Udara pagi di Bandung masih sangat dingin. Arsya melajukan motornya lebih cepat karena dia sudah terlambat ke sekolah.
Walau hujan tidak turun, namun udara terasa lembab. Keringat membasahi dahi Arsya. Atap sekolah mulai terlihat. Arsya mempercepat lagi laju motornya. Di tepi jalan tak jauh dari sekolahnya, ia melihat seorang anak memakai jas hujan. Arsya melirik sekilas saat ia melewati anak itu.
"Aneh banget anak itu. Gak hujan tapi pake jas hujan," gumam Arsya sambil tersenyum geli.
Saat Arsya memarkirkan motornya di halaman sekolah, ia melihat gadis ber jas hujan itu melangkah masuk ke halaman sekolah.
"Siapa cewek aneh itu? Jangan-jangan dia murid baru," gumam Arsya.
Arsya tidak begitu peduli. Arsya berlari ke kelasnya karena bel jam mulai pelajaran sudah berbunyi.
Kelasnya sudah penuh. Arsya murid yang terakhir datang. Arsya menoleh ke sebelah kanan. Sepertinya teman sebangkunya Rio, tidak masuk lagi.
"Si Rio kemana? Gamasuk lagi? Tanya Arsya kepada temannya.
"Gatau tuh" jawab Seza singkat.
Beberapa detik setelah bel masuk berbunyi, Bu Lena wali kelasnya sekaligus guru matematika masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi Bu," sapa anak-anak kompak.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kalian mendapat teman baru. Ayo masuk," sahut Bu Lena sambil melambaikan tangannya ke arah luar pintu kelas.
Seorang gadis yang memakai jas hujan dengan perlahan masuk ke dalam kelas! Arsya sedikit tersentak. Itu cewek yang tadi dilihatnya. Benar dugaan Arsya anak itu adalah murid baru, di kelasnya pula!
Kemunculan anak itu membuat seisi kelas tertegun. Penampilannya aneh sekali. Seorang anak perempuan dengan rambut hitam lurus sepanjang bahu. Memakai jas hujan dan sarung tangan. Terlihat aneh karena ia memakai jas hujan padahal tidak hujan. Apa dia gak kegerahan? Anak itu tidak tersenyum. Ia hanya menunduk dan diam.
"Kamu sudah di dalam kelas. Sebaiknya buka jas hujanmu," tegur Bu Lena.
Anak itu tetap diam. Aneh sekali, Bu Lena terpaksa berdiri dan hendak membantu anak itu membuka jas hujannya. Tapi anak itu menghindar, tampaknya dia tidak mau di sentuh Bu Lena. Dia membuka sendiri jas hujannya.
"Sekarang perkenalkan dirimu pada teman-temanmu," perintah Bu Lena.
Anak itu tidak langsung bicara. Dia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya memandangi seisi kelas.
"Selamat pagi....aku....Berliana biasa di panggil Lia," ucapnya pelan, kemudian dia tak mau bicara lagi.
Semua pertanyaan Bu Lena hanya di jawab dengan anggukan. Bu Lena memandang kursi di sebelah Arsya yang kosong.
"Kamu boleh duduk di sana, Lia," kata Bu Lena.
Arsya tersentak, dia langsung mengangkat tangannya. "Punteun bu, tapi ini kursi Rio," ucap Arsya menyampaikan keberatannya.
"Biar besok Rio pindah ke kursi belakang. Arsya mulai sekarang kamu jadi teman sebangkunya Lia. Silahkan kamu duduk di kursi itu, Lia," perintah Bu Lena.
"Lia menghampiri meja Arsya dengan langkah perlahan dengan wajah tertunduk. Matanya beradu pandang dengan matanya Arsya. Saat itulah Arsya menyadari indahnya mata Lia. Bulat, bening dan menyimpan nuansa misterius.

KAMU SEDANG MEMBACA
Berliana
RomanceKenapa hidup gue kayak gini, apa gue ga berhak untuk bahagia?Gue cape dengan kehidupan yang gue jalani sekarang -Berliana Sumpah gue penasaran banget sama cewe itu, ada apa sebenarnya sama dia?-Arsya