0.22 + ungkapan mendadak.

3K 742 136
                                        

Di lab berdua, sepi, dingin.

Senja udah turun dari tadi, digantikan sama cahaya Luna yang nerangin bumi. Selama dua nyaris tiga jam beresin laborat, sama sekali gak ada omongan kecuali suara berisik dari Altha yang sibuk nyapu ruang per-ruangan di lab.

Jujur dari dalam hati sekalipun, Altha pengen bisa ngobrol asik sama Tama. Tapi yang ada, canggung. Demi kraken, mau mulai suatu hal kecil pun rasanya aneh, canggung luar biasa karena ya, you know kan hubungannya sama Tama udah gak sebaik awal dulu jadi maba. Walaupun Altha tau kalo akhir-akhir ini, mantan pacarnya itu lagi nyoba buat perbaikin hubungan yang sempet renggang.

"Tha, ayo balik."

"Huh- udah selesai memang?"

"Udah. Ayo, udah malem." Tama siap siap, ambil tas terus mulai matiin ac setiap ruangan.

Ada sesuatu yang mau Altha tanyain ke Tama malam ini.

"Tam, aku mau nanya ke kamu?"

"Tanya apa?" Cuek, terkesan dingin, bikin Altha makin segan buat mulai omongan.

"Uhm, bisa kita ngobrol 4 mata di dalam ruangan. . .?"

"Kenapa gak disini aja?

"Tama, please."

Kalo gini, sumpah gak bisa buat nolak maunya Altha.

"Gua tutup pintu Lab nya dulu biar gak ada orang masuk, baru kita ngobrol 4 mata di dalem."

-----

Remang, menjurus ke gelap. Duduk berdua saling berdampingan. Pintu ruangan ke tutup, berhasil mempengaruhi suasana. Sunyi, senyap. Di menit ke lima belas, Altha belum mulai omongannya.

Sulit buat mulai.

Lidah seakan kaku buat ngomong.

"Tha, mau ngomong apa?" Inisiatif, Tama mulai omongan lebih dulu.

"Aku mau ngomong sama kamu." Jeda sebentar, Altha perbaikin posisi duduknya jadi hadap ke Tama. "Soal perasaanku."

DEG

Kening Tama ngerinyit bingung begitu tau kemana arah omongan ini bakal dibawa. Apa yang mau mantannya sampein soal perasaan dia coba? Bahkan sekarang Altha lagi pacaran sama Arsen. Berdua begini, rasanya sedikit melenceng.

"Aku-. . . ."

Beraniin diri, beraniin diri Altha. Semua ini buat kedepannya.

"Tamaakumasihsayangsamakamu!"

"Hah?"

Buset, ngomong kok secepet shinkansen.

"Ngomong apasi Tha?"

"PokoknyaakumasihsayangsamakamuTama."

"Selow anjir." Sumpah geregetan banget rasanya. Altha kalo lagi gugup ngomong emang kayak shinkansen, cepet banget sampe gak kedenger. "Pelah Tha omongnya. Gua kan bingung nih jadinya."

Altha langsung tarik nafasnya dalam-dalam, nyiapin diri bener-bener. Dia udah mikirin buat ungkapin ini semuanya, berikut sam efek baik buruk pasti bakal ada dan diterima dengan sepenuh hati.

"Tama, maaf."

"Kok maaf, Tha?"

"Iya, aku minta maaf."

"Jangan berbelit-belit, Tha."

Mulai serius, man.

Mendadak, situasi yang tadinya mulai cair, sekarang balik jadi tegang. Tama kalo serius, pasti serius bener.

"Tam, aku minta maaf kalau sampai detik ini masih simpan perasaan ke kamu."

Anjing. Apaan.

"Maksudmu apa, Tha?" Tama ubah posisi duduknya, kini penuh hadap ke Altha yang lagi nundukin kepalanya, tatapi kedua tangan yang saling meremas.

"Tama, aku masih sayang kamu."

Semuanya gak pernah ada diekspektasi Tama soal Altha bakal ungkapin perasaannya begini. Karena cowok itu pikir kalo selama 1 bulan lebih hubungan mereka kejalin, Altha kelihatan bahagia sama Arsen.

"Omongan mu, tolong ditarik kembali, Tha." Berusaha untuk gak bawa Altha ke rengkuhan, Tama bangkit, baru sentuh kenop pintu, tangannya ditarik, dan sisanya sialan.

Altha peluk Tama erat-erat, gak berniat buat ngelepas, sama sekali.

Diam, gak berniat buat nolak sekaligus terima apa yang Altha lakuin. Karena disini semuanya lagi diuji. Hati dan logikanya seorang Tama lagi diuji mati-matian sama Althafandra.

"Tha?"

"Aku. . . . terpaksa sama kak Arsen." Pelan, takut kalau-kalau Tama marah soal kepura-puraannya selama satu bulan terakhir ini.

"Kenapa baru akuin sekarang?"

"Karena aku takut kamu marah kalau tahu yang sebenarnya, Tam." Eratin pelukan, sukses bikin Tama tergugu. Dia total ragu mau balas pelukan Altha karena dia sekarang sepenuhnya sadar kalo Altha bukan lagi miliknya.

"Arsen gak tau masa lalu kita, Tha." Semuanya keucap gitu aja, total alihin semua atensi yang si manis punya ke arah mantannya. "Cuma gak mau memperburuk semuanya. Arsen anti pakai bekas sahabatnya sendiri." Tama terkekeh, mau mundur buat lepas pelukan, tapi ditahan Altha. Cowok mungil itu makin erat kasih pelukan seolah gak mau lepas Althar. "Kamu sempet jadi punyaku, Tha. Tapi kamu sekarang udah punya Arsen."

"Aku kangen."

Semua usaha yang dibangun susah-susah buat move on dari nol, sekarang total hancur, gak bersisa.

Tangan Altha raba pipi tirus Tama, ngarahin supaya Tama tatap paras manis yang pernah hiasin hidup keturunan Wirayuda selama masa putih abu-abu.

"Aku kangen Tama Anggara Wirayuda, sangat."

Semuanya diluar perkiraan, Altha memulai semuanya. Dia milih buat lepas rasa rindunya dengan kecupan lembut di bibir Tama. Mereka berdua ciuman, setelah terakhir ngelakuin dulu pas era putih abu-abu.

-----

TERIAK AQ MEMBUAT PART INI HWHW

FINALLY, ALTHA CONFESS SOAL PERASAANNYA. MON MAAP, AQ UDA GEREGETAN SOALNYA HNG.

Tapi, sad, aku gak bakal buat mereka bahagia secepat kilat. Karena aq suka menyiksa klen heuheu.

Bisa update setelah free tugas. Lanjut mau gak ini?

Mantan +btsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang