sama dia?-Arsya