0.21 + upaya move on.

2.6K 671 12
                                        

Dua minggu pasca perayaan hari jadi sebulan hubungan Arsen sama Altha, perlahan semuanya balik jadi kayak biasa. Tama udah bisa sedikit nerima kalo Altha udah punya orang lain. Semua itu cuma masalah waktu aja sih. Tunggu aja, bakal ada waktu dimana semuanya bakal bener-bener biasa.

Jam kedua ada matkul psikologi komunikasi, dan udahnya bakal ada kumpul himpunan mahasiswa Psikologi di ruang 1.6-1.8 yang katanya bakal ngebahas acara tes wawancara buat masuk organisasi gitu. Kebiasan Tama kala senggang itu apa lagi kalo bukan nyebat di basement gedung kuliahnya bareng Tara, sohib kentelnya.

"Balik ini lo kemana, Tar?" Hisap rokoknya sekali dan buang asapnya lepas. "Gatau." Tara jawab cuek terus hisap rokoknya dalam dalam. "Gua mau kumpul organisasi. Anak hukum apa gak ada kegiatan tah?"

"Ada."

"Gilasih jutek amat, Surimin."

"Bacot. Nama gua udah bagus jadi Tara, bukan Surimin." Kayaknya Tara lagi bete. Buktinya jawabnya gitu. Tama kenal Tara, udah lama. Tara kan anaknya girang, tapi bukan kayak om girang. Serius, Tara mungkin ada sesuatu dibalik masalah internalnya.

"Lo ngapa sih?"

"Gapapa." Tama muter matanya, kesel juga liat tanggepan Tara yang kayak tai kotok gini.

"Eh, babi. Gua kenal lo yang sebulan dua bulan. Kalo ada apa-apa tuh cerita. Apa gunanya lo punya gua kalo lo aja jarang berbagi masalah lo?"

"Yaudah." Hela nafasnya dalam-dalam, Tara angkat bicara. "Gue cemburu. Sumpah."

"Sama?"

"Bang Candra. Pagi ini gua liat dia turun dari mobil temen seangkatan gua."

"Siapa si?"

"Duh, males gua mau sebut namanya. Gak sudi."

"Cia, punya rival sekarang." Tama ketawa keras-keras. Kayaknya baru kali ini Tara kusut cuma gara-gara cinta. Kan cinta tuh kadang bikin semuanya mess up.

"Candra yang segitu galaknya ada aja yang deketin." Bahu Tara di tepuk singkat dan Tama sipitin matanya waspada. "Lo gak gercep, yakin gua Bang Candra jadi punya rival lo."

"Duh, anjing sumpah."

Siapa cepat dia dapat, Tar.

-----

"Yo, jadi gini ye. Buat adek-adek semester satu, sabtu minggu ini, kalian ada tes wawancara buat masing-masing bidang atau departemen." Jelas Arsen di depan kelas sembari merhatiin adek-adek gemes yang masih plonga-plongo aja.

"Pokoknya, sabtu ini klen dateng ke kampus, ke Laboratorium Psikologi di gedung C ya. Sampingan pas sama kantor dosen. Pake baju rapih, siapin mental. Karena wawancara ini gak mudah dan ini bener-bener nentuin gimana kalian 2 tahun ke depan." Anggukan anak semester 1 langsung bikin ketua himpunan ganteng itu lempar senyum manisnya.

"Ada yang beloman ngerti disini??"

"Aku kak!"

Altha nunjuk, siap buat nanya.

"Ada gak yang harus dipelajarin buat hari sabtu?" Baru Arsen mau jawab, omongannya dipotong sama Liliana yang langsung ambil posisi di buat jawab pertanyaan dari Altha.

"Gak perlu belajar banyak kok, dek. Kalian cuma harus tau organisasi itu apa, alasan kalian milih bidang itu kenapa terus ditanya pengalaman organisasi pas sekolah. Gitu doang kok sebenernya. Paham gak??" Jabaran Liliana sontak bikin semua anak ngangguk. Sebenernya ada yang ngangguk paham, ada yang angguk takut. Ya gimana, Liliana orangnya tegas dan terkesan galak kalo beloman kenal. Mungkin kalo udah kenal, dia sama aja kaya Arsen.

Humornya kayak anak twitter, receh tapi klesi yeu.

"Izin tanya, kak."

Gantian, kali ini Tama yang tanya.

"Kita milih kan mau masuk bidang mana nanti, kak?" Liliana angguk, "Iya dek. Jadi, nanti kalian bakal dikasih selembar formulir pendafaran, dimana disitu kalian bakal ngisi bidang yang diminatin. Paham?"

"YA KAKAK! KAMI PAHAM!".

"Bagus-bagus." Liliana undur diri, digantiin sama Arsen yang berdiri tegap di depan kelas. "Jadi itu aja yang kita sampein disini. Jangan lupa hari sabtu jam 8 udah disini ya. Wawancara mulai jam setengah 9 pagi. Wassalamualaikum adek adek."

"Waalaikumsalam kakak!"

Semua anak udah bubaran, berisik kayak gerombolan wawung. Sisa 4 orang di ruangan. Ada Arsen, Tara, Tama sama Altha. Dua sohib kentel itu udah tatap-tatapan mata, ngode buat cabut dari dua manusia lovey dovey itu.

'Cabut, Tam.'

'Ayo, Tar. Ogah gua jadi nyamuk disini.'

Gitu kira-kira yang diomongin lewat tatapan mata mereka.

Gendong ransel, siap siap buat cabut-

"Tama, tunggu bentar."

Gagal bangsat mau cabut.

"Tara pulang duluan aja gapapa."

"Duh, gua gak bawa kendaraan nih."

"Pulang bareng gua lah Tar."

Cie.

"Tama sama Altha tolong ke Lab. Psikologi, beresin apa-apa yang diperluin buat besok."

"Tapi kak-." Altha nyanggah perintah pacarnya. Takut natap Arsen. "Gak apa apa. Kakak percaya sama Tama kok. Kamu kesana bareng Tama, bantuin dia beresin Lab. Kakak mau balik karena ada urusan mendadak yang gak bisa ditinggal sekalian nganter Tara. Kunci Lab nanti minta ke sarpras ya, terus baliknya kamu bawa."

Tama narik nafasnya dalam dalam. Tau gini jadinya, mending dia sendiri aja beresin Lab. Beneran diluar perkiraan kalo Arsen bakal nyuruh pacarnya ngikut.

Kacau, kacau.

Upaya Tama buat move on, jadi kacau.

Karena diobrak-abrik sama senyum lugunya Althafandra Adhiyaksa, mantannya sendiri.

-----

Mantan +btsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang