Sejak kejadian malam itu Allie selalu merasa takut saat berada disekitar Shawn, ia selalu mengira sewaktu-waktu Shawn bisa menyakitinya. Seperti pagi ini, Allie tidak beranjak dari kamarnya untuk memasak jika Shawn masih duduk di dapur memperhatikannya. Shawn sendiri menyadari kalau Allie tengah menghindarinya, tentu saja ia merasa frustasi karena itu. Menyadari Allie tidak kunjung turun ke dapur, Shawn menuju ke kamarnya, menunggu Allie mengetuk dan memanggilnya saat sarapan sudah siap.
Allie sedikit mengendap-endap menuruni tangga, ia menghela napasnya saat tidak mendapati Shawn di meja makan, ia segera ke dapur menyiapkan bahan makanan dan mulai memasak sarapan. Setelah Allie selesai menghidangkan sarapan di meja makan, ia segera naik ke kamar Shawn dan mengetuknya dengan perasaan was-was.
"Shawn, sarapan sudah siap, turunlah!" Seru Allie sembari mengetuk pintu kamar Shawn.
Tanpa menunggu jawaban, Allie langsung turun kembali ke meja makan. Beberapa saat, Shawn juga bergabung, ia sudah rapi dengan pakaian kantornya. Suasana canggung seolah menyelimuti mereka, sesekali Shawn melirik ke arah Allie, begitupun dengan Allie. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, Allie cepat-cepat mengalihkan matanya ke arah lain sedangkan Shawn tidak, dia menatap Allie lama membuatnya salah tingkah.
"Sampai kapan kau akan mengacuhkanku seperti ini?" Tanya Shawn. Allie hanya diam, menatap ke arah lain. Karena lama tidak di respon, Shawn menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Aku akan menjemputmu untuk makan siang"
"Aku makan siang di apartemen saja" suara Allie akhirnya.
"Tidak bisa"
"Aku mau makan siang di apartemen, kau bisa makan siang sendiri" timpal Allie lagi.
"Ini terakhir kali aku mendengarmu membantah Allie, bisakah kau hanya menurutiku atau-"
"Atau apa? Kau akan memukulku? Atau membunuhku? Katakan Shawn apa yang kau mau dariku? Siapa kau sebenarnya?" Sergah Allie.
"Kau akan tahu, tapi bukan saat ini" ucap Shawn lalu menghilang dibalik pintu. Allie mengacak-acak rambutnya frustasi.
Alunan musik klasik pada Vinyl menemani Allie yang tengah membereskan apartemen, meski hidup di dunia yang serba modern, Allie lebih suka mendengar musik melalui piringan hitam itu, baginya musik yang keluar terdengar lebih real, apa lagi musik yang diputar adalah musik-musik klasik, seperti karya Beethoven, Hydn atau Mozart. entah kenapa ia sangat menggilai genre itu. Seolah Simfoni-simfoni itu dapat menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau.
Saat membersihkan kamar Shawn, Allie teringat kejadian beberapa hari lalu. Pagi hari pasca ia mendengar Shawn mengamuk, ia mendapati kamar Shawn benar-benar berantakan seperti kapal pecah, barang-barang berhamburan dilantai, pecahan cermin berserakan. Melihat itu, membuat Allie kembali bertanya-tanya, 'kenapa Shawn bersifat terlalu protektif? Apa dia menyukaiku? Tapi dia sudah memiliki kekasih' ia kembali teringat ucapan Ansel, 'Mungkin dia adalah orang gila yang terobsesi padamu'.
Bagaimanapun Allie tidak bisa mengabaikan hatinya yang berdebar setiap kali Shawn berada disekitarnya, tidak mampu menahan wajahnya yang memerah saat Shawn bersikap posesif padanya, ia seperti akan meleleh saat Shawn menatapnya. 'Sial, kenapa aku malah merasa seperti ini? Bahkan aku belum mengenal siapa dia sebenarnya'.
Saat jam makan siang, Shawn menjemput Allie seperti biasa, dia hanya menurut, karena ia tahu Shawn tidak bisa ditolak. Sikap Shawn semakin protektif dan posesif padanya. Bahkan ia tidak segan menghardik orang yang dengan jelas memperhatikan Allie.
"Apa yang kau lihat? Kau mau aku mengeluarkan biji matamu?" Hardik Shawn pada seorang pria yang baru saja menelanjangi Allie dengan tatapannya. Selain itu, tangan Shawn tidak pernah lepas dari pundak Allie, seperti mengklaimnya pada dunia bahwa Allie adalah miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystery of Love
RomanceWARNING!!! Cerita ini mengandung unsur Gay atau Homosexual. Namun, saya membuka cerita ini bagi siapa saja yang ingin membacanya, baik itu Homosexual, Bisexual maupun Heterosexual. Saya membuat cerita ini se-natural mungkin, menggambarkan kehidupan...
