"Balik coi." Pamit Arsen. Altha lempar senyum manisnya ke arah anak-anak lain, termasuk Tama.
"Yoi bos." Tara ngejawab pamitan Arsen.
"Ati-ati lo bedua." Tambah Tara. Altha lambai-lambai tangannya lucu. Suara deru mobilnya Arsen berhasil ngebuat Tama balik ke bumi.
"Gak usah merana gitu dong, Tam." Goda Antara sambil noelin dagu lancipnya Tama.
"Bacot lo bang." Ngedengus kesel, Tama langsung masuk kosan Candra, ninggalin Tara yang senyum-senyum kayak orang goblok.
"Baca situasi ga lo bang?"
"Tama bete parah. Cemburu juga tuh dia." Sahut Candra tiba-tiba. "Lo ngerti tah Can?" Ngangguk acuh terus nyusul masuk Tama ke dalem.
"Tama masih suka tah sama Altha?" Tanya Antara penasaran. Belum sempet Tara jawab, Naufal yang ada disamping Antara langsung noyor kepalanya. "Sayang, kamu goblok sih. Masa ga bisa liat tatapannya Tama ke Altha?"
Ngelus kepalanya, Antara senyum-senyum. "Ya aku kan tanya lho kebenarannya. Aku tau kok kalo Tama emang masih sayang sama Altha."
"Ga perlu jelasin lagi dong gua." Tara merasa mulai dikacangi. Tau kok dia jomblo, tau kok beloman di notis Candra. Tara mah apa, cuma butiran debu kalo deketan sama Antara, Naufal yang super romantis. Jadi iri deh.
"Ajak Tama balik sana. Besok kuliah kan lo?"
"Yoi."
"Matkul paan?"
"Psikologi umum bos."
"Sana caw balik ke sarang."
"Emang gua burung?"
"Bentukan lo kek burung geh Tar."
"Bangsat."
Naufal cuma geleng-geleng kepala aja liat dua orang di sampingnya ini debat. Padahal debatnya sama sekali ga penting.
"Tar, balik. Gua mau ngeprint makalah." Tama dateng, bawa bungkus cheetos sisaan Naufal tadi.
"Masyaallah Tam. Dah 18 masih kemana mana bawain bungkus cheetos. Malu sama burung."
"Bodo, yang penting pinter."
"Ya Tam iya, lo pinter." Tara muter matanya kesel terus naik ke jeepnya diikuti Tama. Sementara Antara sama Naufal stay disana dulu buat bersihin kontrakannya Candra. Sebagai yang dewasa, sadar diri aja kalo tipikalnya Tama sama Tara ga bakal mau bantu bersihin kalo gak disuruh.
"Cabut dulu bos."
"Ati-ati. Awas ada razia jomblo."
"Sabar, sabar. Belum aja tau di sleding emang." Tara misuh misuh sedangkan Tama udah murung sambil nempelin pipinya ke kaca mobil.
"Galau teros mamang."
"Bacot."
-------
Bohong kalo Arsen tadi bilang mau balik. Nyatanya sekarang dia lagi di depan konter starbuck buat mesen minuman sama cemilan kecil. Udah dibilang kan dia bakal ngomongin sesuatu sama Altha? Ya itu tujuannya kesini.
"Acai mixed berry yoghurt frapuccino sama Cascara cold foam cold brew masing masing satu ya mba."
"Atas nama siapa ya kak?"
"Acainya atas nama Altha, terus Cascara nya atas nama Arsen." Jawabnya ramah. Si mbanya udah senyum-senyum sendiri liat kliennya.
"Mau sekalian sama muffin atau cookiesnya kak?"
"Boleh deh. Muffinnya 2 sama cookiesnya 2 ya mba."
"Totalnya 210.000 ribu kak. Pesanannya nanti diantar ya kak."
"Oh iya ini." Arsen ngasih uangnya terus keluar dari sana. Kebetulan Altha minta duduknya diluar biar bisa ngerasain udara seger.
"Tha, udah ngantuk ya?"
"Belum kok kak." Altha senyum, berusaha nutupin mata sayunya dengan liat sekitar.
