Seperti Hawa atau Eve yang sangat menginginkan 'buah khuldi' di Taman Eden. Nafsuku sudah mencapai ubun-ubun, mataku gelap tidak lagi mampu membedakan mana yang baik, mana yang buruk. Kuabaikan larangan Tuhanku. Tapi bukankah ini memang Takdirku? Jika aku tidak memakan buah itu, apakah aku akan hidup di Surga selamanya? Ah! Maafkan aku Tuhan, yang masih saja mencari Pembenaran atas dosa yang kuperbuat.
...
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, persahabatanku dengan Ronnie menjadi semakin dekat. Banyak waktu yang telah kami habiskan bersama, ia pernah mengajakku ke Kota Kabupaten menggunakan mobilnya, mengunjungi Mall, Alun-alun, Pasar malam, Pantai, atau menghabiskan malam di Warkop. Menginap di rumahnya, mengganggu Mbok Emi yang latah-tukang masak di rumah Ronnie- ketika sedang memasak. Bagian paling favoritku adalah saat Ronnie memepet tubuhku ketembok lalu menggelitik pinggangku tanpa ampun.
Aku menuju kehancuranku sekarang, menyakiti diriku sendiri, menggantungkan hatiku padanya adalah keputusan terbodoh yang pernah kubuat. Biarlah, aku akan memikirkannya nanti, toh bersamanya atau tidak aku tetap mencintainya, hatiku telah memilihnya. Haruskah aku merasa bersalah karena mengkhianati Persahabatan kami dengan rasa cintaku? Kurasa tidak, Cintakulah yang datang lebih dahulu dari persahabatan ini. Seharusnya aku menolak persahabatan ini, tapi jika aku menolaknya, akankah kami jadi sedekat ini? Kedua pilihan itu sama saja. Sama-sama membunuhku.
Saat ini Aku dan Ronnie sedang duduk saling berhadapan di kantin sekolah, menikmati Bakso kesukaanku buatan Bu Sam, sementara Ronnie asik dengan Mie Ayamnya.
"Hari minggu ini, bagaimana kalau kita memancing di Danau? Kudengar pemandangan disana indah dan airnya jernih" ujarnya
"Mmm kedengarannya asik, disana memang sangat indah kau bisa berenang kalau mau" jawabku membuat mata Ronnie berbinar.
Tiba-tiba Nina dan Gufran menghampiri kami, "kalian seperti orang pacaran saja, lengket teruus" aku mengaminkan perkataan Nina barusan dalam hati, sedangkan Ronnie tertawa renyah.
Selesai makan, kami kembali ke kelas, lima menit lagi Pelajaran Fisika akan dimulai. Ngomong-ngomong, banyak perubahan yang terjadi pada Ronnie, ia semakin rajin, tidak pernah terlambat, selalu mengerjakan tugas, mengerjakan kuis dengan baik, membuatnya benar-benar nyaris sempurna.
Bell pulang berbunyi, membuat beberapa suara siswa bersorak girang, kelas sudah hampir kosong sementara aku masih mengemas buku-bukuku. Kulihat Ronnie menghampiriku mengajaku keluar,
"Sudah selesai? ayo kita keluar" katanya. Aku mengangguk.
"Zam, ada hal penting yang ingin kubicarakan" ucap Nina tiba-tiba.
"Oh baiklah, Ron kau duluan saja" kataku pada Ronnie. Ronnie menunjukkan ekspresi sedikit kecewa dan juga mimik tidak senang.
Semua siswa sudah pulang, hanya menyisakan kami berdua.
"Apa hal penting yang mau kau bicarakan? Tidak biasanya" tanyaku pada Nina.
"Ini sebenarnya Rahasia, tapi kurasa kau orang yang tepat, jadi kamu mau kan berjanji untuk menjaganya?" Tanyanya juga padaku.
"Iya aku janji, apa memangnya?"
"Ak... Aku sebenarnya menyukai Ronnie, kurasa... aku jatuh cinta dengannya"
Mendengarnya, aku mengerang dalam hati, kepalaku rasanya seperti ditimpa beban yang sangat berat, sejenak aku tidak bisa mencerna ucapannya. Ingin rasanya aku berteriak tepat diwajahnya 'DIA MILIKKU, KAU JANGAN COBA MENGAMBILNYA!!!'. Tapi apa yang membuatku pantas untuk mengucapkannya?
"Azzam? Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya menyadarkanku
"Eh ya... Benarkah?"
"Iya, karena kau teman dekatnya, maukah kau membantuku mendekatinya?" Jalang!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystery of Love
RomanceWARNING!!! Cerita ini mengandung unsur Gay atau Homosexual. Namun, saya membuka cerita ini bagi siapa saja yang ingin membacanya, baik itu Homosexual, Bisexual maupun Heterosexual. Saya membuat cerita ini se-natural mungkin, menggambarkan kehidupan...
