Aku melangkahkan kaki menuju gerbang Mansion Mewah milik Keluarga Ronnie yang berdiri kokoh di atas bukit. Mansion ini sangat terkenal di desaku karena kemewahannya, bahkan mungkin se-negara ini, karena beberapa tahun lalu pernah di sorot oleh salah satu stasiun Televisi.
Perasaan gugup segera menyelimutiku saat kuberanikan diri menekan bell yang ada di gerbang Mansion, sesaat kemudian pintu gerbang dibuka oleh salah seorang penjaga, mungkin. Mataku langsung menagkap taman bagian depan rumah Ronnie yang sangat luas, beberapa jenis bunga tertata sangat rapi disana sini, dengan beberapa lampu taman yang menyala disekitarnya. Disisi lain terdapat kolam ukuran sedang dengan air mancur berbentuk Mermaid menggendong cangkang kerang mutiara yang mengeluarkan air.
"Ada perlu apa?" Tanya penjaga tersebut.
"Saya Azzam Pak, Ronnie memintaku ke sini untuk mengajarinya" jawabku.
"Ooh, silahkan masuk Den, tuan muda sudah menunggu" Ucapnya seperti sudah diperingatkan akan kedatanganku.
"Terima kasih" balasku tersenyum dan segera berlalu menuju pintu depan.
Kembali kutekan bell pintu depan Rumah Ronnie, lalu segera dibuka oleh pelayan. Tampak Ronnie berjalan dari dalam ke arahku.
"Biarkan dia masuk" ucapnya.
"Sialahkan masuk Den" kata pelayan tersebut, kemudian berlalu meninggalkan kami.
Kulangkahkan kakiku dengan gugup, bahkan aku tidak pernah berpikir hanya untuk masuk ke halaman Mansion ini, tapi sekarang aku berada di dalamnya. Kepalaku menyisir isi Rumah megah ini, benar-benar megah seperti istana, Guci-guci yang kutebak dengan harga selangit berdiri angkuh di sudut-sudut ruangan.
Aku seakan tersadar, betapa kurang ajarnya aku menaruh rasa pada Pangeran seperti Ronnie, aku jauh dibawahnya. Ia memiliki segalanya, kekayaan, ketampanan. Sedangkan aku? Bahkan aku seorang lelaki, yang bahkan wanita pun akan merangkak meraih hatinya.
"Untuk menjawab soal ini, kamu harus hapal dulu persamaan gelombang berjalan, kamu tau kan? Formulanya y = A sin (ωT ± k x)" ucapku menjelaskan Materi Gelombang pada Ronnie. Dia menatapku intens membuatku memanas, pasti wajahku semerah tomat sekarang.
"Kenapa aku sangat mudah mengerti jika kau yang menjelaskannya?" Katanya tersenyum.
Gosh! Aku akan meledak sekarang!
Hampir 2 jam aku mengajari Ronnie materi Fisika, yang membuatku heran adalah, dia dengan mudah memahami penjelasanku, sangat berbeda ketika dijelaskan oleh guru di sekolah. Selain itu, caranya menatapku membuatku benar-benar tidak bisa fokus, beberapa kali aku menunduk atau membuang pandanganku ke arah lain untuk menyembunyikan semburat merah di wajahku.
"Kalau begitu, aku pulang sekarang" kataku setelah merapikan buku-buku pelajaran dan mengemasnya ke ranselku.
"Bagaimana kalau kau menginap?" Ucapnya saat aku hendak berdiri.
"Heh? Oh! Kurasa tidak perlu, lagian ini belum terlalu larut, mungkin lain kali saja" balasku tersenyum manis.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok disekolah" katanya yang juga tersenyum.
Aku segera berdiri dan melangkah keluar dari kamarnya, menuruni tangga spiral. Saat tiba di lantai bawah, aku berpapasan dengan kakek Ronnie, orang tua yang terkenal seantero kampung karena kekayaannya. Yang kuingat namanya Pak Wijaya. Ia memakai kacamata bulat, sedikit turun kebawah hingga menyangga pada batang hidung bengkoknya. Ia menatapku dari atas kebawah seperti menilaiku, aku menunduk sopan.
"Night grandpa" sapa Ronnie dengan aksen British.
"Malam Cucuku, eyang pikir kau tidak memiliki teman" ucapnya tersenyum ramah pada Ronnie kemudian kembali menoleh kearahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystery of Love
RomanceWARNING!!! Cerita ini mengandung unsur Gay atau Homosexual. Namun, saya membuka cerita ini bagi siapa saja yang ingin membacanya, baik itu Homosexual, Bisexual maupun Heterosexual. Saya membuat cerita ini se-natural mungkin, menggambarkan kehidupan...