"Maaf kalo kakak ambil waktu istirahatmu."
"Gak papa kok kak. Santai aja." Padahal dalem hati Altha udah teriak pengen pulang karena makalahnya belum dikasih kesimpulan.
"Kakak mau ngomong sama kamu." Mode udah mulai serius, bikin cowok manis itu langsung deg-deg gak karuan.
"M-mau ngomong apa kak?" Arsen kekeh pelan liat adek tingkatnya yang gugup. Belum aja di eksekusi, eh si adeknya udah gugup aja.
"Ini soal-. . ."
"Atas nama Arsen dan Altha?"
Ya tuhan.
Mau ngomong aja di potong gini.
"Iya mba." Si mba nya senyum, taroin semua pesenan Arsen terus permisi buat pergi.
"Kakak mau ngomong apa ke aku??" Mendadak suasana jadi serius lagi. Arsen nyedot minumannya sekali terus natap Altha serius.
"Kita udah sebulanan lebih kenal, dek."
"Terus?"
Ngomong ga ya, ngomong ga ya.
Ngomong aja kali ya.
Mau ngomong tapi kok kesannya cepet banget. Baru juga kenal sebulan, masa udah mau confess perasaan aja. Nanti gimana kalo Altha nganggepnya gak serius? Alias cuma buat mainan aja?
"Kakak hm-. . ."
"Kakak kenapa sih?" Altha gak sabaran banget. Bukan gak sabaran, dia tuh lebih ke penasaran aja soal apa yang mau Arsen omongin sampe repot-repot bawa tempat begini.
"Kakak sayang kamu."
DEG
Altha mendadak bisu, gak bisa lagi mau ngomong begitu denger ungkapan kakak tingkatnya itu. Sekarang, Arsen berasa pengen tenggelem aja di kolam renang rumahnya. Merasa goblok banget mulutnya karena berani ungkapin perasaannya cepet-cepet.
"Tha?"
"Huh-?"
"Kamu mau jadi pacarnya kakak?"
Sekarang, Altha luar biasa bingung.
Bingung mau kasih jawaban apa buat Arsen. Sebenernya, bingung itu karena disatu sisi dia masih baru kenal Arsen, belum lama. Tama dulu sebelum nembak aja, udah kenal Altha dari bentuk embrio. Istilahnya, Tama udah tau gimana Altha luar dalem. Dan sisi lain hatinya, Altha pengen ngaku soal,
dia masih sayang sama Tama.
Walaupun Tama sempet nyakitin dia.
Altha sayang Tama.
Bukan Arsen.
Itu kejujuran yang Altha pendam selama ini.
"Altha, would you be mine?"
Berasa udah kena serangan jantung 2 kali begitu denger ungkapan spontannya Arsen.
"A-aku. . . boleh gak kalo aku gak kasih jawaban dulu buat sekarang kak? Aku masih harus mikirin semuanya. Ini terlalu cepat dan mendadak buat aku." Arsen agak kecewa sama jawabannya Altha. Sebenernya ya salah dia juga karena terlalu buru-buru. Arsen juga kalo boleh jujur, ya dia cemburu liat kedekatan Altha sama Tama yang menurutnya kadang gak wajar buat temen.
"Ya udah, kamu bisa kasih jawaban ke kakak kapan kamu siap. Tapi, kakak boleh nunggu gak? Kakak nunggu jawaban kamu 2 minggu ini."
Sekali lagi, ada rasa gak enak nyergap hatinya Altha.
--------
Wagelaseh gua ngapalin banget mba-mba starbuck ngomong gitu :<
Arsen udah ngungkapin perasaannya. Kira-kira, Altha bakal nerima atau gak?
Tunggu double up selanjutnya bos!
Komen jan lupa okaaayyy :")
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan +bts
Short Story[ Written in Bahasa ] Althafandra Adhiyaksa, mantannya Tama Anggara Wirayuda pas masa SMA. Mereka dipertemukan kembali di bangku kuliah, di fakultas yang sama. Lalu ada Arseno Putra Siregar, kakak tingkat cengengesan yang jatuh cinta sama Altha. Ki...
