Arsya memandangi cewek itu lebih teliti. Sepertinya ia mengenal sosok itu. Arsya menatap mata cewek itu, mata bulat bening yang persis sama dengan yang dilihatnya dulu. Seketika Arsya melongo tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Mata itu tak bisa dilupakan. Melekat kuat dalam memorinya, tidak hanya dalam kepalanya, tetapi juga di dalam hatinya.
"Lia?" tebak Arsya.
Cewek itu tersenyum.
"Ah, Lo bisa tau gue, Arsya? Gue kan beda banget sama yang dulu," sahut cewek itu.
Arsya tersenyum senang.
"Lia! gue gak nyangka bisa liat Lo lagi. Apa Lo datang buat ngejenguk nenek Lo?"
Lia mengangguk. Arsya memandangi Lia hampir tanpa kedip. Memperhatikan Lia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa Lo liatin gue kaya gitu?" tanya Lia merasa tidak nyaman.
Arsya tersenyum lebar.
"Gue masih belum bener bener percaya Lo Lia. Lo sekarang lebih tinggi," Jawab Arsya.
"Yaiyalah gue lebih tinggi sekarang. Gue udah naik ke kelas tiga SMA"
"Lo makin cantik!"
Arsya memerhatikan tangan Lia sekarang tidak lagi memakai sarung tangan.
"Dan Lo gak terlihat aneh lagi kaya dulu. Sarung tangan Lo... Lo sekarang gak pake sarung tangan lagi?
Lia tertawa kecil.
"Dulu gue pake itu karena gue masih bodoh,"
"Lo juga dulu selalu pake jas hujan," kata Arsya.
Lia tertawa lebih keras.
"Dulu gue emang bodoh," sahut Lia.
Arsya ikut tertawa walau ia hingga kini tak mengerti mengapa dulu Lia selalu memakai jas hujan dan suka sekali memakai sarung tangan.
"Lo juga sekarang lebih tinggi, Arsya. Badan Lo juga lebih atletis, gak cungkring kaya dulu," kata Lia sambil tersenyum lebar.
"Dan Lo juga makin ganteng," lanjut Lia.
"Gue emang udah ganteng dari lahir"
Lia tertawa kecil.
"Gue hampir aja putus asa gak akan pernah liat Lo lagi, Lia,"
"Ha, ternyata Lo kangen gue?" sahut Lia sambil tersenyum lebar.
"Gue bukan kangen. Cuma sekolah sepi gaada anak aneh yang sering bikin onar kaya Lo. Lo baru datang sekarang? Setelah lima tahun Lo kabur gitu aja tanpa ada kabar,? kata Arsya sedikit mencibir.
"Sebenernya setiap tahun gue datang ke sini, ke rumah nenek gue dan makam kedua orang tua gue. Gue sengaja dateng diem-diem gak ngasih tau Lo," sahut Lia.
Arsya terkejut.
"Apa? Jadi selama ini Lo udah beberapa kali datang ke Bandung? Ah, Lo tega banget gak ngasih tau gue? Sahabat yang super duper baik sama Lo ini, yang selalu nganterin Lo pulang," ujar Arsya tampak menahan kesal.
Lia hanya tersenyum.
"Sengaja, biar Lo makin kangen sama gue," sahut Lia santai.
Arsya mendelik. Lia yang selama ini selalu dipikirannya dan yang menyebabkan dia mati rasa dengan anak perempuan lain ternyata beberapa kali sempat berada di tempat yang sama dengannya.
"Lo keterlaluan, Lia! Dulu Lo selalu bersikap ketus sama gue. Baru sehari Lo berubah sikap sama gue, besoknya Lo udah kabur ninggalin gue tanpa kabar," kata Arsya memanfaatkan kesempatan menumpahkan kekesalan yang telah dipendamnya bertahun-tahun.
"Salah sendiri, kenapa Lo sakit lama banget. Ternyata Lo lemah banget. Baru kehujanan sedikit, langsung demam tiga hari," sahut Lia santai.
"Lo emang cewek berhati kejam, Lia!" ucap Arsya pura-pura kesal.
"Hei, siapa bilang gue kejam? Liat, buktinya sekarang gue berbaik hati nyapa lo di sini. Gue gak lupa sama kebaikan lo dulu nganterin gue pulang hujan-hujanan, walaupun gue gak minta dianter," sahut Lia lagi.
"Ah, ternyata lo masih punya hati nurani," ujar Arsya sembari tersenyum meledek.
Lia hanya mencibir.
"Sekarang lo tinggal dimana?" tanya Arsya.
"Gue tinggal di Jakarta," jawab Lia.
"Lo ga ada niat sekolah di sini lagi?" tanya Arsya.
Ia menuntun sepeda motornya di sisi Lia yang berjalan perlahan.
"Buat sekarang ini gue lebih baik tinggal di Jakarta," jawab Lia.
"Lo mau mampir dulu ke rumah gue, Lo kan belum pernah ke rumah?
Kita makan siang dulu. Jam segini nyokap gue pasti udah nyiapin makan siang. Nanti gue anter lo pulang ke rumah nenek lo," ajak Arsya.Lia mengangguk setuju. Arsya tersenyum lebar, wajahnya berbinar senang. Hari ini ia merasa beruntung sekali bisa bertemu lagi dengan Lia. Sesampainya di rumah Arsya. Lia disambut hangat oleh ibu Arsya. Hanya ada ibu Arsya dan Dinda, adik perempuan Arsya di rumah itu.
Lia tersenyum senang merasakan keramahan ibu Arsya. Perhatian seorang ibu kepadanya selalu membuatnya terharu, karena sejak usianya tiga belas tahun ia tak merasakan lagi kasih sayang ibunya. Kebaikan ibu Arsya telah mengobati kerinduan Lia kepada ibunya.
Selesai makan, Arsya permisi pada ibunya untuk mengantar Lia pulang ke rumah neneknya. Lia menikmati perjalanannya dibonceng oleh Arsya. Ini seperti mengenang lagi masa-masa dulu ketika ia bersekolah bersama Arsya. Walau ia selalu bersikap ketus pada Arsya yang tak bosan-bosannya mengikutinya pulang setiap hari, tapi sesungguhnya di dasar hatinya saat itu, Lia senang ada yang menemaninya pulang. Kalau saja bukan karena ia takut bahaya yang tersimpan dalam tubuhnya akan menulari teman-temanya. Lia tak mungkin menjadi anak yang menyebalkan. Lia memeluk erat pinggang Arsya yang ramping tapi tegap. Ia tersenyum senang.
"Kapan lo pulang ke Jakarta?" tanya Arsya sesampainya di rumah nenek Lia.
"Nanti sore," jawab Lia singkat.
"Hahh?" sahut Arsya tampak kaget.
"Gue emang ga bisa lama-lama di sini," kata Lia.
"Lo harus kasih tau alamat sama no hp lo. Biar kapan-kapan gue bisa ke rumah lo di Jakarta," pinta Arsya dengan wajah bersungguh-sungguh.
Lia hanya tersenyum.
"Harus, Lia! Jangan pergi ninggalin gue gitu aja tanpa kabar. Lo buat gue sengsara," ujar Arsya serius.
"Kenapa Lo sengsara?"
"Gue.. gue ngerasa kehilangan lo. Ga ada lagi yang ngajarin gue matematika. Lo tau kan gue paling ga bisa pelajaran matematika?"
"Oh, jadi lo kehilangan gue karena gaada lagi yang ngajarin lo matematika gratis ya? Lo ini aneh, Arsya. Berani-beraninya lo bercita-cita jadi ahli keuangan, tapi lo masih aja ga bisa matematika?"
"Karena itu gue seneng bisa ketemu lo lagi, Lia. Gue mau kursus privat sama lo,"
"Emang lo sanggup bayar gue berapa?"
"Gue bakal bayar dengan cara jagain nenek lo selama Lo di Jakarta."
Lia tersenyum.
"Oke, kalo gue gaada kesibukan di Jakarta, gue pulang ke Bandung khusus ngajarin lo matematika. Tapi lo harus nurut sama gue, jangan males! Siap-siap aja, gue bakal jadi guru yang galak," kata Lia.
Arsya mengangguk, lalu ia meraih tangan Lia dan memaksanya bersalaman.
"Setuju!" ujarnya, lalu tersenyum lebar, Lia balas tersenyum.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Berliana
RomanceKenapa hidup gue kayak gini, apa gue ga berhak untuk bahagia?Gue cape dengan kehidupan yang gue jalani sekarang -Berliana Sumpah gue penasaran banget sama cewe itu, ada apa sebenarnya sama dia?-Arsya